Di tangan Hasan Bahasyuan (1930-1987), kisah seorang putri bangsawan Kaili yang terusir karena penyakit berubah menjadi sebuah lagu tentang kehilangan, ketabahan, kepercayaan kepada Tuhan, dan kerinduan untuk kembali ke rumah. Dinyanyikan oleh Lela Bahasyuan, “Randa Ntovea” bukan hanya menyimpan cerita, tetapi juga merekam cara sebuah masyarakat memandang keluarga, keselamatan, penyakit, dan adat.

Ada kalanya sebuah lagu bekerja lebih jauh daripada sekadar menghadirkan melodi dan lirik. Ia membawa nama seseorang, menyimpan sebuah peristiwa, lalu meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam tradisi seperti itu, musik menjadi semacam ruang ingatan; sesuatu yang mungkin tidak pernah dituliskan dalam buku sejarah tetap dapat bertahan karena terus dinyanyikan.

“Randa Ntovea” adalah salah satu karya yang dapat ditempatkan dalam wilayah tersebut. Digubah oleh Hasan Bahasyuan, komponis dan musisi legendaris dari Palu, Sulawesi Tengah, lagu ini mengisahkan Randa Ntovea, seorang putri bangsawan Kaili yang menderita penyakit menular dan kemudian diasingkan ke tanah asing. Keputusan tersebut diambil atas permintaan orang banyak kepada pihak bangsawan, dengan alasan agar keselamatan kampung tetap terjaga. Bagi Randa, keputusan itu berarti harus meninggalkan orang tua yang menyayanginya dan menghadapi kehidupan jauh dari tanah kelahirannya.

Cerita tersebut mungkin terdengar seperti kisah dari masa yang jauh. Namun emosi yang dibawanya terasa sangat dekat. Ada seseorang yang harus pergi bukan karena kehendaknya sendiri, ada keluarga yang terpaksa merelakan, ada masyarakat yang mengambil keputusan berdasarkan rasa takut dan kebutuhan untuk melindungi banyak orang, dan ada seorang perempuan yang akhirnya hanya dapat menggantungkan harapan kepada Tuhan. Di situlah “Randa Ntovea” memperoleh kekuatannya sebagai lagu: ia tidak hanya menceritakan sebuah peristiwa, tetapi juga menghadirkan perasaan yang menyertai peristiwa tersebut.

Nama Randa Ntovea dan Tanah Kaili

Lagu dibuka dengan pengenalan yang sederhana:

Tesa’ana nu Madika kaili
Nosangaka I Randa Ntovea

Kisah seorang anak bangsawan Kaili bernama Randa Ntovea.

Pembukaan ini segera menempatkan tokoh utama dalam lingkungan sosialnya. Randa diperkenalkan sebagai anak bangsawan, sehingga sejak awal pendengar mengetahui bahwa ia berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan di tengah masyarakat. Namun kedudukan tersebut tidak lantas membuat perjalanan hidupnya menjadi mudah. Ketika penyakit datang, Randa tetap menjadi bagian dari masyarakat yang harus tunduk pada keputusan bersama.

Lirik berikutnya menjelaskan persoalan yang kemudian mengubah hidupnya:

Nipalili Ritana Njambali ranga
Pomperapi Ntodea Rimadika
Ala Masalama nu Ngatana

Randa diasingkan ke tanah asing sesuai permintaan orang banyak kepada bangsawan, demi keselamatan kampung.

Di dalam tiga baris tersebut terdapat konflik utama lagu. Ada masyarakat yang menginginkan keselamatan bersama, ada bangsawan yang harus menerima permintaan tersebut, dan ada Randa yang menjadi orang yang harus meninggalkan kampung. Lagu tidak menggambarkan keadaan itu melalui pertentangan yang keras. Narasinya justru berjalan tenang, hampir seperti seseorang yang sedang menceritakan kembali sebuah kisah yang sudah lama dikenal.

Namun justru karena disampaikan dengan sederhana, persoalannya terasa semakin berat. Keselamatan kampung memiliki alasan yang jelas, tetapi keputusan itu tetap menimbulkan penderitaan bagi seseorang.

Ketika seorang anak harus meninggalkan orang tuanya

Perasaan Randa mulai terlihat jelas pada bagian berikutnya:

Na’asi rara I Randa Ntovea
Mbaturusi perapi Ntodea
Mbapalaisi totua Mbapotovena

Hati Randa nelangsa. Ia menuruti permintaan orang banyak dan meninggalkan orang tua yang menyayanginya.

