Pada 1980-an, di masa kanak-kanak saya, bila kita bermain terlalu jauh, lupa waktu, lupa tidur siang dan lupa makan, maka ada jurus orang tua melarang kita. Apa itu? “Awas, topengae. Tandanya adalah ‘oto’ hardtop.” Jadi, saat kita sempat melihat ada salah satu varian mobil besutan Toyota itu lewat, kita akan memilih sembunyi dan menyingkir. Itu pasti topengae. 

Saat itu, ada keyakinan orang banyak, bahwa bila ada jembatan baru dibangun, maka orang-orang proyek akan mencari kepala anak-anak untuk ditanam bersamaan dengan pemancangan tiang pancang. Itu agar jembatannya kuat. Ada yang percaya, ada pula tak percaya pada kisah itu. Apa benar topengae pernah ada? Nah, mari kita ulik sejarahnya hingga di masa pendudukan Belanda.

Topengae, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut sebagai pengayau. Kata dasarnya adalah kayau, yang bila ditambahkan awalan menjadi mengayau membunuh orang untuk diambil kepalanya. Mengae sendiri adalah bahasa etnis Kaili, suku terbesar di Sulawesi Tengah. Adapula yang menyebutnya topangayo atau pangayo, dalam bahasa Kaili Tara Parigi.

Pada suatu masa, jauh sebelum ada peta administratif, sebelum sekolah zending dan gereja berdiri, sebelum kata Indonesia memiliki arti politik, pedalaman Sulawesi Tengah mengenal sebuah hukum yang tak tertulis: kepala adalah martabat.

Di Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Bada, yang masuk wilayah Kabupaten Poso, kepala manusia bukan sekadar bagian tubuh. Ia adalah simbol kemenangan, jaminan keseimbangan kosmos, dan tanda sah seorang lelaki memasuki dunia dewasa. Tradisi itu dikenal dengan berbagai sebutan, menga’e, kayau, atau mangayau, seperti yang dilakukan oleh orang Dayak di Kalimantan. Sementara topengae adalah orang yang mengae. Bahasa kolonial Belanda menyederhanakannhya menjadi: headhunting, perburuan kepala.

Bagi manusia modern, tentu saja terdengar sangat sadis. Namun bagi masyarakat Bare’e, Bada dan etnis lainnya di Sulawesi Tengah pada abad ke-18 dan ke-19, praktik itu justru merupakan bagian dari laku moral dan spiritual yang tertata rapi.

Eropa pada masa itu, utamanya Belanda, dikenalkan tradisi ini oleh catatan orang-orang Belanda yang datang sebagai pendeta, ahli bahasa, dan etnografer yang datang bersama pemerintahan kolonial. Dua nama yang paling sering disebut adalah Nicolaus Adriani dan Albert Christian Kruyt.

Kruyt tiba di Poso pada 1892. Ia bukan hanya seorang misionaris, melainkan pengamat kebudayaan yang tekun dan telaten. Bersama Adriani, seorang ahli linguistik, ia menulis karya populer berjudul De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden-Celebes, empat jilid tebal yang hingga hari ini menjadi rujukan utama tentang masyarakat Sulawesi Tengah pra-kolonial.

Dalam buku itu, mengayau tidak pernah digambarkan sebagai tindakan brutal tanpa makna, apalagi sadisme atau kriminal. Sebaliknya, itu diposisikan sebagai ritus sosial, terkait keyakinan orang-orang di masa itu.

“Seorang pemuda,” tulis mereka, “tidak dianggap lengkap sebagai laki-laki sebelum ia turut serta dalam ekspedisi kepala.” Kepala musuh, yang diperoleh melalui pertempuran antar-kelompok atau konflik wilayah, dipercaya membawa daya hidup (kracht, kata Kruyt) yang bisa melindungi desa dari penyakit, gagal panen, atau bencana alam.

Wilayah Parigi sampai Poso Pesisir, meski lebih terbuka pada pengaruh luar karena kedekatannya dengan pesisir, tidak sepenuhnya bebas dari tradisi ini. Catatan Belanda menyebut bahwa konflik antara kelompok pedalaman dan komunitas pesisir sering kali berujung pada perburuan kepala.

Namun berbeda dengan daerah pedalaman Bada, mengayau di Parigi cenderung episodik, bukan tradisi yang terus-menerus dirayakan. Kepala musuh biasanya dipersembahkan dalam upacara singkat, lalu dikuburkan atau disembunyikan. Ia bukan pajangan permanen, melainkan penanda bahwa sebuah konflik telah “ditutup” secara adat.

Di Parigi, kepala adalah akhir. Di Bada dan Poso, kepala adalah awal.

Di Lembah Bada, yang kini terkenal dengan patung-patung megalitiknya, kepala manusia memiliki hubungan erat dengan dunia arwah. Adriani dan Kruyt mencatat bahwa tengkorak sering ditempatkan di rumah adat atau dekat situs ritual sebagai penjaga desa.

Mengayau di Bada tidak selalu terkait perang besar. Kadang, satu kepala cukup. Ia bisa diperoleh dari serangan kecil, penyergapan, atau konflik personal yang kemudian “disucikan” melalui ritual adat.

