Lagu Tananggu Kaili adalah salah satu karya penting dalam khazanah musik daerah Sulawesi Tengah. Ditulis dalam bahasa Kaili Tara – Bahasa ibu yang dipakai di Maleali hingga Pelawa di wilayah Kabupaten Parigi Moutong. lagu ini bukan sekadar ungkapan estetis, melainkan juga medium ingatan kolektif, identitas kultural, dan kesadaran ruang masyarakat Kaili Tara.
Di balik lagu ini berdiri sosok Hasan Bahasyuan, komponis dan budayawan Sulawesi Tengah yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada seni musik dan tari daerah.
Melalui pendekatan filologi, semantik, dan stilistika, Tananggu Kaili dapat dibaca sebagai teks budaya yang menyimpan lapisan makna: dari struktur bahasa, simbol alam, hingga gaya ungkap yang puitis dan emosional.
Secara filologis, teks lagu Tananggu Kaili menunjukkan ciri khas bahasa Kaili Tara yang masih kuat dan relatif “murni”, tanpa campuran bahasa Indonesia atau serapan modern. Struktur larik pendek, pengulangan kata, serta penggunaan diksi konkret menandakan bahwa lagu ini lahir dari tradisi lisan.
Contoh penting adalah pengulangan frasa:
Tananggu kaili
Tananggu potove
Pengulangan ini bukan sekadar repetisi musikal, tetapi ciri khas tradisi tutur yang berfungsi menegaskan tema utama: tanah sebagai pusat identitas. Dalam filologi lisan, repetisi berfungsi sebagai alat ingat (mnemonic device) sekaligus penanda sakralitas.
Kosakata seperti tananggu (tanahku), tasi (laut), lida (sawah), balumba (ombak), dan nonggave-nggave (melambai-lambai) adalah leksikon agraris-maritim yang mencerminkan ruang hidup masyarakat Kaili: dari hulu, sawah, hingga pesisir pantai. Hal ini memperlihatkan bahwa teks lagu ini tumbuh dari pengalaman ekologis masyarakatnya.
Dari sisi semantik, Tananggu Kaili memaknai “tanah” bukan hanya sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang eksistensial.
Frasa:
Katuvunggu sampe nabose (Tempat hidupku hingga dewasa) menunjukkan bahwa tanah dipahami sebagai ruang pembentukan diri—tempat manusia bertumbuh secara fisik, sosial, dan emosional.
Makna tanah semakin diperdalam dengan kehadiran orang tua dan sanak saudara:
Peari ino nte papa ante salara (Tempat bermukim ibu dan bapakku serta sanak saudara)
Di sini, tanah adalah rumah genealogis, tempat relasi darah dan memori bersemayam. Tanah menjadi perpanjangan tubuh keluarga.
Sementara itu, larik:
nabuke nte sugi/Ri kasaenamo jana tetambuni e (Penuh dengan kekayaan / Sejak lama hanya tersembunyi)
mengandung makna tersembunyi tentang potensi alam yang belum terkelola atau belum diakui. Ini dapat dibaca sebagai kritik halus sekaligus harapan: tanah Kaili kaya, tetapi lama terpendam.
Pada bagian akhir, nuansa emosional menguat:
Nompaka ondo nulara/Ane rapalaisi (Membuat lara hati/Bila ditinggalkan)
Makna kehilangan muncul ketika jarak tercipta. Tanah bukan benda mati; ia mampu melukai perasaan ketika ditinggalkan. Ini menegaskan hubungan afektif yang sangat kuat antara manusia Kaili dan ruang hidupnya.
Secara stilistika, Tananggu Kaili kaya dengan citraan visual dan gerak. Alam tidak digambarkan statis, melainkan hidup dan bernapas:
Ira nggaluku nonggave-nggave (Daun kelapa melambai-lambai)
Balumba noende-ende (Ombak mengayun-ayun)
Penggunaan kata ulang (nonggave-nggave, noende-ende) menciptakan efek musikal sekaligus visual, memperkuat kesan gerak lembut dan ritmis. Gaya ini khas puisi liris, di mana bunyi dan makna saling menguatkan.
Stilistika lagu ini juga cenderung deskriptif-reflektif, bukan naratif. Tidak ada alur cerita linear, melainkan rangkaian gambaran alam dan perasaan yang membentuk suasana batin kolektif: rindu, bangga, dan takut kehilangan.