Bagian ini mengubah sudut pandang cerita. Jika sebelumnya yang terdengar adalah keputusan masyarakat, kini perhatian berpindah kepada orang yang harus menjalani keputusan tersebut. Randa tidak digambarkan melawan. Ia mengikuti permintaan orang banyak, tetapi kepatuhan itu tidak menghapus kesedihan yang dirasakannya.

Kalimat tentang meninggalkan orang tua menjadi penting karena membuat kisah ini keluar dari sekadar persoalan penyakit. Di balik keputusan sosial tersebut ada hubungan keluarga yang harus diputus untuk sementara. Bagi Randa, tanah asing bukan hanya tempat yang jauh secara geografis, melainkan tempat yang membuatnya terpisah dari orang-orang yang selama ini menjadi bagian terdekat dari kehidupannya.

Di sinilah lagu mulai terasa sangat manusiawi. Tidak ada penjelasan panjang mengenai kesedihan Randa. Cukup disebut bahwa hatinya nelangsa dan bahwa ia meninggalkan orang tuanya yang menyayanginya. Selebihnya, pendengar dapat membayangkan sendiri bagaimana beratnya perjalanan tersebut.

Setelah meninggalkan keluarganya, Randa kemudian berpaling (hanya) kepada Tuhan:

Damo doa’na Ritupu Allah Ta’ala
Ala Rapaka voe Duana

Ia berdoa kepada Allah Ta’ala agar penyakitnya disembuhkan.

Bagian ini menjadi titik penting dalam perjalanan cerita. Ketika keputusan manusia telah membuat Randa berada jauh dari rumah, doa menjadi ruang yang masih sepenuhnya menjadi miliknya. Ia tidak dapat mengubah keputusan masyarakat dan tidak dapat menentukan kapan penyakitnya berakhir, tetapi ia masih dapat memohon kepada Tuhan.

Dalam konteks cerita yang dibawakan lagu ini, doa bukan sekadar ungkapan harapan. Ia menjadi cara Randa menghadapi keadaan yang berada di luar kendalinya. Keyakinan kepada Allah Ta’ala kemudian menjadi dasar bagi peristiwa yang terjadi berikutnya.

Lirik sesudahnya langsung menyebut kuasa Tuhan:

Kuasa Tupu Allah Ta’ala
Nipakatukana Bengga Bula

Karena kuasa Allah Ta’ala, dikirimkan seekor kerbau putih.

Kerbau putih inilah yang kemudian menjadi bagian paling khas dari kisah Randa Ntovea.

Dalam cerita tersebut, Randa disembuhkan melalui sebuah peristiwa yang tidak biasa. Wajahnya dijilati oleh kerbau putih, dan setelah itu penyakitnya sembuh. Liriknya menyebut:

Nompaka Voe dua I Randa Ntovea
Haimo hai Najadi Niposabana
Nombali Nontambai Kagayana

Kerbau putih itulah yang menjadi sebab kesembuhan Randa, dan setelah sembuh kecantikannya semakin bertambah.

Bagi pendengar masa kini, bagian ini mungkin terdengar seperti sebuah adegan yang berasal dari dunia legenda. Namun dalam struktur lagu, peristiwa tersebut tidak hadir sebagai kejutan yang berdiri sendiri. Sebelumnya, lirik telah menempatkan doa Randa dan kuasa Allah Ta’ala sebagai dasar cerita. Karena itu, kerbau putih berfungsi sebagai perantara dari sebuah pertolongan yang diyakini datang dari Tuhan.

Kehadiran Bengga Bula juga memperkaya karakter cerita. Kerbau putih bukan sekadar detail yang membuat kisah terdengar ajaib; ia menjadi bagian dari ingatan budaya yang membuat cerita Randa berbeda dari kisah kesembuhan lainnya. Ada hubungan yang erat antara manusia, alam, keyakinan, dan kehidupan sosial dalam dunia yang digambarkan lagu ini.

Yang menarik, kesembuhan Randa juga disertai perubahan pada dirinya. Ia bukan hanya terbebas dari penyakit, tetapi disebut menjadi semakin cantik. Dengan demikian, bagian tersebut menjadi titik balik yang jelas: perempuan yang sebelumnya dipandang sebagai ancaman bagi keselamatan kampung kini telah sembuh dan siap kembali kepada kehidupan yang ditinggalkannya.

