Masa kecil saya penuh kenangan manis. Itulah berkah hidup di kampung kecil di pesisir timur Sulawesi Tengah. Sekarang adalah wilayah Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong.
Tiada bisa saya tuturkan satu demi satu. Cukuplah kisah buah jambolan ini yang mewakili.
Alkisah, ada satu pohon jambolan berbuah lebat di dekat Sekolah Dasar Inpres Dolago. Jambolan yang berasa sepat-sepat manis dan masam itu tumbuh di halaman belakang rumah Mama Arsi.
Di kampung, kami menyebut buah ini sebagai halicope. Oleh sebab orang tua saya adalah ustadzah dan ustadz, sapaan karib untuk guru agama di kampung, saya seperti diberi “izin khusus” untuk dapat memanjat pohon halicope itu. Maka jadilah saya kerap menikmati sepat manis dan masamnya sembari duduk di dahan kokoh tanaman asal Asia Selatan dan Asia Tenggara ini.
Lantaran itu, selain bernoda tinta pulpen Hero, noda halicope melekat pula di seragam SD saya. Untung ada sabun cap tangan merek sunlight yang bisa melawan nodanya, meski tak terlalu bersih sangat.
Pendek kata, makan buah tropis ini di dahan yang kokoh jadi salah satu kenangan manis anak-anak kampung di masa itu. Belum ada gawai pintar, belum ada pula gameboy, apalagi PlayStation.
Saat kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu, saya kerap membelinya dari warga Tondo yang menjajakannya di depan rumah. Berlimpah. Itu lantaran pohon pelindung utama yang ditanam di sepanjang jalan adalah tamanan buah berwarna campuran hitam dan marun ini.
Ada pula kisah, saat dapat beasiswa dari Temasek Foundation untuk belajar di Institute of Policy Studies, Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, 2019 saya bertemu lagi dengan halicope. Di Tekka Center, pusat komunitas India di Sherangoon Road, Little India, saya bersua Jamun. Begitu orang India secara umum menamainya. Orang Tamil menamainya naaval.
Namun, saat itu, saya tak membelinya. Saya pikir, masa jauh-jauh dari Parigi cuma datang mau beli halicope di Singapura?! Apalagi rasanya pasti masih sama: Sepat-sepat manis dan masam. 😂.
Nah, Sabtu, 29 November 2025, saya bersua buah khas ini sebagai jamblang di seputaran Kebon Melati, Jakarta Pusat. Seorang penjaja keliling menawarkannya.
Untuk jadi pengetahuan, Jamblang, jambu keling atau duwet yang bernama Latin Syzygium cumini adalah sejenis pohon buah dari suku jambu-jambuan (Myrtaceae). Tumbuhan berbuah sepat manis dan masam ini dikenal pula dengan berbagai nama seperti jambee kleng (Aceh), jambu kling, nunang (Gayo), jambu koliong (Riau), jambu kalang (Min.), jambulang, jambulan, jombulan, jumblang (aneka nama lokal di Sulut), jambulan (Flores), jambula (Ternate), jamblang. Juga jambu juwat, jiwat, jiwat padi, juwet atau duwet (Jawa), juwet, jujutan, juwet atau jowet (Lombok), dhuwak, dhalas, duwe (Bima), Rappo – Rappo (Selayar), Caloppeng (Soppeng) dan di Dolago, Parigi Moutong dinamai Halicope.
Sudah tahu kan riwayat halicope ini, bukan?! Terima kasih sudah membacanya. ***