Sebelum internet ramai dengan meme “leader gila tapi berkuasa”, dunia sudah punya contoh nyata bernama Idi Amin. Ia bukan sekadar mantan Presiden Uganda. Ia adalah paket lengkap: diktator, badut politik, monster sejarah, sekaligus urban legend berjalan. Kalau Idi Amin hidup di era TikTok, kemungkinan besar algoritma akan bingung menentukan dia masuk kategori edukasi, horor, atau komedi gelap.

Idi Amin Dada lahir sekitar tahun 1920-an—sekitar, karena bahkan riwayat kelahirannya saja sudah samar seperti plot film thriller murahan. Pendidikan formal? Tipis. Tapi otot? Tebal. Kariernya dimulai sebagai prajurit King’s African Rifles, pasukan kolonial Inggris. Dari situ Amin belajar satu hal penting: senjata lebih efektif daripada argumen.

Setelah Uganda merdeka, Idi Amin tetap bertahan di militer dan naik pangkat dengan cara yang tidak diajarkan di akademi militer mana pun: setia membabi buta dan siap menghantam siapa saja. Pada 1971, ketika Presiden Milton Obote sedang ke luar negeri, Amin melakukan kudeta. Uganda pun resmi dipimpin oleh seorang mantan petinju yang percaya bahwa negara bisa diatur seperti ring tinju—yang kuat berdiri, yang lemah tumbang.

Awalnya, rakyat berharap. Seperti setiap awal rezim baru, selalu ada ilusi “ini pasti lebih baik”. Sayangnya, Idi Amin segera membuktikan bahwa harapan itu terlalu optimistis. Dalam beberapa tahun, ribuan orang menghilang. Ada yang dibunuh, ada yang disiksa, ada yang tak pernah kembali. Perkiraan korban mencapai 100 ribu hingga 300 ribu jiwa. Negara berubah jadi escape room tanpa pintu keluar.

Di tengah teror itulah, lahir berbagai rumor legendaris. Yang paling terkenal—dan paling absurd—adalah cerita bahwa Idi Amin suka memakan telinga anak-anak yang nakal. Ya, telinga. Cerita ini beredar luas, dari bisik-bisik warga sampai lelucon gelap media Barat. Tentu saja, tak ada bukti bahwa Amin benar-benar kanibal. Tapi justru di situlah kekuatannya sebagai meme analog zaman pra-internet.

Rumor ini bekerja seperti copypasta horor: berlebihan, tak masuk akal, tapi dipercaya karena satu alasan—rezimnya memang sudah cukup gila untuk membuat orang berkata, “Ya, masuk akal sih.” Dalam negara yang membunuh warganya sendiri tanpa pengadilan, logika berhenti berfungsi. Monster tidak perlu bukti, cukup reputasi.

Idi Amin juga dikenal sebagai presiden dengan hobi gelar kepanjangan. Ia menyebut dirinya “His Excellency, President for Life, Field Marshal Al Hadji Doctor Idi Amin Dada, VC, DSO, MC, Lord of All the Beasts of the Earth and Fishes of the Seas, and Conqueror of the British Empire in Africa in General and Uganda in Particular – Yang Mulia, Presiden Seumur Hidup, Marsekal Lapangan Al Hadji Dokter Idi Amin Dada, VC, DSO, MC, Penguasa Semua Hewan di Bumi dan Ikan di Laut, dan Penakluk Kekaisaran Britania di Afrika secara Umum dan Uganda secara Khusus., dan entah apa lagi. Jika LinkedIn sudah ada saat itu, profil Idi Amin mungkin tidak bisa dibuka karena kepanjangan jabatan. Ia adalah contoh nyata pemimpin yang lebih sibuk membangun citra daripada negara.

Kebijakan ekonominya pun tak kalah ngawur. Pada 1972, ia mengusir sekitar 60.000 warga keturunan Asia dari Uganda—padahal merekalah tulang punggung ekonomi. Hasilnya bisa ditebak: ekonomi kolaps. Tapi Amin santai. Dalam logika diktator, realitas hanyalah opini yang tidak loyal.

Dalam politik luar negeri, Idi Amin seperti akun medsos yang unfollow-follow sesuka hati. Sempat dekat dengan Inggris, lalu benci. Bersahabat dengan Israel, lalu memusuhi. Mengidolakan Hitler—sebuah red flag yang ukurannya stadion. Puncak keanehan terjadi saat pembajakan pesawat Air France di Entebbe tahun 1976. Amin pura-pura jadi mediator, Israel datang, sandera diselamatkan, rezim Amin dipermalukan secara global. Plot twist yang bahkan Netflix pun akan mikir dua kali.

Kejatuhannya datang pada 1979 setelah ia nekat menyerbu Tanzania. Tanzania tidak cuma melawan, tapi sekalian menggulingkan rezimnya. Idi Amin kabur, hidup nyaman di Arab Saudi, dan wafat pada 2003—tanpa pernah diadili. Monster sejarah itu meninggal dengan tenang. Korbannya tidak.

Hari ini, Idi Amin dikenang bukan hanya sebagai diktator, tapi sebagai simbol ekstrem dari kekuasaan tanpa akal sehat. Ia adalah bukti bahwa ketika negara dipimpin oleh ego, rumor bisa terdengar lebih masuk akal daripada kebijakan resmi.

Dan mungkin itu pelajaran paling relevan dari Idi Amin: ketika pemimpin lebih sibuk membangun citra menakutkan, sejarah tidak akan mengingatnya sebagai negarawan. Ia akan diingat sebagai meme paling gelap yang pernah benar-benar berkuasa.