Tidak ada rapat resmi setelah Daeng Ranrang jatuh. Justru itulah rapat paling berbahaya.

Rumah Majestra menjadi sunyi dengan cara yang mencurigakan. Orang-orang yang biasa mondar-mandir kini lebih sering berdiri diam, menunggu perintah yang tidak kunjung datang. Dalam kekosongan itulah kekuasaan mulai mencari bentuk baru, dan tidak selalu lewat suara.

Surajati duduk di ruang kerja ayahnya, sendirian. Pagi baru saja lewat. Cahaya matahari masuk lewat jendela samping, menyentuh meja kayu tua yang penuh bekas goresan, saksi puluhan keputusan yang tak pernah dicatat di kertas negara.

Di hadapannya tergeletak tiga benda: buku catatan pelayaran tua, ponsel dengan belasan pesan belum dibaca, dan tongkat ayahnya.

Ia tidak menyentuh ketiganya.

Safira masuk tanpa mengetuk. “Orang-orang mulai bertanya,” katanya.

“Biarkan,” jawab Surajati. “Pertanyaan membuat mereka sibuk.”

Safira mengangguk. “Ranuma sudah mengumpulkan orangnya sendiri.”

Surajati tidak terkejut. “Dan Arjuna?”

“Belum pulang. Tapi namanya mulai sering disebut di Jakarta.”

Surajati tersenyum tipis. “Dia selalu bergerak sebelum terlihat.”

Jalan Pertama: Ranuma, Jalan Darah. Di gudang tua dekat pelabuhan, Ranuma berdiri di hadapan belasan lelaki. Wajah-wajah keras, mata yang terbiasa melihat pukulan dan mayat.

“Ayah tidak bisa bicara,” kata Ranuma lantang. “Dan dunia tidak menunggu orang sakit.”

Ia berjalan mondar-mandir seperti jenderal tanpa seragam. “Kita dipukul. Sumatera menantang. Jawa menonton. Kalau kita diam, kita mati perlahan.”

Salah satu lelaki bertanya, “Apa perintahmu, Puang?”

Ranuma berhenti. Matanya menyipit. “Serang duluan.”

Beberapa orang tersenyum. Beberapa ragu. Tapi tidak ada yang membantah.

Ranuma tahu satu hal: ketakutan lebih cepat menyebar daripada kepercayaan.

Jalan Kedua: Arjuna, Jalan Halus. Di Jakarta, Arjuna Majestra duduk dalam rapat kecil di sebuah ruangan tanpa logo. Di sekeliling meja, hanya empat orang, tapi masing-masing memegang akses ke puluhan kebijakan.

“Makassar mulai panas,” kata seorang pria berkacamata.

Arjuna mengangguk. “Karena tidak ada yang memberi arah.”

“Bukankah itu urusan keluargamu?”

Arjuna tersenyum tipis. “Keluarga hanyalah bentuk kecil dari negara.”

Ia membuka map. “Kalau pelabuhan timur terganggu, stabilitas nasional ikut terganggu. Itu narasi yang akan kita pakai.”

Seorang perempuan di ujung meja mencondongkan tubuh. “Dan siapa yang akan kita tampilkan sebagai mitra yang ‘rasional’?”

Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menyesap tehnya.

“Seseorang yang tidak suka darah,” katanya akhirnya. “Dan terlihat enggan berkuasa.”

Nama tidak disebut. Tapi semua orang paham.

Jalan Ketiga: Surajati, Jalan Sunyi. Surajati memilih jalan yang tidak terlihat.

Ia mendatangi orang-orang lama ayahnya satu per satu. Tidak mengancam. Tidak menjanjikan. Ia hanya bertanya, dan mendengar.

Di sebuah rumah kayu dekat pantai, seorang tua berkata padanya, “Ranuma membuat orang takut. Tapi takut tak bisa lahirkan kesetiaan.”

Di tempat lain, seorang pelaut berkata, “Arjuna cerdas. Tapi dia tidak pernah berdiri di bawah hujan bersama kami.”

Surajati hanya mengangguk. Ia mencatat semuanya di kepalanya.

Malam hari, ia duduk di samping ranjang ayahnya di rumah sakit. Mesin berdengung pelan. Daeng Ranrang membuka mata, sulit fokus.

Surajati menggenggam tangannya. “Aku tidak akan bertindak ceroboh.”

Ayahnya tidak bisa menjawab. Tapi genggaman itu menguat sesaat, cukup untuk Surajati mengerti.

Titik Retak. Kabar buruk datang sebelum subuh. Satu kapal logistik Majestra disergap di perairan kecil. Tidak tenggelam. Tidak ada korban jiwa. Tapi muatannya dirampas bersih.

Pesannya jelas: ini bukan perang. Ini pelecehan.

Ranuma mengamuk. “Aku sudah bilang!”

Surajati menatap laporan itu lama. “Mereka ingin kita bereaksi.”

“Dan kita akan memberikannya,” balas Ranuma.

Surajati menoleh. “Kalau kau bergerak tanpa pikir, kau bukan menyerang musuh, kau sedang membuka pintu untuk Arjuna.”

Nama itu jatuh berat di ruangan.

Ranuma mendekat, wajahnya merah. “Kau membelanya?”

“Aku mencegahnya menang,” jawab Surajati tenang.

Sunyi.

Safira memperhatikan keduanya. Dalam sunyi itulah ia sadar: keluarga ini tidak sedang menghadapi musuh dari luar.

Mereka sedang memilih cara saling menghancurkan.

Malam itu, di tiga tempat berbeda: Ranuma memuat senjata ke mobil tanpa plat, Arjuna menandatangani dokumen yang akan “menormalkan” intervensi pusat, dan Surajati mematikan lampu ruang kerja ayahnya, meninggalkan hanya satu lampu kecil menyala.

Tiga anak. Satu nama. Tiga jalan yang tidak mungkin bertemu tanpa darah.

Dan di antara ketiganya, hanya satu yang benar-benar mengerti harga dari sebuah kemenangan.

Bersambung ke Darah di Tanah Warisan #7: Perempuan yang Tidak Tahu