Borgol atau gari adalah benda kecil, dingin, dan tampak sederhana. Namun di balik dua lingkaran logam itu tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana manusia mengatur, menahan, dan mengendalikan sesamanya. Ia bukan sekadar alat kepolisian, melainkan artefak peradaban.
Tidak ada satu nama tunggal yang bisa disebut sebagai penemu borgol. Sejarahnya jauh lebih tua daripada negara modern, bahkan lebih tua daripada hukum tertulis.
Sejak ribuan tahun lalu, manusia telah mengenal alat pengekang. Di Mesopotamia dan Mesir Kuno, belenggu besi dan rantai digunakan untuk tawanan perang dan budak. Di Yunani dan Romawi, manacles, cincin besi untuk tangan dan kaki, menjadi bagian dari sistem peradilan dan perbudakan. Alat-alat ini efektif, tetapi berat, kaku, dan sering melukai pemakainya.
Perubahan penting baru terjadi pada abad ke-19, ketika konsep kepolisian modern mulai terbentuk. Negara membutuhkan alat penahanan yang lebih praktis: cepat dipasang, dapat dilepas, dan tidak bersifat permanen. Dari kebutuhan inilah borgol modern lahir.
Pada 1862, seorang penemu Amerika Serikat bernama W. V. Adams mematenkan desain borgol dengan mekanisme pegas dan pengunci internal. Inovasi ini memungkinkan borgol menyesuaikan ukuran pergelangan tangan secara otomatis dan dikunci dengan aman menggunakan kunci khusus. Desain Adams menjadi fondasi borgol modern yang digunakan hingga hari ini.
Pada abad ke-20, borgol terus disempurnakan. Mekanisme ratcheting lock, bunyi “klik” yang kini akrab, mempermudah pemasangan. Fitur double lock ditambahkan untuk mencegah gari mengencang lebih jauh dan melukai pemakainya. Produsen seperti Hiatt, Peerless, dan Smith & Wesson menjadikannya sebagai standar global aparat penegak hukum.
Kini, gari hadir dalam berbagai bentuk: baja, plastik sekali pakai, hingga versi fleksibel untuk situasi darurat. Namun maknanya tetap kompleks, antara keamanan, kekuasaan, dan pembatasan kebebasan. ***