Tulisan tangan dokter yang kerap sulit dibaca bukan sekadar mitos atau bahan candaan publik. Fenomena yang sering disebut sebagai “tulisan cakar ayam” ini memiliki latar belakang ilmiah dan sistemik yang berkaitan erat dengan tekanan kerja, kebiasaan profesional, hingga cara kerja otak dalam situasi klinis.

Dalam praktik medis, dokter dihadapkan pada tuntutan pengambilan keputusan yang cepat dan akurat. Fokus utama mereka adalah mendiagnosis penyakit, menentukan terapi, dan menyelamatkan nyawa. Dalam kondisi demikian, aspek keterbacaan tulisan sering kali menjadi prioritas sekunder.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beban kerja dan tingkat stres yang tinggi berpengaruh langsung terhadap kualitas tulisan tangan tenaga medis. Studi yang dipublikasikan British Medical Journal mencatat bahwa kelelahan fisik dan mental dapat menurunkan ketelitian motorik halus, termasuk dalam aktivitas menulis.

Selain itu, dokter terbiasa menulis dengan kecepatan tinggi. Catatan medis, resep, dan instruksi pengobatan sering kali harus ditulis dalam waktu singkat, terutama di ruang gawat darurat atau bangsal rawat inap dengan jumlah pasien yang banyak. Kondisi ini membuat tulisan menjadi ringkas, padat, dan kerap mengabaikan kejelasan bentuk huruf.

Dari sisi kognitif, dokter juga menggunakan banyak singkatan dan simbol medis yang hanya dipahami oleh komunitas profesional. Kajian dalam Journal of General Internal Medicine menyebutkan bahwa bahasa tulis medis berkembang sebagai bentuk komunikasi internal antar tenaga kesehatan. Akibatnya, tulisan tersebut sulit dipahami oleh pasien atau masyarakat umum.

Kebiasaan ini terbentuk sejak masa pendidikan. Mahasiswa kedokteran dituntut mencatat materi kuliah yang kompleks, menulis laporan kasus, dan mendokumentasikan hasil pemeriksaan dalam waktu terbatas. Penelitian dalam Medical Education Journal menunjukkan bahwa kecepatan menulis lebih dilatih dibandingkan keterbacaan tulisan, sehingga kebiasaan tersebut berlanjut hingga dunia kerja.

Faktor neurologis juga turut berperan. Saat seseorang berpikir kompleks dan cepat, koordinasi antara proses kognitif dan gerakan tangan tidak selalu berjalan seimbang. Ahli neurologi Frank R. Wilson menjelaskan bahwa aktivitas mental tingkat tinggi dapat mengurangi presisi gerakan tangan, termasuk saat menulis.

Meski demikian, tulisan dokter yang sulit dibaca bukan persoalan sepele. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Institute of Medicine (IOM) mencatat bahwa resep yang tidak terbaca berkontribusi terhadap kesalahan pemberian obat. Kesalahan ini berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak fasilitas kesehatan kini beralih ke sistem rekam medis elektronik dan resep digital. Digitalisasi dinilai mampu mengurangi kesalahan komunikasi sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, tulisan tangan dokter yang sulit dibaca bukan semata-mata soal kerapian pribadi. Fenomena ini mencerminkan sistem kerja medis yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang sering kali kritis. Tantangannya kini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara efisiensi kerja dan keselamatan pasien.

Referensi:

  • British Medical Journal (BMJ), Workload, stress and medical handwriting
  • Journal of General Internal Medicine, Medical handwriting and communication errors
  • Medical Education Journal, Note-taking habits among medical students
  • Frank R. Wilson, The Hand: How Its Use Shapes the Brain, Language, and Human Culture
  • World Health Organization (WHO), Medication Errors: Technical Series on Safer Primary Care
  • Institute of Medicine (IOM), Preventing Medication Errors