Almanak menunjuk pada 24 Agustus 1527. Pada malam itu, di bawah langit yang biasanya cerah di akhir musim panas Paris, sesuatu yang mengerikan terjadi. Gereja-gereja bergemuruh dengan lonceng, bukan untuk merayakan kehidupan, melainkan sebagai panggilan untuk kekerasan. Kitab suci berganti dengan pedang tajam mengilap dan bedil.

Di ibukota Kerajaan Perancis, pembantaian yang dikenal sebagai St. Bartholomew’s Day Massacre meledak — Pembantaian Hari Santo Bartholemeus — sebuah tragedi yang mengguncang Eropa dan meninggalkan bekasnya dalam sejarah umat manusia. (Encyclopedia Britannica)

Acara yang semula dirancang sebagai perayaan cinta berubah menjadi pertumpahan darah. Pada 18 Agustus 1572, Margaret dari Valois, putri Raja Perancis, menikah dengan Henry dari Navarra, seorang pemimpin Protestan Huguenot yang dikenal luas. Perkawinan ini seharusnya menjembatani kesenjangan yang telah memecah belah Perancis selama puluhan tahun perang agama antara Katolik dan Protestan. Namun, suasana damai itu segera hancur oleh ketegangan yang lebih dalam dan konflik yang lebih gelap. (Encyclopedia Britannica)

Bayang-Bayang Perang Agama

Perancis pada abad ke-16 adalah negara yang rentan: sebuah lanskap budaya dan politik yang diwarnai oleh konflik keras antara dua keyakinan utama—Katolik Roma dan Protestan (Huguenot). Ketegangan ini bukan hanya soal teologi, melainkan juga tentang kekuasaan, identitas, dan masa depan sebuah bangsa. Konflik tersebut telah menciptakan serangkaian perang yang dikenal sebagai Perang Agama Perancis (1562–1598). (World History Encyclopedia)

Di pusat ketegangan itu berdirilah seorang figur kontroversial: Gaspard II de Coligny, seorang admiral Huguenot yang juga penasihat dekat Raja Charles IX. Keberpihakan Coligny kepada strategi militer tertentu—mendukung Perancis bergerak melawan Spanyol—mengundang permusuhan dari fraksi Katolik yang kuat, terutama keluarga Guise. (Encyclopedia Britannica)

Percikan yang Menyulut Api

Konflik itu meledak menjadi kekerasan ketika terjadi percobaan pembunuhan terhadap Coligny pada 22 Agustus 1572, sehari setelah pernikahan kerajaan. Coligny hanya terluka, namun berita mengenai upaya itu menyebar dengan cepat ke seluruh kota, memicu kemarahan Huguenot dan ketakutan di pihak Katolik. Pemimpin-pemimpin Katolik, termasuk ibu Raja Charles, Catherine de’ Medici, segera meyakinkan sang raja bahwa ancaman pemberontakan Huguenot semakin nyata. (Encyclopedia Britannica)

Dalam pertemuan rahasia di Istana Tuileries, keputusan dramatis diambil: rencana untuk membunuh pimpinan Huguenot akan dilaksanakan. Ini bukan lagi hanya soal Coligny, tetapi tentang menghapus kepemimpinan Protestan yang sedang tumbuh dalam kerajaan. (Encyclopedia Britannica)

Malam Pembantaian

Menjelang fajar 24 Agustus 1572, lonceng-lonceng di Gereja Saint-Germain-l’Auxerrois mulai berdentang, menandai dimulainya pembantaian. Coligny menjadi korban pertama, tewas di kamar tidurnya dan tubuhnya dilempar dari jendela, simbol dari kejatuhan harapan Huguenot. Lalu kota pun berubah menjadi medan perang. (Encyclopedia Britannica)

Kerumunan warga Paris, banyak di antaranya mengenakan salib putih sebagai tanda Katolik, menyerbu rumah-rumah Huguenot. Di jalan-jalan berbatu, jeritan minta ampun bergema, suara pedang menyayat dan darah mengalir ke selokan yang akhirnya membawa sisa-sisa korban ke Sungai Seine. Kekerasan itu berlangsung selama beberapa hari, dan meskipun perintah dari raja pada 25 Agustus mencoba menghentikan pembantaian, itu sudah terlambat—kekerasan telah menular ke wilayah lain di Perancis. (Musée protestant)

Korban dan Jejaknya

Sampai hari ini, jumlah pasti korban masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Beberapa catatan kontemporer Huguenot berbicara tentang 70.000 korban jiwa di seluruh negeri, sementara estimasi modern menaruh angka antara 5.000 hingga 30.000 orang yang tewas, termasuk ribuan di Paris saja. (Wikipedia)

Tragedi itu bukan hanya statistik; itu adalah kisah individu—pegawai, pedagang, istri dan anak-anak yang tak pernah membayangkan bahwa iman mereka akan membawa mereka ke dalam kekejaman seperti itu. Cerita-cerita para martir Huguenot, seperti Pierre de la Place, memberi wajah pada angka-angka statistik ini. Ia akhirnya dibunuh dengan kekejaman yang sulit dibayangkan, tubuhnya dihina bahkan setelah kematian. (Wikipedia)

Warisan yang Abadi

Pembantaian St. Bartholomew’s Day menciptakan dampak yang membekas jauh lebih dalam daripada sekadar angka korban jiwa. Ia merusak harapan damai di seluruh Perancis dan mendorong konflik lebih lanjut dalam perang agama yang berlarut-larut. Di luar negeri, peristiwa ini memperkuat prasangka terhadap kekerasan religius dan menegaskan perlunya reformasi yang lebih dalam terhadap hubungan antara keyakinan dan negara. (Encyclopedia Britannica)

Bagi dunia modern, tragedi ini tetap sebagai peringatan akan bahaya intoleransi—di mana fanatisme agama dan kalkulasi politik bisa bersatu dalam kekejaman yang menghancurkan umat manusia. Seperti ditulis oleh sejarawan kenamaan, malam itu di Paris adalah “salah satu pembantaian paling buruk dalam sejarah abad itu”, sebuah kalimat yang terus bergema lebih dari empat abad kemudian. (Wikipedia)

Referensi utama:

  • Massacre of St. Bartholomew’s Day, Britannica — sumber sejarah utama peristiwa, latar belakang politik dan dampaknya. (Encyclopedia Britannica)
  • St. Bartholomew’s Day Massacre, Wikipedia — fakta peristiwa dan estimasi jumlah korban. (Wikipedia)
  • Musée Protestant — detail kekejaman yang terjadi di Paris. (Musée protestant)
  • World History Encyclopedia — konteks yang lebih luas soal perang agama dan dampaknya. (World History Encyclopedia)
  • Pierre de la Place — kisah individu korban dalam peristiwa. (Wikipedia)