Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menutup sementara seluruh aktivitas wisata pendakian di kawasan Gunung Rinjani. Penutupan ini berlaku mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2026.

Kepala Balai TNGR Yarman mengatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai langkah mitigasi untuk menjamin keselamatan pengunjung di tengah potensi cuaca ekstrem, sekaligus memberi kesempatan bagi ekosistem Rinjani untuk memulihkan diri.

“Penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko keselamatan pendaki, terutama pada masa peralihan musim hujan yang rawan cuaca ekstrem,” kata Yarman, Kamis (1/1/2026).

Selama masa penutupan, seluruh jalur pendakian resmi di Gunung Rinjani tidak dapat diakses oleh wisatawan. Jalur yang ditutup meliputi jalur Senaru, Torean, Sembalun, Timbanuh, Tetebatu, serta jalur pendidikan Aik Berik.

Menurut Yarman, intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir berpotensi memperparah kerusakan jalur pendakian. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terjadinya bencana alam seperti longsor dan banjir bandang di kawasan pegunungan.

“Selain keselamatan pendaki, penutupan ini juga bertujuan menjaga keseimbangan dan kelestarian alam di kawasan Rinjani,” ujarnya.

BTNGR akan memanfaatkan masa penutupan untuk melakukan perbaikan dan pemulihan di sejumlah jalur pendakian yang mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem. Tim di lapangan akan diterjunkan untuk memperbaiki jalur, fasilitas pendukung, serta melakukan pemulihan vegetasi di titik-titik rawan.

Diharapkan, upaya tersebut dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengunjung saat pendakian kembali dibuka pada April 2026 mendatang.

Meski aktivitas pendakian ditutup, BTNGR memastikan sejumlah destinasi wisata non-pendakian di kawasan Gunung Rinjani tetap dibuka untuk umum. Wisatawan masih dapat berkunjung ke beberapa lokasi, seperti Otak Kokok Joben, Air Terjun Benang Kelambu, Bukit Kondo, serta sejumlah objek wisata alam lainnya.

BTNGR pun mengimbau wisatawan agar tetap memperhatikan kondisi cuaca dan mematuhi seluruh ketentuan keselamatan selama berkunjung ke kawasan Rinjani.

“Keselamatan pengunjung dan kelestarian alam tetap menjadi prioritas utama kami,” tutup Yarman. ***