Malam turun perlahan di Surabaya seperti tirai tua yang ditarik dengan hati-hati. Dari kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, lampu-lampu kapal berkelip di kejauhan, memantulkan cahaya kuning pucat di permukaan laut yang tenang. Bau garam bercampur solar memenuhi udara. Truk-truk kontainer masih lalu lalang meskipun jam sudah mendekati tengah malam. Bagi sebagian orang, pelabuhan adalah pintu perdagangan. Bagi sebagian lainnya, pelabuhan adalah tempat di mana segala sesuatu bisa masuk dan keluar tanpa banyak pertanyaan. Dan bagi Fajar Prasetyo, pelabuhan adalah rumah sekaligus penjara yang selama dua belas tahun terakhir membentuk seluruh hidupnya.
Ia duduk sendirian di sebuah gudang tua yang sudah lama tidak digunakan. Atap seng yang berkarat sesekali berderit diterpa angin laut. Bahu kirinya masih terasa nyeri akibat luka tembak yang didapat dua hari sebelumnya. Kemeja yang dikenakannya sudah kotor oleh darah dan debu. Namun bukan rasa sakit itu yang membuatnya sulit bernapas. Yang jauh lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa hampir semua orang yang pernah ia bantu kini sedang mencarinya untuk dibunuh.
Dua belas tahun lalu, Fajar hanyalah seorang sopir truk dari Gresik yang mencoba memperbaiki nasib. Ayahnya seorang buruh pelabuhan yang meninggal karena kecelakaan kerja. Ibunya berjualan nasi pecel di depan rumah kontrakan. Hidup mereka tidak pernah mudah. Ketika seorang kenalan menawarkan pekerjaan mengantar kontainer dengan bayaran tiga kali lipat dari pekerjaan biasa, Fajar menerimanya tanpa banyak bertanya.
Pada awalnya ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia angkut. Ia hanya menjalankan perintah, mengambil barang dari satu gudang dan mengantarkannya ke gudang lain. Namun sedikit demi sedikit ia memahami bahwa sebagian muatan yang dibawanya tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi. Ada elektronik, minuman keras, suku cadang kendaraan, bahkan barang-barang yang masuk ke Indonesia tanpa melewati prosedur apa pun.
Di sanalah ia pertama kali bertemu Bergas.
Nama itu cukup untuk membuat banyak orang menurunkan suara ketika berbicara. Di depan publik, Bergas adalah pengusaha logistik yang sukses. Ia sering tampil dalam acara kamar dagang, menjadi pembicara seminar, dan sesekali muncul dalam foto bersama pejabat. Namun di dunia yang tidak pernah masuk koran, Bergas adalah penguasa jaringan distribusi gelap yang membentang dari Batam, Jakarta, Surabaya hingga Makassar.
“Kerja yang baik harus dibayar baik,” kata Bergas saat pertama kali mengajak Fajar makan malam di sebuah restoran seafood di Kenjeran. “Tapi kesetiaan harus dibayar lebih mahal.”
Kalimat itu terdengar sederhana waktu itu. Fajar bahkan menganggapnya sebagai nasihat yang bijak. Ia belum memahami bahwa dalam dunia Bergas, kesetiaan bukan sekadar nilai moral. Kesetiaan adalah mata uang.
Selama bertahun-tahun ia membuktikan dirinya. Ia tidak pernah bertanya terlalu banyak. Ia tidak pernah membocorkan informasi. Ketika diperintahkan terbang ke Jakarta, ia berangkat. Ketika diminta mengurus transaksi di Batam, ia melakukannya. Ketika diminta menemani tamu-tamu penting yang datang dari luar negeri, ia menjalankan tugas tanpa kesalahan.
Sebagai imbalannya, hidupnya berubah drastis. Ia membeli rumah untuk ibunya. Ia memiliki mobil. Ia mengenakan jam tangan yang dulu hanya bisa ia lihat di etalase mal. Dan yang paling berbahaya, ia mulai merasa aman. Padahal tidak ada yang benar-benar aman dalam dunia itu.
Masalah bermula pada suatu pagi di Jakarta ketika seorang pejabat berpengaruh ditemukan tewas di sebuah hotel kawasan Sudirman. Berita itu langsung memenuhi layar televisi. Wartawan berkerumun di depan garis polisi. Para analis politik berbicara tentang konspirasi. Media sosial dipenuhi spekulasi. Bagi publik, itu hanyalah satu lagi kasus pembunuhan yang melibatkan orang penting. Namun bagi orang-orang seperti Fajar, itu adalah awal dari badai.