Di sinilah konsep keadilan adat bekerja dengan logika berbeda. Balas dendam bukan urusan individu, melainkan tanggung jawab kolektif. Kepala yang dibawa pulang bukan sekadar milik si pengayau, tetapi milik komunitas.

Ritual penyambutan kepala sering melibatkan tarian, nyanyian, dan persembahan darah hewan. Darah, dalam kosmologi lokal, adalah bahasa yang dipahami para roh.

Jika Parigi adalah tepi, dan Bada adalah sakral, maka Poso adalah pusat. Di wilayah inilah masyarakat Bare’e, yang oleh Belanda disebut “Toradja Midden-Celebes” mengembangkan sistem kepercayaan yang kompleks.

Mengayau di Poso bukan tindakan sembarangan. Ia mengikuti aturan ketat: siapa yang boleh ikut, kapan dilakukan, dan bagaimana kepala diperlakukan. Kepala musuh sering digantung sementara di rumah adat, lalu melalui proses ritual sebelum akhirnya disimpan atau dikuburkan.

Kruyt mencatat bahwa kepala perempuan dan anak-anak hampir tidak pernah diambil. Ini membantah sendiri stereotip yang dikembangkan pemerintah kolonial Belanda yang kerap menggambarkan masyarakat pedalaman sebagai barbar tanpa norma. Justru sebaliknya, ada etika yang tegas, meski dengan logika yang asing bagi orang Eropa.

Masuknya misionaris Kristen dan administrasi kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 mengubah segalanya. Pemerintah kolonial melihat mengayau sebagai ancaman terhadap orde en rust, ketertiban dan keamanan.

Jadi, larangan untuk itu harus diberlakukan. Ekspedisi kepala diperlakukan sebagai kejahatan pidana. Itu adalah tindakan kriminal. Gereja memperkenalkan konsep dosa individual, menggantikan logika kolektif adat. Perlahan, ritual kepala kehilangan legitimasi spiritualnya.

Menariknya, Kruyt sendiri tidak serta-merta mengutuk tradisi itu. Dalam catatannya, ia berkali-kali menekankan bahwa mengayau hanya bisa dipahami dari dalam, bukan dengan kacamata moral orang Eropa.

Namun sejarah jarang memberi ruang bagi ambiguitas. Pada awal abad ke-20, tradisi mengayau di Sulawesi Tengah praktis berhenti. Kepala tidak lagi digantung di rumah adat, melainkan tersisa sebagai cerita yang dipakai menakuti anak-anak, bahkan stigma buruk yang menggantung pada suku tertentu.

Hari ini, ketika Parigi, Bada, dan Poso dikenal lewat narasi lain, pembangunan, konflik modern, atau pariwisata, tradisi mengayau kerap disinggung dengan nada malu atau disangkal sama sekali. Tak ada seorang pun yang mengakuinya. Bahkan beberapa kali saya menemukan status di linimasa, seorang pegiat budaya Bada, bahwa tradisi itu tak pernah ada.

Padahal, catatan Adriani dan Kruyt menunjukkan bahwa mengayau adalah bahasa budaya pada masanya. Ia bukan glorifikasi kekerasan, melainkan cara masyarakat memahami hidup, mati, dan kehormatan.

Mengingat, dan mencatat sejarah tradisi ini bukan berarti merayakannya. Tetapi melupakannya sama saja dengan memotong kepala sejarah kita sendiri, menghilangkan konteks, makna, dan pelajaran tentang betapa beragamnya cara manusia mengatur dunia sebelum negara dan hukum modern hadir.

Di tanah Sulawesi Tengah, kepala pernah lebih dari sekadar kepala. Ia adalah cerita tentang manusia yang hidup di antara ketakutan dan harapan, darah dan doa, perang dan keseimbangan. Jadi, topengae seperti dalam catatan Adriani dan Kruyt, bukanlah topengae yang dijadikan momok untuk anak-anak, tapi mengandung moralitas sosial, budaya dan keyakinan spiritual di masa itu. Mungkin saja, bila ada topengae berburu untuk korban tiang pancang jembatan adalah modifikasi yang kita bisa sebut sadistik atau kriminal.

Dan seperti lazimnya sejarah tua, apalagi menurut ukuran manusia modern adalah sadis dan memalukan, maka ia hanya akan tetap tertulis sebagai jejak di perpustakaan. Tertulis rapi dalam buku-buku Belanda, dan samar dalam ingatan kita sendiri, lalu terlupakan. Tentu saja, tak akan ada lagi amaran; Awas, ada topengae!

Catatan: Saya menyimpan soft copy dari semua buku-buku terkait yang menjadi referensi utama dalam penulisan artikel ini. Buku-bukunya berbahasa Belanda dan Inggris. Bila berminat, silahkan hubungi saya di jafar@ajf.sg. Saya akan mengirimkannya.

Referensi Utama

  • Nicolaus Adriani & Albert C. Kruyt, De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden-Celebes, 1912–1914
  • Albert Christian Kruyt, berbagai laporan zending dan etnografi Sulawesi Tengah
  • Arsip dan kajian etnografi kolonial Belanda tentang Midden-Celebes (akhir abad ke-19)