Ketika membahas jatuhnya Palestina pada Perang Dunia I, sering muncul narasi sederhana: Utsmaniyah lemah, lalu wilayah itu “diserahkan”. Namun, catatan sejarah menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kompleks—dan berdarah.

Dalam kerangka besar Kampanye Sinai dan Palestina (1915–1918), pasukan Khilafah Utsmaniyah bertempur sengit melawan pasukan Imperium Britania yang datang dari arah Sinai dan Mesir. Di wilayah Palestina dan Transyordania saja, tercatat sedikitnya 32 pertempuran besar sepanjang 1917–1918.

Beberapa pertempuran penting yang menunjukkan kerasnya pertahanan Utsmaniyah antara lain:

Pertempuran Rafah (9 Januari 1917)

Pertempuran Gaza I & II (26 Maret; 17–19 April 1917) — dua kali Inggris gagal menembus garis pertahanan.

Pertempuran Beersheba (31 Oktober 1917) — titik balik ketika garis selatan mulai runtuh.

Pertempuran Gaza III (1–7 November 1917)

Pertempuran Yerusalem (17 November–30 Desember 1917)

Pertempuran Megiddo (19 September 1918) — ofensif besar Inggris yang menghancurkan struktur pertahanan Utsmaniyah.

Nama-nama lain seperti Jaffa, Yerikho, Amman, Nazaret, Jenin, Haifa, hingga Jembatan Putri Yakub memperlihatkan bahwa pertempuran terjadi beruntun, hampir tanpa jeda.

Fakta penting: pada dua Pertempuran Gaza pertama, pasukan Inggris di bawah Jenderal Archibald Murray mengalami kegagalan serius. Namun setelah komando diganti ke Jenderal Edmund Allenby, strategi diperbarui dan serangan dipusatkan di Beersheba—membuka jalan menuju Yerusalem.

Yerusalem Jatuh

Pada Desember 1917, setelah pertempuran sengit dan korban besar di kedua pihak, Yerusalem akhirnya jatuh ke tangan Inggris. Wali Kota Yerusalem, Hussein Effendi al-Husseini, menyerahkan kota untuk mencegah kehancuran lebih lanjut.

Jenderal Edmund Allenby memasuki kota dengan berjalan kaki—gestur simbolik untuk menunjukkan “penghormatan” terhadap kota suci.

Korban di pihak Utsmaniyah dalam keseluruhan kampanye Palestina-Suriah sangat besar. Berdasarkan data Inggris dan penelitian sejarawan militer seperti Edward J. Erickson, kerugian Utsmaniyah (gugur, luka, sakit, dan ditawan) mencapai sekitar 200.000 orang di berbagai front kawasan ini.

Narasi populer sering menyebut faktor penentu kekalahan Utsmaniyah adalah “pengkhianatan dari dalam”. Yang dimaksud merujuk pada Pemberontakan Arab yang dipimpin Hussein bin Ali, Syarif Makkah, pada 10 Juni 1916.

Gerakan ini—dikenal dalam historiografi sebagai Revolusi Arab—didukung Inggris dan melibatkan putra-putranya, termasuk Faisal I dan Abdullah I, serta perwira penghubung Inggris T. E. Lawrence.

Pasukan Arab menyerang jalur logistik penting seperti Rel Kereta Hijaz, yang memang mengganggu suplai Utsmaniyah. Namun secara militer, mayoritas pasukan Utsmaniyah di Palestina tetap bertempur langsung melawan Inggris di garis depan utama. Sejumlah sejarawan menilai bahwa kekalahan Utsmaniyah lebih disebabkan kombinasi keunggulan logistik Inggris, dominasi udara, blokade laut, kelelahan perang total, dan runtuhnya front lain seperti di Suriah dan Irak—bukan semata-mata pemberontakan Arab.

Secara historis, tidak ada bukti bahwa Palestina “dijual” oleh pemerintah Utsmaniyah kepada Inggris. Yang terjadi adalah kekalahan militer bertahap dalam perang global yang melelahkan. Setelah kekalahan di Megiddo (1918), pertahanan runtuh cepat, Damaskus jatuh, dan gencatan senjata Mudros (30 Oktober 1918) menandai akhir keterlibatan Utsmaniyah dalam perang.

Sejarah menunjukkan bahwa Palestina tidak jatuh dalam satu malam, dan bukan tanpa perlawanan. Ia jatuh setelah rangkaian panjang pertempuran, korban besar, dan perubahan geopolitik dunia.

Memahami detail ini penting agar diskusi tentang masa lalu tidak terjebak dalam slogan, melainkan berdiri di atas fakta sejarah yang dapat diverifikasi.