Jakarta menyambut pagi dengan cara yang berbeda. Tidak ada laut. Tidak ada ritual. Hanya gedung-gedung kaca yang memantulkan cahaya matahari seperti senyum yang dilatih di depan cermin.
Arjuna Majestra duduk di ruang kerjanya di lantai dua puluh satu sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Meja kayunya bersih, hampir steril. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada simbol adat. Hanya satu lukisan wayang kulit kecil di dinding, tokoh Bima, berdiri tegak dengan kuku Pancanaka tersembunyi.
Ia mengenakan jas abu-abu muda, dasi tipis, dan arloji sederhana yang harganya cukup untuk membeli rumah kecil di pinggiran kota. Di hadapannya, secangkir teh hijau mengepul, disentuhnya perlahan, seolah sedang menimbang suhu sebelum menyesap.
Telepon berdering. Ia mengangkat tanpa melihat layar.
“Ya.”
“Sudah terjadi,” suara di seberang berkata pelan. “Di Makassar.”
Arjuna menutup mata sejenak. “Ayah?”
“Hidup.”
“Ada korban?”
“Dua. Bukan orang kita.”
Arjuna mengangguk, meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Pastikan narasinya tetap sederhana. Jangan ada kata ‘terorganisir’. Gunakan ‘konflik lokal’.”
Telepon ditutup. Arjuna menghela napas panjang, bukan karena lega, melainkan karena perhitungan baru saja berubah.
Ia berdiri, mendekati jendela. Dari ketinggian itu, Jakarta terlihat seperti papan catur besar: kendaraan bergerak seperti pion, lampu lalu lintas berganti seperti giliran pemain.
“Semua orang ingin menang cepat,” gumamnya. “Padahal yang sabar selalu menang.”

Siang hari, Arjuna menghadiri makan siang tertutup di sebuah rumah tua kawasan Menteng. Bangunannya tidak mencolok, tapi setiap sudutnya menyimpan kekuasaan.
Di ruang makan, Raja Adi Wiraguna sudah menunggu. Lelaki itu berusia awal lima puluhan, rambutnya disisir rapi ke belakang, senyumnya lembut seperti guru yang tidak pernah memarahi murid di depan kelas.
“Mas Arjuna,” katanya sambil berdiri. “Kau tampak lelah.”
“Berita dari timur,” jawab Arjuna singkat. “Cuaca buruk.”
Raja Adi tersenyum. “Di negeri ini, cuaca selalu buruk di tempat yang jauh dari ibu kota.”
Mereka duduk. Makan siang disajikan tanpa pembicaraan berarti. Di Jawa, orang penting tidak membicarakan urusan penting sambil mengunyah.
Setelah piring diangkat, Raja Adi menyeka bibirnya perlahan. “Aku dengar ayahmu sedang tidak sehat.”
Arjuna menatapnya, tenang. “Ayah saya tua. Seperti republik ini.”
“Republik ini bertahan karena tahu kapan harus berganti,” balas Raja Adi.
Arjuna tersenyum tipis. “Dan karena tahu siapa yang mempersiapkannya.”
Hening sejenak. Dua orang cerdas saling mengukur, bukan dengan kata, tapi dengan jeda.
“Aku akan bicara langsung,” kata Raja Adi akhirnya. “Akan ada perubahan kebijakan pelabuhan dan logistik. Orang-orang lama akan tergeser.”
Arjuna mengangguk. “Perubahan selalu butuh jembatan.”
“Kau jembatan yang bagus, Mas Arjuna.”
Arjuna menatap teh hangat di depannya. “Jembatan tidak berdiri sendiri. Ia butuh dua tepi.”
Raja Adi tertawa pelan. “Dan satu arsitek.”

Sore hari, Arjuna menerima laporan tertulis dari Sumatera. Nama Malikara muncul berulang kali. Distribusi terganggu. Jalur lama bocor. Uang mengalir ke tempat yang tidak semestinya.
Ia memutar kursinya, menatap lukisan Bima. Tokoh itu kuat, tapi selalu digambarkan patuh pada tatanan. Tidak seperti Gatotkaca yang terbang bebas dan mati lebih cepat.
“Ranuma terlalu kasar,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Dan Surajati terlalu jujur.”
Ia mengambil ponsel, mengetik pesan singkat.
“Jaga jarak. Biarkan api kecil menyala.”
Pesan itu dikirim ke nomor tanpa nama.

Malam hari, di apartemennya yang menghadap kota, Arjuna membuka laptop. Di layar, sebuah artikel hampir terbit—tentang konflik pelabuhan, tentang kekerasan yang mulai meningkat di timur.
Nama penulisnya membuat alis Arjuna terangkat sedikit.
Talita Sandiarta.
Ia membaca dengan saksama. Tulisan itu tajam, rapi, dan terlalu dekat dengan kebenaran. Belum menyebut Majestra, tapi jejaknya jelas bagi orang yang tahu cara membaca tanda.
Arjuna tersenyum. “Kau berbahaya,” gumamnya. “Dan kau belum tahu siapa yang sedang kau dekati.”
Ia menutup laptop. Mengambil ponsel. Menelpon seseorang di Solo, seorang dosen tua, mentor politiknya dulu.
“Aku butuh satu jasa,” kata Arjuna. “Tidak kotor. Hanya… memperlambat.”
Telepon ditutup. Arjuna kembali ke jendela.
Di kejauhan, lampu kota berkelip seperti doa yang tak pernah dijawab. Arjuna tahu satu hal dengan pasti: ayahnya mungkin menguasai laut, Ranuma menguasai uang dan ketakutan, Surajati mulai menguasai dirinya sendiri.
Tapi ia menguasai waktu.
Dan di dunia yang ditentukan oleh siapa yang menunggu paling lama, Arjuna Majestra tidak pernah terburu-buru.
Di Makassar, jauh dari gedung kaca dan jam dinding, laut bergelombang pelan. Surajati berdiri di beranda rumah, merasakan angin asin menerpa wajahnya, tanpa tahu bahwa di Jawa, saudaranya sedang menyiapkan papan permainan yang sama sekali berbeda.
Perang belum dimulai.
Namun langkah-langkahnya sudah dicatat.
Bersambung ke: Darah di Tanah Warisan #4: Uang di Sumatera, Api di Bugis