Nada lagu bersifat elegiak—lirih namun penuh cinta. Kesederhanaan gaya justru menjadi kekuatannya, karena membuka ruang resonansi emosional bagi pendengar, terutama mereka yang memiliki keterikatan dengan tanah Kaili.
Memahami Tananggu Kaili tidak lengkap tanpa menempatkannya dalam konteks penciptanya. Hasan Bahasyuan adalah seniman lintas zaman: dari musik bambu, keroncong, hingga Hawaian dan lagu daerah. Pengalamannya melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan membentuk kesadaran budaya yang kuat.
Lagu ini dapat dibaca sebagai pernyataan kultural: sebuah upaya menjaga identitas Kaili Tara di tengah perubahan sosial dan modernisasi. Melalui bahasa daerah, Hasan Bahasyuan menegaskan bahwa kebudayaan lokal bukan sisa masa lalu, melainkan fondasi masa depan.
Tananggu Kaili adalah teks budaya yang hidup. Secara filologis, ia menjaga jejak bahasa Kaili Tara. Secara semantik, ia memaknai tanah sebagai sumber kehidupan, identitas, dan emosi. Secara stilistika, ia menghadirkan puisi alam yang lembut, ritmis, dan menyentuh.
Lebih dari sebuah lagu daerah, Tananggu Kaili adalah nyanyian kerinduan untuk pulang—kepada tanah, kepada kenangan, dan kepada diri sendiri. Sebuah warisan kultural yang layak terus dirawat, dinyanyikan, dan ditafsirkan lintas generasi.
Profil Hasan Bahasyuan
Siapa sosok Hasan Bahasyuan? Ia adalah komponis, penggubah lagu dan koreografer sohor Sulawesi Tengah.
Ia lahir di Kota Parigi, 12 Januari 1930. Hasan Bahasyuan muda beliau memulai proses kreatif berkeseniannya sejak di bangku Sekolah Desa pada 1939.
Di Parigi ia memimpin kelompok Musik Bambu. ia juga adalah peniup suling pendek sampai era pendudukan Jepang.
Kala tentara NICA berkuasa pada 1946, ia bergabung dengan group Hawaian Band sebagai penyanyi dan pemain ukulele.
Pada 1947-1963, ia memimpin Orkes Keroncong Irama Seni sebagai penyanyi dan pemain biola.
Pada 1965, ia hijrah ke kota Palu. Ia menjadi pelatih dan memimpin Band Nada Anda/ Risela 1970.
Pada 1971-1981, ia mulai aktif sebagai pelatih tari daerah se-Sulawesi Tengah. Ia juga diketahui memimpin Band Ananta pada Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah pada masa itu.
Ia beristri perempuan keturunan Arab bermarga Al Amri, bernama Elia Al Amri, yang kemudian dikenal sebagai Layla Bahasyuan. Ia meninggalkan seorang putra bernama Syaiful Bahri Bahasyuan.
Mendiang Hasan Bahasyuan mangkat di Palu pada 22 Mei 1987. Ia berkarya hingga akhir hayatnya.
Lirik Lengkap dan Terjemahan Lagu Tananggu Kaili
Tananggu Kaili
Tananggu kaili
Tananggu potove
Katuvunggu sampe nabose
Peari ino nte papa ante salara
Tananggu kaili
lidana luo nompanene
Paena narangguni
Notungga noisi
Nivuru mpoiri
Rivotona bo ritasi
nabuke nte sugi
Ri kasaenamo jana tetambuni e
Mosuili ri tasi
iranggaluku nonggave-nggave
Balumba noende-ende
Nompaka ondo nulara
Ane rapalaisi
Terjemahannya:
Tanahku Kaili
Tanahku kaili
Tanahku ku sayangi
Tempat hidupku hingga dewasa
Tempat tinggal ibu dan bapakku serta sanak saudara
Tanahku Kaili
Sawahnya luas berjajar
Tegak bernas
Dihembus angin
Di hulu hingga ke pantai
Penuh dengan kekayaan
Sejak lama hanya tersembunyi
Memandang ke pantai
Daun kelapa melambai-lambai
Ombak mengayun-ayun
Membuat lara hati
Bila ditinggalkan
Keterangan:
Filologi adalah ilmu yang mempelajari teks-teks lama untuk meneliti bahasa, makna, sejarah, dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya melalui kajian teks dan konteksnya.
Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna kata, frasa, kalimat, dan tanda bahasa.
Stilistika adalah kajian tentang gaya bahasa, yaitu cara khas penggunaan bahasa untuk menimbulkan efek estetik, ekspresif, dan makna tertentu dalam sebuah teks. ***