Setelah kesembuhan itu, cerita bergerak kembali ke kampung halaman Randa. Kabar tentang dirinya sampai kepada orang tuanya:

Nakarebamo Ritotuana
Madika’ta ri Tana Kaili

Kabar tersebut akhirnya terdengar oleh orang tuanya di tanah Kaili. Setelah itu Randa diperintahkan dan dipanggil untuk kembali:

Nituduna bo Nipekipokiona

Di sinilah arah perjalanan cerita berubah sepenuhnya. Jika pada awal lagu Randa bergerak menjauh dari tanah kelahirannya, sekarang geraknya berbalik. Ia kembali.

Kepulangan itu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar kembalinya seseorang setelah sembuh dari penyakit. Randa kembali kepada orang tua yang sebelumnya harus ia tinggalkan. Ia kembali ke tanah Kaili, tempat identitas dan kehidupannya berada. Pengasingan yang menjadi pusat kesedihan pada bagian awal akhirnya menemukan jawabannya melalui kepulangan.

Namun Hasan Bahasyuan tidak menutup cerita hanya dengan kepulangan Randa. Ada satu hal lagi yang harus dilakukan: ritual adat.

Kepulangan yang disambut dengan ritual adat keselamatan

Lirik bagian akhir menyebut:

Manjili Rapoviaka Adana
Moviaka ada Salamana

Randa pulang untuk dibuatkan ritual adat keselamatan.

Pengulangan bagian ini menjadi penutup yang sangat tepat bagi keseluruhan cerita. Sejak awal, alasan Randa diasingkan adalah keselamatan kampung. Pada akhirnya, setelah ia sembuh dan kembali, keselamatan kembali hadir sebagai bagian dari penyelesaian cerita, tetapi kali ini dalam bentuk adat yang menyertai kepulangannya.

Dengan demikian, perjalanan Randa memiliki semacam lingkaran naratif. Ia pergi karena penyakit dan kekhawatiran masyarakat; ia bertahan di tanah asing melalui doa; ia memperoleh kesembuhan; lalu ia kembali ke tanah asalnya dan diterima melalui adat.

Jika pada awal lagu keselamatan membuat Randa harus pergi, pada akhir lagu keselamatan justru menjadi bagian dari alasan untuk menyambutnya kembali.

Perubahan itulah yang membuat akhir “Randa Ntovea” terasa hangat tanpa harus dibuat dramatis.

Hasan Bahasyuan dan tradisi menjadikan cerita sebagai lagu

Membicarakan lagu ini tentu tidak dapat dipisahkan dari Hasan Bahasyuan. Sebagai komponis dan musisi legendaris dari Palu, ia memiliki peran dalam membawa kisah dan identitas lokal ke dalam bentuk musik yang dapat diwariskan.

“Randa Ntovea” menunjukkan bagaimana sebuah cerita dapat dipadatkan menjadi lirik tanpa kehilangan garis besar perjalanannya. Lagu ini tidak menceritakan setiap detail kehidupan Randa, melainkan memilih beberapa peristiwa utama yang cukup untuk membangun keseluruhan kisah: siapa Randa, mengapa ia pergi, bagaimana perasaannya, kepada siapa ia berharap, bagaimana ia disembuhkan, dan bagaimana akhirnya ia kembali.

Cara seperti ini merupakan salah satu kekuatan lagu-lagu yang bersifat naratif. Musik memberi cerita sebuah bentuk yang lebih mudah diingat. Kalimat-kalimatnya dapat diulang, melodinya dapat diwariskan, dan nama tokohnya tetap hidup melalui suara.

Dalam konteks budaya lokal, fungsi semacam ini tidak kecil. Sebuah lagu dapat menjadi tempat penyimpanan ingatan yang tidak kalah penting dari dokumen tertulis. Ia membawa bahasa, nama, kisah, nilai, dan cara pandang sebuah masyarakat sekaligus.

Di dalam karya semacam ini, penyanyi juga memegang peran yang penting. Lela Bahasyuan tidak hanya menyanyikan lirik yang telah ditulis dan digubah, tetapi menjadi suara yang membawa kisah Randa kepada pendengar.

Kekuatan lagu naratif sangat bergantung pada kemampuan penyanyi untuk membuat rangkaian cerita tetap terasa hidup. Pendengar harus dapat mengikuti perubahan suasana dari pengenalan tokoh, pengasingan, kesedihan, doa, kesembuhan, hingga kepulangan. Karena itu, suara penyanyi menjadi bagian dari cara cerita tersebut diterima.

