Bahasa Indonesia adalah gudang metafora. Ia menyulap benda-benda biasa, macam meja, tikus, angin, bahkan warna, menjadi simbol sosial yang tajam. Dalam tradisi lisan kita, ungkapan tak sekadar mengindahkan kalimat, tetapi juga menjadi cara halus menyampaikan kritik, pujian, bahkan sindiran.
Berikut lebih dari 30 ungkapan khas Indonesia lengkap dengan maknanya:
1. Meja Hijau
Makna: Pengadilan atau proses hukum.
2. Gulung Tikar
Makna: Bangkrut atau menutup usaha.
3. Cuci Tangan
Makna: Melepaskan tanggung jawab.
4. Angkat Tangan
Makna: Menyerah atau tidak sanggup lagi.
5. Turun Tangan
Makna: Ikut campur atau terlibat langsung.
6. Naik Pitam
Makna: Sangat marah.
7. Darah Biru
Makna: Keturunan bangsawan.
8. Hitam di Atas Putih
Makna: Tertulis resmi atau memiliki bukti sah.
9. Buah Tangan
Makna: Oleh-oleh.
10. Buah Hati
Makna: Anak tercinta.
11. Panjang Akal
Makna: Cerdik, banyak ide.
12. Pendek Akal
Makna: Bertindak tanpa berpikir panjang.
13. Tebal Muka
Makna: Tidak tahu malu.
14. Muka Dua
Makna: Bermuka manis di depan, berbeda di belakang.
15. Makan Hati
Makna: Sangat kecewa atau tersakiti.
16. Kepala Batu
Makna: Keras kepala.
17. Adu Domba
Makna: Menghasut agar terjadi perselisihan.
18. Air Mata Buaya
Makna: Tangisan pura-pura.
19. Banting Tulang
Makna: Bekerja sangat keras.
20. Pasang Badan
Makna: Membela atau melindungi.
21. Cari Muka
Makna: Berusaha menarik perhatian atasan atau orang berpengaruh.
22. Buang Muka
Makna: Menghindari atau menunjukkan ketidaksukaan.
23. Setengah Hati
Makna: Tidak sungguh-sungguh.
24. Makan Asam Garam
Makna: Sudah banyak pengalaman hidup.
25. Tangan Kanan
Makna: Orang kepercayaan utama.
26. Uang Pelicin
Makna: Suap agar urusan dipermudah.
27. Main Mata
Makna: Bersekongkol diam-diam atau saling memberi kode rahasia.
28. Kutu Buku
Makna: Orang yang gemar membaca.
29. Buah Simala Kama
Makna: Situasi serba salah; dua pilihan sama-sama merugikan.
30. Keras Hati
Makna: Teguh pendirian atau sulit dibujuk.
31. Anak Emas
Makna: Orang yang sangat disayang atau diistimewakan.
32. Jalan Buntu
Makna: Tidak ada solusi.
33. Kepala Angin
Makna: Cepat marah atau mudah tersinggung.
34. Telinga Tipis
Makna: Mudah tersinggung oleh perkataan orang.
Menariknya, sebagian besar ungkapan ini bersumber dari pengalaman nyata kita: kerja fisik (“banting tulang”), warna dan tubuh (“darah biru”, “tebal muka”), hingga alam dan hewan (“air mata buaya”, “gulung tikar”).
Bahasa Indonesia tumbuh dari keseharian, dan justru di situlah daya pikatnya. Ia tidak kaku, tidak teknokratis. Ia hidup, bernapas, dan terus melahirkan metafora baru mengikuti perubahan zaman.
Sebab pada akhirnya, ungkapan bukan sekadar permainan kata. Ia adalah cara bangsa ini menyiasati kenyataan, kadang dengan humor, kadang dengan sindiran, tetapi selalu dengan imajinasi. Indonesia memang luar biasa. ***