Stadion Kanjuruhan punya jejak tragedi sejak 2005-2022. Paling akhir adalah kericuhan yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022) malam seperti mengulang kejadian serupa.
Seperti diberitakan, kericuhan dipicu kekalahan tuan rumah, Arema FC, atas Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3.
Para suporter Arema pun berbondong turun ke lapangan, sementara pihak keamanan menembakkan gas air mata untuk mengamankan situasi.
Asap tersebut diduga menjadi penyebab suporter sesak napas dan pingsan, hingga akhirnya memakan korban jiwa.
Stadion Kanjuruhan menjadi saksi terjadinya salah satu pertandingan sepak bola paling mematikan dalam sejarah Indonesia.
Dikutip dari Priceonomics, pertandingan sepak bola paling mematikan di dunia terjadi di Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964.
Pertandingan yang merupakan kualifikasi Olimpiade 1964 antara tuan rumah Peru melawan Argentina itu menewaskan lebih dari 300 orang.
Hampir 37 tahun kemudian, tragedi paling mematikan kembali terjadi di Stadion Olahraga Accra, Ghana. Pada 9 Mei 2001 tersebut, akibat kericuhan usai pertandingan Accra Hearts melawan Asante Kotoko, sebanyak 126 nyawa melayang.
Adapun menurut laporan terbaru, setidaknya 174 jiwa meninggal dunia dan 298 korban luka ringan akibat kericuhan yang semalam terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Sejarah Stadion Kanjuruhan
Stadion Kanjuruhan merupakan stadion sepak bola milik pemerintah Kabupaten Malang.
Letaknya berada di Jalan Trunojoyo, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dikutip dari laman UMM, stadion ini mulai dibangun pada 1997 dan diresmikan oleh Presiden kelima Megawati Soekarnoputri pada 9 Juni 2004.
Peresmian tersebut beriringan dengan pembukaan pertandingan sepak bola divisi 1 Liga Indonesia antara Arema melawan PSS Sleman.
Nama Kanjuruhan diambil dari sebuah kerajaan Hindu di Malang yang berdiri pada abad ke-6 Masehi.
Adapun bukti keberadaan Kerajaan Kanjuruhan, yakni Prasasti Dinoyo yang menceritakan bahwa kerajaan di Malang merupakan pusat aktivitas budaya dan politik pada kisaran tahun 760 sampai 1414.
Dengan berdirinya stadion baru ini, Arema yang semula bermarkas di Stadion Gajayana pun memindahkan markasnya ke Kanjuruhan.
Sempat mengalami renovasi Setelah sempat tidak digunakan karena pandemi Covid-19, Stadion Kanjuruhan terpilih menjadi salah satu lokasi babak penyisihan Piala Presiden 2022.
Menyambut hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang bersama Manajemen Arema FC pun melakukan renovasi dengan tujuan memperelok Stadion Kanjuruhan.
Diberitakan Dinas Kominfo Jawa Timur (10/6/2022), Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto mengatakan, dana renovasi berasal dari APBD dan sinergi dengan Presiden Arema FC, Gilang Widya Pramana alias Juragan 99.
Saksi Prestasi
Jadi saksi prestasi Arema dan Aremania Dilansir dari pemberitaan Tribun (2/10/2022), Arema beberapa kali mengukir prestasi selama bermarkas di Stadion Kanjuruhan.
Klub bola asal Malang ini sempat menjadi juara Indonesia Super League (ISL) pada 2009-2010.
Di tempat yang sama, pendukung Arema, Aremania, turut mendapatkan penghargaan sebagai The Best Supporter di ajang Copa Indonesia 2006.
Bukan hanya itu, pada 2010, panitia pelaksana (panpel) Arema di Stadion Kanjuruhan juga mendapatkan gelar Panpel Terbaik ISL 2009-2010.
Penghargaan ini disabet Panpel Arema lantaran mampu mencatatkan jumlah penonton terbanyak se-Asia Tenggara untuk musim kompetisi 2009-2010 dan 2010-2011.
Peristiwa membahagiakan lain di stadion ini, yakni saat Arema meraih empat trofi juara turnamen, mulai dari Super Copa Indonesia 2006, Menpora Cup 2013, SCM Cup 2015, dan terakhir Piala Presiden 2019.
Saksi Tragedi
Selain saksi prestasi, Stadion Kanjuruhan juga beberapa kali menjadi saksi tragedi kericuhan.
Masih dari sumber yang sama, pada 13 Juli 2005, pembatas tribun Stadion Kanjuruhan roboh saat Arema mengalahkan Persija Jakarta 1-0.
Akibat kerusuhan tersebut, seorang Aremania berusia 16 tahun meninggal dunia dan puluhan orang terluka.
Pada 15 April 2018, tragedi kembali terjadi usai laga Arema melawan Persib Bandung yang berakhir imbang 2-2.
Suporter yang tidak terima dan menilai wasit tak adil pun membuat kerusuhan hingga banyak korban pingsan akibat tambakan gas air mata.
Menurut Manajemen Arema FC saat itu, sebanyak 214 orang menjalani perawatan di rumah sakit, dan seorang Aremania meninggal dunia. ***