Lela Bahasyuan membawa “Randa Ntovea” keluar dari halaman lirik dan menjadikannya pengalaman mendengarkan. Bahasa Kaili yang digunakan dalam lagu juga mendapatkan kehidupan melalui suara manusia, bukan sekadar sebagai teks yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Hal ini penting karena bahasa daerah dalam musik bukan hanya persoalan arti. Bunyi kata, tekanan, pengucapan, dan ritmenya turut membentuk karakter lagu. Ketika sebuah cerita dinyanyikan dalam bahasa asalnya, pendengar tidak hanya mendengar apa yang diceritakan, tetapi juga mendengar dari mana cerita itu berasal.

Sebuah lagu yang berbicara tentang masyarakat

“Randa Ntovea” memang memiliki seorang tokoh utama, tetapi sesungguhnya lagu ini juga bercerita tentang masyarakat.

Ada Ntodea, orang banyak, yang meminta Randa diasingkan. Ada keluarga yang harus menerima keputusan tersebut. Ada bangsawan yang berada dalam posisi untuk memenuhi permintaan masyarakat. Ada tanah asing tempat Randa menjalani masa sakitnya. Ada orang tua yang kemudian menerima kabar tentang kesembuhannya. Dan ada adat yang menjadi bagian dari kepulangannya.

Karena itu, kisah Randa tidak bisa dipisahkan dari komunitas di sekitarnya. Ia adalah kisah seorang individu, tetapi nasib individu tersebut ditentukan oleh hubungan dengan masyarakat.

Hal itu membuat lagu ini menarik jika didengarkan dari sudut pandang sekarang. Kita masih hidup dalam masyarakat yang kadang-kadang harus menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Dalam keadaan tertentu, keputusan seperti itu memang diperlukan. Namun “Randa Ntovea” mengingatkan bahwa setiap keputusan kolektif tetap memiliki manusia yang harus menanggung akibatnya.

Lagu tidak menghakimi keputusan tersebut. Ia hanya memperlihatkan akibatnya melalui perasaan Randa Ntovea.

Ada pula lapisan lain yang membuat “Randa Ntovea” terasa relevan. Penyakit menular bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga dapat menimbulkan ketakutan sosial. Dalam cerita Randa, ketakutan tersebut menghasilkan keputusan untuk menjauhkan seorang perempuan dari kampungnya.

Bagi masyarakat pada masa itu, tindakan tersebut mungkin dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama. Tetapi dari sisi Randa, pengalaman itu berarti kehilangan rumah dan keluarga untuk sementara waktu.

Dua perspektif tersebut hidup berdampingan dalam lagu.

Itulah yang membuat cerita ini tidak terasa hitam-putih. Masyarakat memiliki alasan. Randa memiliki kesedihan. Orang tuanya memiliki kasih sayang. Tidak ada satu pun dari perasaan itu yang harus dihapus agar yang lain dapat dianggap benar.

Pada akhirnya, penyelesaian datang bukan melalui pertentangan antarmanusia, tetapi melalui kesembuhan dan kepulangan.

Randa juga menarik karena ia tidak digambarkan sebagai tokoh yang melawan keadaan secara terbuka. Ia menuruti permintaan orang banyak, meskipun hatinya nelangsa. Dalam kesendirian, ia memilih berdoa.

Sikap tersebut dapat dibaca sebagai bentuk ketabahan. Ia tidak mempunyai kuasa untuk menentukan bagaimana masyarakat memperlakukannya, tetapi ia masih mempunyai keyakinan untuk bertahan.

Doa menjadi cara Randa mempertahankan harapan ketika hampir semua hal di luar dirinya berada di luar kendali.

Karena itu, kekuatan karakter Randa tidak muncul dari tindakan yang besar atau heroik. Ia justru muncul dari kesanggupannya bertahan dalam keadaan yang sulit. Kisahnya menjadi menarik bukan karena ia mengalahkan seseorang, melainkan karena ia mampu melewati penderitaan dan akhirnya kembali.

Arsip Ingatan

Di luar cerita Randa sendiri, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dilakukan lagu ini. “Randa Ntovea” membantu menjaga sebuah bagian dari ingatan budaya Kaili tetap hidup melalui musik.