Tiga jam setelah berita itu muncul, teleponnya berdering. Nomor tak dikenal.
“Jangan pulang ke rumah.”
Suara di ujung telepon terdengar tergesa-gesa.
“Kenapa?”
“Mereka menyebut namamu.”
Fajar terdiam.
“Siapa?”
“Semua orang.”
Sambungan terputus. Ia mencoba menelepon kembali. Nomor itu sudah tidak aktif.
Malam harinya ia menerima kabar bahwa beberapa orang yang selama ini bekerja bersamanya sedang dicari polisi. Keesokan paginya ia mendengar rumor bahwa dirinya adalah pelaku utama pembunuhan tersebut. Hari berikutnya seorang teman lama menghilang tanpa jejak.
Saat itulah ia sadar bahwa permainan telah berubah. Seseorang membutuhkan kambing hitam. Dan orang itu adalah dirinya.
Fajar meninggalkan Jakarta malam itu juga. Ia mengemudi menuju Surabaya tanpa tujuan yang jelas. Selama perjalanan, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Mengapa dirinya? Siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini? Dan yang paling penting, mengapa Bergas tidak menghubunginya sama sekali?
Pertanyaan terakhir justru yang paling menakutkan. Karena diamnya Bergas berarti sesuatu. Sangat berarti.
Hujan gerimis turun ketika Siska memasuki gudang tua tempat Fajar bersembunyi. Perempuan itu masih mengenakan jaket dan membawa tas ransel kecil. Wajahnya terlihat lelah.
“Kamu kelihatan buruk,” katanya setelah melihat kondisi Fajar.
“Lumayan.”
“Lumayan? Bahumu berlubang.”
Fajar tersenyum tipis.
“Masih hidup.”
Siska duduk di sampingnya. Selama beberapa detik mereka hanya mendengar suara hujan yang memukul atap seng.
“Aku dengar berita di Jakarta,” kata Siska pelan.
Fajar mengangguk.
“Mereka benar-benar menjadikan kamu tersangka?”
“Lebih dari itu.”
“Apa maksudmu?”
“Mereka ingin aku mati.”
Siska menoleh cepat.
“Siapa?”
“Polisi.”
“Dan?”
“Orang-orang Jakarta.”
“Dan?”
Fajar menarik napas panjang.
“Orang-orang kita sendiri.”
Untuk sesaat tidak ada suara selain hujan. Siska memejamkan mata. Ia sudah menduga jawaban itu, tetapi mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan.
“Ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan,” katanya.
“Ada banyak.”
“Ceritakan yang penting.”
Fajar tertawa kecil.
“Masalahnya, semuanya penting.”
Ia lalu mulai bercerita. Tentang uang yang mengalir ke berbagai pihak. Tentang persaingan antarkelompok. Tentang sejumlah tokoh yang diam-diam ingin mengambil alih jaringan milik Bergas. Tentang pembunuhan yang mungkin bukan sekadar pembunuhan.
Semakin lama Siska mendengarkan, semakin ia menyadari bahwa persoalan ini jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya. Ini bukan soal satu orang mati. Ini soal perebutan kekuasaan. Dan dalam perebutan kekuasaan, nyawa manusia sering kali menjadi biaya operasional.
Malam semakin larut ketika Siska mengeluarkan dua tiket kapal dari dalam tasnya.
“Apa itu?” tanya Fajar.
“Tiket.”
“Aku bisa lihat.”
“Besok sore.”
Fajar mengambil salah satunya.
Tujuan: Balikpapan.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Dan setelah itu?”
“Kita cari tempat baru.”
Fajar tersenyum.
“Kedengarannya mudah.”
“Aku tidak bilang mudah.”
“Lalu?”
Siska memandang laut di luar gudang.
“Aku cuma bilang mungkin.”
Fajar terdiam.
Selama bertahun-tahun ia hidup di antara orang-orang yang berbicara tentang uang, kekuasaan, dan pengaruh. Anehnya, tidak satu pun dari mereka pernah terdengar setulus perempuan yang sedang duduk di sampingnya.
“Aku lelah,” kata Siska tiba-tiba.
“Lelah apa?”
