Kabut pagi menggulung lembut di bentang alam Lore Lindu, memeluk tiga lembah yang berbeda, Napu, Besoa, dan Bada, seolah menutupi rahasia ribuan batu monolitik yang berdiri sunyi. Cahaya surya yang menyusup di sela pohon hujan tropis mengungkap permukaan bebatuan tua yang lengket oleh lumut. Arca-arca berwajah bisu dan tempayan batu raksasa, yang disebut kalamba, berdiri tanpa suara di dataran aluvium, menunggu disentuh penelitian modern yang datang berabad-abad kemudian. Pada pandangan pertama, mereka adalah lanskap; pada pandangan berikutnya, mereka adalah sejarah yang tertulis dalam batu, bukan dalam kata di atas kertas atau dalam gawai pintar.
Kawasan yang menjadi salah satu enclave Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah adalah rumah dari salah satu tradisi megalitik terbesar di Indonesia, yang membentang di antara Lembah Napu, Lembah Besoa dan Lembah Bada. Penelitian arkeologi menunjukkan ribuan artefak megalitik, termasuk arca, kalamba, dolmen, menhir, hingga alat batu, tersebar pada lusinan situs dalam ketiga lembah ini, membentuk salah satu konsentrasi budaya batu prasejarah yang paling padat di Asia Tenggara. (Penerbit BRIN)
Menurut survei resmi pemerintah, jumlah artefak yang teridentifikasi mencapai lebih dari 2.000 benda yang tersebar di 118 situs pada empat kawasan utama termasuk Napu, Besoa, dan Besoa, serta Palu-Lindu. Dari angka ini, Lembah Besoa mencatat jumlah temuan tertinggi — sekitar 825 artefak di 32 situs, diikuti Napu dan Bada. (Infopublik)
Catatan Ilmiah Pertama: Adriani dan Kruyt di Akhir Abad ke-19
Bahasa dan pengetahuan lokal telah mengenal batu-batu ini jauh sebelum pencatat ilmiah datang. Namun dalam kerangka penelitian modern, nama Dr. Nicolaus Adriani dan Dr. Albertus Christiaan Kruyt menjadi kunci awal catatan tertulis megalitik di Lore Lindu. Pada 1898, melalui karya berjudul Van Poso naar Parigi, Sigi en Lindoe, keduanya merekam berbagai artefak batu dalam konteks etnografi dan observasi lapangan, termasuk batu-batu hidup di Napu, Besoa, dan Bada—meskipun belum dalam cara arkeologi analitik. (Brida Sultengprov)
Kruyt pun menulis artikel tambahan pada 1908 seperti “Nadere gegevens betreffende de oudheden aangetroffen in het landschap Besoa”, yang menguatkan posisi Besoa sebagai salah satu pusat budaya batu yang penting dalam studi awal kolonial. (Brida Sultengprov)
Keduanya mendokumentasikan fenomena yang sangat tua itu, dan memicu gelombang minat ilmiah terhadap wilayah ini di kemudian hari.
Kedatangan Kaudern dan Kelompok Peneliti Selanjutnya
Pionir arkeologi selanjutnya datang melalui ekspedisi Walter Kaudern, antropolog asal Swedia, antara 1917–1922. Kaudern adalah yang pertama kali secara sistematis mengukur, memetakan, dan menginventarisasi tinggalan megalitik di ketiga lembah, Napu, Bada, dan Besoa, dalam publikasi ilmiah yang kemudian menjadi landasan awal pemahaman arkeologi kawasan ini. (HeritageDaily – Archaeology News)
Selain Kaudern, penelitian lanjutan dilakukan oleh Balai Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Manado pada dekade 1990-an dan 2000-an, termasuk karya Dwi Yani Yuniawati Umar tentang kalamba dan budaya pemakaman batu yang juga menggambarkan tradisi kompleks komunitas masa lalu. (Unhas Repository)
Salah satu penelitian arkeologi utama yang menjadi standar ilmiah adalah artikel “Stone Vats (Kalambas) as One of Megalithic Remains in the Lore Valley, Central Sulawesi” oleh Umar, yang menjelaskan bahwa kalamba di Lembah Besoa dan lembah lain merupakan kuburan komunal berusia ribuan tahun, serta menyebar dengan karakteristik yang jarang ditemukan di tempat lain di Indonesia. (Ejournal Portal)
Berapa Usianya, Apa Fungsinya
Penanggalan radiokarbon (C-14) menunjukkan situs di Lembah Besoa, khususnya di lokasi Entovera, dekat Hanggira, Lore Tengah, telah dihuni sejak sekitar 2.170 tahun yang lalu, menjadikannya salah satu situs megalitik tertua di Nusantara. (Ejournal Portal)
Kalamba, bejana batu besar yang ditemukan secara luas, tampaknya berfungsi sebagai wadah pemakaman komunal sekunder, terkadang menampung sisa jenazah beberapa individu, bahkan keluarga besar, dalam satu struktur batu. Ini menunjukkan kompleksitas sosial yang mungkin melibatkan ritus kematian, penghormatan leluhur, dan stratifikasi masyarakat masa lalu. (Ejournal Portal)
Selain kalamba, artefak lain seperti arca muka manusia, menhir berdiri tegak, dolmen dan lumpang batu yang tersebar menunjuk pada variasi bentuk ekspresi budaya yang kaya di setiap lembah, baik Besoa yang padat situsnya, maupun Napu dan Bada yang juga memiliki kumpulan artefak signifikan dalam konteks distribusi budaya batu kuno. (Museum Nasional Indonesia –)
Meski jumlah dan jenisnya kini terdata cukup jelas oleh tim arkeologi nasional dan lokal, sejarah pembuat batu-batu ini tetap samar. Tidak ada catatan lisan konkret yang bertahan tentang identitas masyarakat pembuatnya, atau bahasa mereka, atau struktur politik yang mereka anut. Dan justru di sanalah letak daya tariknya: megalit Napu, Bada, dan Besoa bukan sekadar runtuhan masa lalu; mereka adalah waktu yang dibekukan.
