Di banyak negara, rambut adalah urusan tukang cukur dan selera pribadi. Mau cepak, gondrong, atau dicatok sampai lurus bak iklan sampo, negara tak ikut campur. Kecuali kalau Anda tinggal di Korea Utara. Di sana, rambut bukan sekadar mahkota kepala—ia sudah naik pangkat jadi urusan ideologi.
Mari kita mulai dari sosok paling ikonik: Kim Jong Un. Bukan cuma rudalnya yang mudah dikenali, tapi juga rambutnya. Samping tipis, belakang rapi, bagian atas tebal, mengilap, dan tampak seperti baru saja diberi jatah pomade bermerek Tancho yang sohor itu.
Rambut ini bukan tren barbershop. Ini statement politik.
Sejak Kim Jong Un naik takhta pada 2011, potongan rambutnya perlahan berubah status: dari gaya personal menjadi simbol kekuasaan. Pada 2014, media internasional dibuat geleng-geleng kepala setelah Radio Free Asia melaporkan bahwa mahasiswa pria di Pyongyang “dianjurkan” meniru gaya rambut sang pemimpin.
Kata “dianjurkan” di Korea Utara tentu punya makna khusus. Tapi di sana, dianjurkan itu sama dengan “diwajibkan”. Artinya,“kalau tidak diikuti, repot urusannya”.
Poster berisi contoh potongan rambut ideal disebar. Rambut panjang dianggap tidak revolusioner. Terlalu gondrong? Itu bau-bau kapitalis. Terlalu kreatif? Itu bisa mengarah ke Barat. Dan Barat, seperti kita tahu, adalah dosa besar dalam kamus Pyongyang.
Kenapa Harus Rambut?
Pertanyaannya sederhana: kenapa negara repot-repot mengurus rambut warganya?
Jawabannya juga sederhana: karena bisa.
Di Korea Utara, tubuh warga adalah papan reklame ideologi. Rambut, pakaian, bahkan cara berjalan adalah bagian dari disiplin kolektif. Kata Andrei Lankov, sejarawan Korea Utara, gaya rambut Kim Jong Un sengaja dibuat modern tapi tidak kebarat-baratan.
Artinya: kelihatan baru, tapi jangan kebablasan.
Kim ingin tampil beda dari ayahnya yang kaku, tapi tetap menegaskan: “Ini aku, dan aku berkuasa.”
Menariknya, meski potongan Kim Jong Un dijadikan panutan, nyaris mustahil rakyat bisa benar-benar menirunya secara sempurna. Rambut Kim selalu tampak lebih tebal, lebih rapi, dan tentu saja lebih berkilau.
Ini bukan kebetulan. Dalam politik simbol, pemimpin harus selalu tampak satu tingkat di atas rakyat. Bahkan dalam urusan rambut.
Jadi kalau rakyat meniru, ya meniru secukupnya. Jangan sampai kelihatan lebih cakep dari pemimpin. Itu bisa berbahaya.
Di luar Korea Utara, rambut Kim Jong Un hidup kehidupan kedua. Ia jadi meme, bahan lelucon, sampai paket promo barbershop di China dan Vietnam. “Kim Jong Un haircut” dijual sebagai gaya eksotis, kadang dengan bonus tawa.
Tapi di Pyongyang, tidak ada yang namanya lucu-lucuan. Rambut adalah tanda kepatuhan. Salah potong, bisa jadi masalah.
Guntingan Kim Jong Un mengajarkan satu hal: dalam rezim totaliter macam itu, bahkan hal sepele pun bisa berubah jadi alat kekuasaan. Rambut tidak lagi tumbuh bebas dari kepala, tapi dari ideologi.
Di Korea Utara, Anda boleh kehilangan banyak hal. Tapi yang pasti: Anda tidak bebas kehilangan gaya rambut yang “benar”.