Sandal jepit mungkin terlihat sederhana. Tipis, ringan, dan sering dianggap remeh. Namun siapa sangka, alas kaki yang akrab di kaki jutaan orang Indonesia ini menyimpan sejarah panjang lintas budaya—bahkan tanpa satu nama pasti sebagai penemunya.
Secara historis, sandal jepit modern berakar dari Jepang melalui alas kaki tradisional bernama Zōri. Zōri telah digunakan selama berabad-abad oleh masyarakat Jepang, terbuat dari jerami padi, kayu, atau kain, dengan ciri khas tali berbentuk huruf V yang menjepit di antara jempol dan jari kaki.
Namun, bentuk awal sandal serupa sebenarnya sudah ditemukan jauh lebih lama. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno, sekitar 4.000 tahun lalu, telah mengenal alas kaki dengan desain mirip sandal jepit, terbuat dari daun papirus. Artinya, konsep “jepit di antara jari” bukanlah hal baru.
Perjalanan sandal jepit menuju popularitas global baru terjadi setelah Perang Dunia II. Saat itu, tentara Amerika Serikat yang ditempatkan di Jepang membawa pulang zōri sebagai oleh-oleh. Dari sinilah, desain tersebut mulai diadaptasi dan diproduksi secara massal di Barat, menggunakan bahan karet yang lebih praktis dan tahan lama.
Di Indonesia, sandal jepit kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Istilah “sandal jepit” sendiri muncul karena desainnya yang “menjepit” jari kaki, sekaligus merujuk pada asal-usulnya dari Jepang. Produk ini semakin populer karena harganya terjangkau dan cocok digunakan di iklim tropis.
Beberapa merek bahkan menjadikannya ikon, seperti Swallow yang dikenal luas di masyarakat sebagai sandal “sejuta umat”. Dari pasar tradisional hingga rumah-rumah, ia telah menjadi simbol kesederhanaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Meski tidak ada satu tokoh yang bisa disebut sebagai penemu tunggalnya, evolusinya mencerminkan perjalanan panjang peradaban manusia—dari kebutuhan dasar, adaptasi budaya, hingga inovasi industri.
Ia mungkin tak pernah masuk museum sebagai penemuan besar. Namun di Indonesia, ia telah menjadi bagian dari cerita hidup—diam-diam setia menemani langkah, dari halaman rumah hingga perjalanan jauh. ***