Upaya kontemporer untuk mengakui kawasan megalitik Lore Lindu sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, meski masih masuk daftar sementara, menandai pengakuan terhadap nilai universal luar biasa dari temuan ini, sebagai bukti tradisi megalitik yang bukan hanya besar secara kuantitas, tetapi juga penting dalam memahami pola migrasi Austronesia, ritual pemakaman kuno, dan persebaran budaya batu di Asia Tenggara. (Penerbit BRIN)
Dari catatan awal Adriani dan Kruyt yang sederhana, hingga inventarisasi Kaudern yang sistematis, dan studi arkeologi modern yang ketat, Lembah Napu, Bada, dan Besoa kini berdiri sebagai tiga pilar utama warisan megalitik Indonesia di Sulawesi Tengah. Mereka menghubungkan masa kini dengan entitas manusia prasejarah yang telah memahat batu sebagai lambang ritual, sosial, dan spiritual.
Dan bila batu bisa bicara, itu adalah kisah tentang komunitas-komunitas yang hidup dalam ritme alam, bekerja bersama, dan memahat warisan mereka sendirinya, untuk dilihat ribuan tahun kemudian oleh manusia yang datang dengan rasa ingin tahu yang tak kunjung padam. Ini adalah warisan besar ilmu pengetahuan dari Sulawesi Tengah untuk dunia.
Daftar Referensi
Adriani, N., & Kruyt, A. C. (1898).
Van Poso naar Parigi, Sigi en Lindoe.
’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
→ Catatan perjalanan dan etnografi awal yang memuat observasi tentang batu-batu besar dan peninggalan kuno di wilayah Napu, Besoa, dan sekitarnya.
Kruyt, A. C. (1908).
Nadere gegevens betreffende de oudheden aangetroffen in het landschap Besoa.
Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG).
→ Artikel khusus yang memperkuat posisi Lembah Besoa sebagai pusat tinggalan megalitik yang penting dalam catatan kolonial awal.
Kaudern, W. (1925).
Ethnographical Studies in Celebes, Volume I–IV.
Göteborg: Elanders Boktryckeri.
→ Inventarisasi sistematis pertama terhadap megalit di Lembah Bada, Napu, dan Besoa, termasuk dokumentasi foto, pengukuran, dan klasifikasi artefak.
Umar, D. Y. Y. (2013).
Stone Vats (Kalamba) as One of Megalithic Remains in the Lore Valley, Central Sulawesi.
Berkala Arkeologi, Pusat Riset Arkeologi BRIN.
→ Kajian mendalam tentang fungsi kalamba sebagai kubur komunal dan konteks ritualnya di Napu, Besoa, dan Bada.
Umar, D. Y. Y. (2020).
Megalitik Lore Lindu: Sebaran, Tipologi, dan Makna Budaya.
Disertasi / laporan penelitian, Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.
→ Analisis komprehensif mengenai persebaran situs dan makna sosial budaya megalit Lore Lindu.
Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. (2019).
Laporan Penelitian Arkeologi Kawasan Megalitik Lore Lindu.
Makassar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
→ Data resmi hasil survei dan ekskavasi arkeologi di Napu, Bada, dan Besoa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2022).
Megalitik Lore Lindu dalam Perspektif Arkeologi Indonesia.
Jakarta: BRIN Press.
→ Sintesis riset arkeologi nasional terkait Lore Lindu dan posisinya dalam tradisi megalitik Asia Tenggara.
UNESCO World Heritage Centre. (2023).
Tentative List: Lore Lindu Cultural Landscape.
→ Dokumen pengusulan kawasan Lore Lindu sebagai Warisan Dunia, termasuk justifikasi nilai universal luar biasa situs megalitiknya.
Whitten, T., Mustafa, M., & Henderson, G. S. (2002).
The Ecology of Sulawesi.
Singapore: Periplus Editions.
→ Referensi penting untuk memahami konteks ekologis dan lanskap budaya tempat megalit berkembang.
Heritage Daily. (2021).
The Lore Lindu Megaliths of Central Sulawesi.
→ Ringkasan populer-ilmiah berbasis riset arkeologi modern mengenai megalit Napu, Bada, dan Besoa.