Menonton film dokumenter Pesta Babi terasa seperti sedang diajak masuk ke sebuah ruang kemarahan. Film ini tidak pelan-pelan mengajak penonton memahami Papua dengan segala kerumitannya. Ia langsung menarik emosi sejak awal: hutan yang rusak, masyarakat adat yang merasa kehilangan ruang hidup, dan negara yang tampil seperti mesin besar yang berjalan tanpa benar-benar mendengar siapa pun.

Secara visual, film ini kuat. Beberapa adegannya terasa sunyi sekaligus menyesakkan. Kamera tahu cara membuat penonton merasa iba, marah, lalu curiga pada kekuasaan. Dan mungkin memang itu tujuan utamanya.

Tetapi setelah film selesai, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah penonton sedang diajak memahami persoalan Papua secara utuh, atau hanya sedang diarahkan untuk membenci satu pihak dan menelan bulat-bulat satu kebenaran?

Masalah terbesar Pesta Babi ada pada caranya melihat realitas yang terlalu hitam-putih. Negara digambarkan hampir selalu sebagai pihak yang rakus, dingin, dan menindas. Sementara masyarakat lokal ditempatkan sepenuhnya sebagai korban yang tak punya sisi lain. Tidak banyak ruang untuk melihat bahwa persoalan Papua jauh lebih rumit daripada sekadar “rakyat versus pemerintah”.

Padahal pembangunan di Papua bukan cuma soal proyek dan kepentingan elite. Ada wilayah-wilayah yang selama bertahun-tahun sulit dijangkau, harga kebutuhan pokok mahal, akses kesehatan minim, sekolah terbatas, dan infrastruktur yang tertinggal jauh dibanding daerah lain di Indonesia. Pemerintah tentu bisa dikritik soal pendekatan dan dampaknya, tetapi ada konteks yang seharusnya juga dibuka ke penonton: bahwa negara melihat pembangunan sebagai cara membuka keterisolasian dan menjaga integrasi wilayah yang secara geopolitik memang sensitif.

Sayangnya, bagian itu nyaris tidak mendapat tempat dalam film.

Pesta Babi lebih sibuk membangun suasana emosional ketimbang memberi ruang pada kompleksitas. Semua elemen terasa diarahkan untuk memperkuat satu kesimpulan: negara adalah sumber masalah. Akibatnya, film ini terasa lebih seperti pernyataan sikap daripada usaha untuk memetakan kenyataan secara utuh.

Bukan berarti dokumenter harus netral sepenuhnya. Tidak ada karya yang benar-benar bebas sudut pandang. Tetapi dokumenter yang kuat biasanya tetap memberi ruang bagi penonton untuk berpikir sendiri. Ia tidak terlalu tergesa menentukan siapa pahlawan dan siapa penjahat.

Di situlah Pesta Babi terasa agak kehilangan kedalaman. Film ini berhasil membuat orang marah, tetapi tidak cukup membantu orang memahami. Ia mengandalkan emosi lebih besar daripada dialog. Dan ketika emosi menjadi pusat utama, fakta-fakta yang tidak cocok dengan narasi besar cenderung disingkirkan.

Ironisnya, respons terhadap film ini justru membuatnya terlihat makin “benar”. Pembubaran pemutaran dan penolakan di beberapa tempat membuat publik lebih fokus pada isu kebebasan berekspresi daripada isi film itu sendiri. Negara tampak defensif, dan itu secara tidak langsung memperkuat citra yang dibangun film: bahwa kritik memang tidak ingin didengar.

Namun tetap penting untuk memisahkan dua hal: hak sebuah film untuk diputar, dan kualitas cara film itu membangun argumennya. Pesta Babi berhak hadir di ruang publik dan didiskusikan secara terbuka. Tetapi itu tidak berarti film ini bebas dari kritik.

Karena pada akhirnya, dokumenter yang baik bukan hanya yang mampu membuat penonton marah atau sedih. Dokumenter yang baik adalah yang berani menunjukkan bahwa kenyataan sering kali lebih rumit daripada narasi yang paling mudah dipercaya. Dan dalam hal itu, Pesta Babi terasa terlalu cepat menentukan siapa yang salah sebelum percakapannya benar-benar dimulai.