“Lelah menunggu teleponmu.”
Fajar menatapnya.
“Lelah mendengar kabar penembakan dan langsung berpikir mungkin itu kamu. Lelah hidup dengan rasa takut.”
Suaranya bergetar.
“Aku cuma ingin hidup normal, Jar.”
Kalimat itu menghantam Fajar lebih keras daripada peluru. Hidup normal. Dua kata yang terdengar sederhana. Tetapi terasa begitu jauh.
Keesokan harinya seluruh jaringan Bergas bergerak mencari dirinya. Di Jakarta, Batam, Semarang, dan Surabaya, orang-orang menerima foto Fajar melalui aplikasi pesan terenkripsi.
Perintahnya singkat. Temukan. Tangkap. Atau habisi.
Di sebuah rumah besar kawasan Menteng, Bergas membaca laporan-laporan yang masuk tanpa ekspresi.
“Belum ada jejak?”
“Belum, Pak.”
“Pelabuhan?”
“Sudah diawasi.”
“Bandara?”
“Sudah.”
“Orang dekatnya?”
“Juga.”
Bergas mengangguk pelan.
Lalu bertanya, “Kalau kalian menemukan dia lebih dulu, apa yang akan kalian lakukan?”
Anak buahnya saling berpandangan.
“Tangkap?”
Bergas tersenyum tipis.
“Salah.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Orang yang tahu terlalu banyak tidak boleh sampai ditangkap.”
Semua orang mengerti maksudnya. Sore itu Siska berdiri di dermaga Tanjung Perak. Dua tiket kapal masih berada di tangannya. Angin laut bertiup cukup kencang. Jam menunjukkan pukul empat. Fajar belum datang. Ia mencoba menelepon. Tidak aktif. Pukul lima. Masih belum ada kabar. Para penumpang mulai naik ke kapal. Sirene keberangkatan berbunyi panjang. Siska menggigit bibir. Jangan sampai kali ini juga gagal, pikirnya. Jangan. Namun ketika matahari mulai tenggelam, ia mulai memahami kenyataan yang selama ini berusaha ditolaknya. Fajar mungkin tidak akan datang. Atau lebih buruk lagi. Fajar mungkin sudah tidak hidup.
Telepon genggamnya bergetar. Nomor tak dikenal.
“Halo?”
“Jangan tunggu lagi.”
Suara lelaki di seberang terdengar berat.
“Siapa ini?”
“Seseorang yang masih berutang budi pada Fajar.”
“Dia di mana?”
Tidak ada jawaban.
“Dia hidup?”
Hening.
Lalu suara itu berkata pelan.
“Kalau kamu mencintainya, pulanglah.”
Sambungan terputus.
Dua hari kemudian berita besar muncul. Mayat seorang pria ditemukan di kawasan industri dekat Gresik. Polisi menduga itu Fajar Prasetyo. Media langsung memberitakannya. Orang-orang percaya. Mafia percaya. Pejabat percaya. Bahkan sebagian besar teman-temannya percaya. Namun tidak Siska. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Perasaannya mengatakan bahwa cerita itu belum selesai.
Tiga bulan kemudian, di sebuah desa kecil di pesisir Kalimantan, seorang lelaki turun dari perahu kayu sambil membawa tas lusuh. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang mencarinya. Jenggotnya tumbuh panjang. Kulitnya lebih gelap karena matahari. Ia berjalan menyusuri pantai dan berhenti memandang laut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada yang memerintahkannya. Tidak ada yang mengawasinya. Tidak ada yang menagih kesetiaan. Di sakunya terdapat sebuah foto kecil yang mulai memudar. Foto seorang perempuan yang berdiri di dermaga dengan rambut diterpa angin laut. Fajar tersenyum. Ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh dunia tempat ia tumbuh. Bahwa kekuasaan bisa dibeli. Kesetiaan bisa disewa. Ketakutan bisa diciptakan. Tetapi kebebasan adalah hal yang berbeda. Kebebasan sering kali baru datang ketika seseorang kehilangan segalanya.
Dan pada pagi yang tenang itu, jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta, jauh dari para pemburu yang dulu mengejarnya, Fajar akhirnya memiliki sesuatu yang selama bertahun-tahun tak pernah berhasil dibelinya dengan uang sebanyak apa pun. Kesempatan untuk menjadi manusia biasa.
Tenabang, 7 Juni 2026