Presiden RI Prabowo Subianto kembali mengunjungi wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara dan Aceh. Presiden tiba di Bandara Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Rabu (31/12/2025), sekitar pukul 11.20 WIB.

Setibanya di Silangit, Presiden Prabowo yang mengenakan kemeja safari krem dan topi biru disambut sejumlah pejabat pusat dan daerah. Turut mendampingi antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, serta Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita.

Hadir pula Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution, Kapolda Sumatra Utara Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, dan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa.

Dari Bandara Silangit, Presiden Prabowo melanjutkan perjalanan menggunakan Helikopter TNI AU jenis Caracal untuk meninjau jembatan bailey di Sungai Garoga, Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Di lokasi tersebut, Presiden meninjau progres pembangunan jembatan sebagai bagian dari upaya pemulihan konektivitas dan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Presiden juga didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Kunjungan di penghujung tahun ini disebut sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap percepatan pemulihan pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengatakan Presiden Prabowo berencana menghabiskan malam pergantian tahun bersama masyarakat Aceh yang terdampak bencana alam.

“Insya Allah Pak Presiden akan malam tahun baru nanti di Aceh bersama rakyat Aceh,” ujar Qodari.

Sebelumnya, Presiden Prabowo telah tiga kali mengunjungi wilayah terdampak bencana di Aceh, masing-masing pada 1, 7, dan 12 Desember 2025. Dengan kunjungan kali ini, total kunjungan Presiden ke Aceh menjadi empat kali. Aceh tercatat sebagai wilayah yang terdampak paling parah dibandingkan Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan Sumatra Utara menjadi wilayah yang relatif cepat pulih pascabencana banjir bandang dan tanah longsor. Adapun daerah dengan tantangan pemulihan terberat adalah Aceh Tamiang.

“Yang paling berat adalah Aceh Tamiang karena pemerintahannya belum berjalan efektif dan ekonominya juga belum berjalan maksimal,” kata Tito dalam rapat koordinasi pimpinan DPR RI bersama Satgas Pemulihan Pascabencana dan kepala daerah terdampak bencana, Selasa (30/12).

Tito menyebutkan masih terdapat lima wilayah di Sumatra Utara yang dalam proses pemulihan, yakni Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kota Sibolga. Di Aceh, terdapat tujuh wilayah yang masih menjadi perhatian pemerintah, antara lain Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Sementara di Sumatra Barat, tiga daerah yang terdampak adalah Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.

Secara keseluruhan, terdapat 52 kabupaten/kota terdampak bencana di tiga provinsi, masing-masing 18 wilayah di Aceh, 18 wilayah di Sumatra Utara, dan 16 wilayah di Sumatra Barat.

Mendagri juga melaporkan kebutuhan anggaran pemulihan bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra mencapai sekitar Rp59,25 triliun. Anggaran tersebut terdiri atas Rp33,75 triliun untuk Aceh, Rp13,5 triliun untuk Sumatra Barat, dan Rp12 triliun untuk Sumatra Utara.

“Anggaran itu mencakup berbagai komponen, mulai dari pembangunan kantor desa, sekolah, fasilitas kesehatan, jembatan, hingga infrastruktur lainnya,” ujar Tito. ***