Serial terbaru dari jafarbuaisme.com
“Darah di Tanah Warisan”
Bagaimana jika keluarga adalah sebuah negara kecil, dan darah menjadi mata uang yang paling sah untuk mempertahankannya?
Darah di Tanah Warisan adalah saga kriminal–politik berlatar Indonesia modern, ketika nilai-nilai adat lama—kehormatan, kesetiaan, dan sumpah darah—masih hidup dan menentukan arah kekuasaan. Cerita ini bergerak melintasi Bugis, Jawa, dan Sumatera, tiga dunia dengan cara berkuasa yang berbeda, namun sama-sama mematikan.
Di pusat cerita berdiri Daeng Ranrang Majestra, lelaki Bugis tua yang membangun imperium pelayaran gelap, logistik, dan “kesetiaan mutlak pada adat” tanpa banyak bicara. Ia tidak mengancam—orang lain melakukannya atas namanya. Baginya, kehormatan lebih berharga daripada hidup. Namun ketika tubuhnya runtuh, tatanan keluarga ikut goyah. Dan warisan mulai diperebutkan dengan cara paling purba: darah.
Tiga anaknya menempuh jalan yang saling berlawanan.
Arjuna, anak sulung yang ditempa dunia Jawa, percaya kekuasaan bisa direbut tanpa senjata—cukup melalui hukum, birokrasi, dan intrik politik.
Ranuma, anak tengah dari Sumatera, memilih cara paling langsung: uang, rasa takut, dan kekerasan.
Sementara Surajati, anak bungsu yang pendiam dan intelektual, justru pernah menolak dunia keluarganya. Ia kembali bukan karena ambisi, melainkan karena satu tragedi yang memaksanya memilih.
Surajati bukan pahlawan. Ia adalah orang yang paling tidak ingin memimpin. Namun justru dari sikap itulah lahir kekuasaan yang paling dingin dan berbahaya.
Di tengah perang saudara ini hadir Talita, jurnalis investigasi sekaligus kekasih Surajati—perempuan yang mencintai seorang lelaki tanpa sepenuhnya tahu siapa dirinya. Ada pula pengkhianatan dari Sumatera, sekutu beracun dari Jawa, aparat negara yang abu-abu, dan Nenek Bonea, penjaga adat Bugis yang ucapannya lebih ditakuti daripada peluru.
Sepanjang 25 episode, cerita bergerak perlahan namun kejam: sumpah di laut, pembantaian di pelabuhan, kudeta senyap, hingga penobatan tanpa mahkota. Setiap kemenangan selalu dibayar mahal. Setiap kesetiaan menuntut korban.
Ini bukan kisah tentang baik dan jahat.
Ini kisah tentang siapa yang mampu bertahan paling lama.
Dan ketika Surajati akhirnya berdiri di puncak kekuasaan, ia menang—namun sendirian.
Kuasanya utuh. Cintanya hancur. Dan darah, sebagai warisan, tak pernah benar-benar bisa dibersihkan.
Nantikan serial “Darah di Tanah Warisan” hanya di jafarbuaisme.com
Ikuti, baca dan jangan ketinggalan!