Ada momen-momen tertentu dalam sejarah eksplorasi antariksa yang tidak selalu ditandai ledakan roket atau siaran langsung dramatis. Sebagiannya justru berlangsung sunyi, teknokratis, namun sarat makna strategis.

Uji coba yang dilakukan NASA pada 20 Desember lalu masuk dalam kategori ini: countdown demonstration test Artemis II—sebuah gladi bersih yang, bagi kalangan intelijen dan pengamat geopolitik ruang angkasa, adalah sinyal bahwa Amerika Serikat serius mengunci kembali orbit Bulan.

Tim peluncuran dan misi NASA, bersama awak Artemis II, menyelesaikan satu tahapan krusial menjelang penerbangan mengitari Bulan yang dijadwalkan awal tahun depan. Para astronot, didukung tim kendali peluncuran dan penerbangan, mengenakan baju peluncuran dan masuk kembali atmosfer, lalu menaiki wahana mereka di puncak roket raksasa Space Launch System (SLS) di Kennedy Space Center, Florida. Tujuannya satu: memvalidasi lini masa hari peluncuran, detik demi detik.

Jam dihitung mundur hingga titik tepat sebelum lepas landas. Latihan ini memungkinkan NASA mensimulasikan secara presisi seluruh prosedur yang akan dijalankan pada hari-H. Tidak ada improvisasi. Tidak ada asumsi. Semua harus berjalan seperti operasi nyata.

“Uji ini menandai tercapainya satu tonggak penting dalam perjalanan Amerika menuju landasan peluncuran,” ujar Administrator NASA, Jared Isaacman, dalam pernyataan resminya. “Masih banyak tahapan di depan, tetapi saya terdorong oleh keahlian dan presisi yang ditunjukkan tim kami saat melanjutkan warisan eksplorasi Bulan NASA yang ambisius.”

Pernyataan itu, bila dibaca dengan kacamata analisis strategis, bukan sekadar optimisme teknis. Ia adalah pesan konsolidasi: mesin negara, birokrasi sains, dan ekosistem industri antariksa AS bergerak dalam satu komando.

Sementara tim peluncuran menjalankan prosedur di ruang kendali Kennedy Launch Control Center, awak Artemis II—astronot NASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta astronot Badan Antariksa Kanada (CSA) Jeremy Hansen—mengenakan baju Orion Crew Survival System di Astronaut Crew Quarters, Gedung Neil A. Armstrong Operations and Checkout. Simbolismenya jelas: kolaborasi internasional, tetapi dengan komando utama tetap di Washington.

Setelah siap, para astronot menempuh rute yang sama dengan para pendahulu mereka dari era Gemini, Apollo, pesawat ulang-alik, hingga program Commercial Crew selama enam dekade terakhir. Dari ruang ganti, menyusuri lorong, turun lift, lalu keluar melalui pintu ganda yang dipenuhi emblem misi penerbangan manusia—sebuah ritual yang dirawat, karena tradisi adalah alat legitimasi kekuasaan.

Van Artemis menunggu di luar. Pada hari peluncuran nanti, perjalanan 20 menit akan membawa mereka ke Launch Complex 39B. Namun dalam uji ini, tujuan mereka adalah High Bay 3 di Vehicle Assembly Building (VAB), tempat roket Artemis II menjalani pemrosesan akhir. Konvoi kendaraan pendukung ikut mengawal, termasuk awak cadangan: astronot NASA Andre Douglas dan astronot CSA Jenni Gibbons. Redundansi adalah hukum besi dalam operasi strategis.

Di dalam VAB, awak naik lift mobile launcher hampir 300 kaki ke crew access arm dan White Room—zona steril tempat astronot memasuki wahana. Tim closeout membantu mereka masuk ke kapsul Orion yang diberi nama Integrity. Mereka dipasangi sabuk, palka ditutup, lalu dilakukan pemeriksaan kebocoran baju dan sistem komunikasi. Semua berlangsung seperti hari peluncuran sesungguhnya.

Selama pengujian, tim menjalankan 5,5 jam terakhir prosedur hari peluncuran dan menghentikan hitung mundur sekitar 30 detik sebelum waktu lepas landas. Sejumlah kendala real-time muncul—mulai dari komunikasi audio hingga sistem kendali lingkungan dan penunjang kehidupan—persis seperti skenario terburuk yang disiapkan dalam setiap operasi besar. Seluruh tujuan tercapai. Nilai utama uji ini bukan kesempurnaan, melainkan pembelajaran tanpa risiko politik.

Charlie Blackwell-Thompson, Direktur Peluncuran Artemis NASA, memantau langsung jalannya uji dari Firing Room 1, Rocco A. Petrone Launch Control Center. Meski sebagian uji hitung mundur pernah dilakukan sebelumnya, ini adalah pertama kalinya simulasi end-to-end dijalankan penuh dengan awak dan Orion dalam konfigurasi peluncuran. Setelah roket tiba di landasan, akan ada uji lanjutan dengan fokus pada operasi darurat—indikasi bahwa NASA mempersiapkan bukan hanya keberhasilan, tetapi juga skenario kegagalan.

Dalam narasi resmi, Artemis II disebut sebagai bagian dari “Zaman Keemasan inovasi dan eksplorasi.” Namun dalam pembacaan yang lebih dingin, misi ini adalah batu loncatan strategis. Artemis II adalah misi berawak pertama dalam kampanye Artemis—langkah awal menuju kehadiran permanen AS di Bulan, sebelum melangkah lebih jauh ke Mars.

Bulan, sekali lagi, bukan sekadar objek sains. Ia adalah panggung awal bagi kontestasi kekuatan besar di luar atmosfer Bumi. Dan lewat Artemis II, NASA mengirim pesan yang sulit disalahartikan: Amerika tidak berniat absen dari babak berikutnya. ***