Cerita yang dinyanyikan memiliki kesempatan untuk bertahan lebih lama karena dapat diingat, diulang, dan diwariskan. Nama-nama dalam lirik tidak hanya menjadi bagian dari sebuah lagu, tetapi juga menjadi penanda dunia budaya yang melahirkannya.

Dalam pengertian itu, musik bekerja seperti arsip, hanya saja arsip ini tidak disimpan dalam lemari atau perpustakaan. Ia hidup dalam suara manusia.

Hasan Bahasyuan memberi bentuk kepada cerita tersebut. Lela Bahasyuan membawanya melalui suara. Pendengar kemudian menjadi bagian dari rantai yang membuat cerita itu terus bergerak.

Setiap generasi mungkin mendengarnya dengan cara berbeda, tetapi Randa tetap menjadi Randa: seorang putri bangsawan Kaili yang pernah diasingkan karena penyakit, berdoa di tanah asing, disembuhkan melalui sebuah peristiwa yang luar biasa, lalu kembali kepada orang tuanya.

Mengapa “Randa Ntovea” masih layak didengarkan?

Di tengah arus musik yang bergerak cepat, lagu seperti “Randa Ntovea” menawarkan pengalaman yang berbeda. Ia tidak mengejar sensasi dalam hitungan detik. Ia meminta pendengar mengikuti sebuah cerita.

Ada baiknya lagu semacam ini didengarkan bukan hanya sebagai musik dari masa lalu, tetapi sebagai karya yang memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada pendengar masa kini. Kisahnya memang berangkat dari lingkungan sosial dan budaya Kaili, tetapi perasaan yang dibawanya bersifat universal.

Kita mengenal rasa kehilangan rumah. Kita mengenal kerinduan kepada orang tua. Kita mengenal ketakutan terhadap penyakit. Kita mengenal situasi ketika keputusan orang lain menentukan hidup kita. Dan kita juga mengenal harapan yang tetap dipelihara ketika keadaan tidak banyak memberi pilihan.

Randa mungkin hidup dalam cerita yang jauh dari zaman kita, tetapi perasaannya tidak demikian.

Pada akhirnya, “Randa Ntovea” adalah lagu tentang perjalanan menuju pulang.

Ia dimulai dari tanah Kaili, tempat Randa hidup sebagai anak bangsawan. Kemudian penyakit membuatnya harus pergi. Ia meninggalkan orang tua yang menyayanginya dan hidup jauh dari rumah. Dalam kesendirian itu, ia berdoa kepada Allah Ta’ala agar disembuhkan.

Pertolongan datang melalui seekor kerbau putih. Randa sembuh, dan kabar kesembuhannya akhirnya sampai kepada orang tua di tanah Kaili. Ia dipanggil pulang dan kepulangannya disertai adat keselamatan.

Cerita tersebut sederhana, tetapi justru kesederhanaannya yang membuatnya bertahan.

Pada bagian akhir, lirik kembali mengulang:

Manjili Rapoviaka Adana
Moviaka ada Salamana

Randa pulang. Ritual adat keselamatan digelar.

Setelah semua yang dialaminya, cerita tidak ditutup dengan kemenangan yang besar dan gemerlap. Ia ditutup dengan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia: seseorang kembali kepada keluarganya setelah lama terpisah.

Mungkin di situlah kekuatan “Randa Ntovea”. Lagu ini tidak sekadar mengabadikan kisah seorang putri bangsawan Kaili. Ia juga menyimpan gambaran tentang bagaimana sebuah masyarakat menghadapi penyakit, bagaimana keluarga menghadapi perpisahan, bagaimana seseorang bertahan dalam kesendirian, dan bagaimana keyakinan kepada Tuhan menjadi tempat menggantungkan harapan.

Hasan Bahasyuan telah menjadikan kisah itu sebuah lagu. Lela Bahasyuan membuatnya terdengar dan hidup melalui suara. Selebihnya, waktu yang membawa “Randa Ntovea” dari satu telinga ke telinga lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan selama lagu itu masih dinyanyikan, perjalanan Randa belum benar-benar selesai.

Ia masih berada di tanah asing. Masih mengingat orang tuanya. Masih memanjatkan doa. Masih menunggu pertolongan.

Sampai akhirnya kabar kesembuhan datang, panggilan untuk pulang terdengar, dan tanah Kaili kembali menjadi tempat yang menerimanya. Al Fatihah, Hasan Bahasyuan.