Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 21 Februari 2018 silam. Dua remaja berusia 13 belasan tahun kritis. Mereka dianiaya. Warga menduga keduanya akan mencuri di salah satu rumah warga di Kelurahan Petobo.

Mereka diamuk warga. Ringkih badannya. Tak kuat tubuhnya menahan pukul, tamparan dan tendangan belasan atau mungkin puluhan orang dewasa. Keduanya pun terkapar.

Belakangan diketahui mereka adalah GR dan AL. AL adalah akronim dari Alfayer. Sepantaran usia keduanya. Gambar hidup penganiayaan mereka viral di pelbagai media sosial. Terlihat benar mereka terkapar tak berdaya di tanah. Lalu ada yang menanyai bahkan menampar mereka. Pertanyaannya seputar barang yang diduga mereka curi.

Dari informasi sepihak kedua remaja berstatus pelajar di salah satu SMP di Kota Palu ini, kedapatan masuk ke dalam rumah warga di Jalan Nambo, Kelurahan Petobo. Rumah yang dimasuki keduanya, kabarnya pernah dimasuki pencuri sebelumnya. Sebuah notebook dan televisi digondol maling dari rumah itu.

Sial nian nasib keduanya. Saat masuk ke dalam rumah itu, warga langsung menangkapnya. Mereka pun menjadi bulan-bulanan massa.
Aparat Kepolisian Sektor Palu Selatan mendapat laporan ihwal kejadian itu. Mereka pun segera menuju tempat kejadian perkara. GR dan Alfayer dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara. Dalam perawatan, Alfayer meninggal dunia. Sedang GR dirawat intensif kala itu. 

***

Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 23 Maret 2013 silam. Ketika itu belasan orang terlatih menembak mati empat tahanan di lembaga pemasyarakatan itu. Belakangan diketahui sebanyak 12 orang kelompok penyerang ini adalah anggota Korps Pasukan Khusus Grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Empat tahanan yang ditembak itu adalah Hendrik Benyamin Angel Sahetapi, Adrianus Candra Galaja, Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu dan Yohanes Juan Manbait, mantan anggota Polresta Yogyakarta yang dipecat karena kasus Narkotika.

Keempatnya terlibat dalam penganiayaan  yang menewaskan anggota Kopassus, Sersan Kepala Heru Santoso di Hugo’s Cafe Yogyakarta pada 19 Maret 2013. Mereka juga adalah pembacok Sersan Satu Sriyono, anggota Kodim Yogyakarta yang juga mantan anggota Kopassus.

Apa yang dilakukan oleh warga Petobo dan para anggota Kopassus itu mirip Sombra Negra di El Savador. Sombra Negra adalah bahasa Spanyol untuk bayangan hitam. Mereka terdiri dari pensiunan Polisi dan Tentara. Mereka memburu pelaku kejahatan dan anggota geng yang lolos dari jeratan hukum. Kelompok pengadilan jalanan ini tumbuh sejak 1980-an.

Mereka tidak percaya pada hukum formal. Mereka menandai target operasi mereka dengan ujaran: “el idiota sufrió una muerte lenta” – bajingan ini mengalami kematian yang lambat atau ujaran lain.

Dalam beberapa kasus yang insindentil di negara kita, sebagai contoh adalah pembakaran motor begal. Juga misalnya penganiayaan pelaku pelecehan seksual oleh massa.

Di sini popular kita kenal sebagai aksi main hakim sendiri. Di negara lain dikenal sebagai Vigilante. Istilah ini merujuk pada seorang yang menegakkan hukum dengan caranya sendiri. Istilah ini berasal dari bahasa Latin ‘Vigiles Urbani’ yang diberikan kepada penjaga malam di Romawi kuno yang bertugas memadamkan kebakaran dan menjaga keamanan.

Aksi para ‘Vigiles Urbani’ macam ini kerap mendapat dukungan dari masyarakat. Ada pula yang menyebutnya sebagai tindakan melanggar hukum. Sebab sudah ada aparat berwenang yang berkewajiban menegak hukum.

Dalam kasus Alfayer, misalnya, Polisi saat itu langsung menetapkan empat tersangka penganiayaan yang menewaskan bocah ini. Meski ada yang pro pada aksi ‘menjerakan’ pelaku pelanggar hukum, namun hukum tetap harus ditegakkan. 

Bila terbukti melakukan pencurian di depan hukum, maka GR dan Alfayer tentu bersalah. Namun para pelaku yang menganiaya bocah itu hingga meregang nyawa tentu juga melanggar hukum.

Itu pun yang terjadi pada kasus Lapas Cebongan. Keempat pelaku kejahatan itu memang adalah pelanggar hukum, tapi aksi para prajurit Kopassus itu juga melanggar hukum. ***