Uang selalu datang lebih dulu daripada darah.

Di Sumatera, uang bergerak lewat sungai, pelabuhan kecil, gudang sawit, dan ruang belakang rumah makan yang tidak pernah memasang papan nama. Di sanalah Ranuma Majestra merasa hidup. Tidak seperti ayahnya yang percaya pada simbol dan sumpah, atau Arjuna yang percaya pada waktu dan kata-kata, Ranuma percaya pada satu hal yang paling jujur: ketakutan yang dibayar tunai.

Di sebuah gudang tua di pinggiran Palembang, Ranuma duduk di kursi plastik, kaus hitam melekat di tubuhnya yang besar. Udara pengap, bau oli dan besi bercampur dengan asap rokok murah. Di hadapannya berdiri Malikara, lelaki Sumatera dengan wajah licin dan senyum yang terlalu sering muncul di saat yang salah.

“Pengiriman terakhir terlambat,” kata Ranuma tanpa basa-basi. “Uangku juga.”

Malikara mengangkat bahu. “Situasi panas, Puang. Banyak mata sekarang.”

Ranuma bangkit berdiri. Tingginya membuat Malikara harus mendongak. “Mata bisa ditutup,” katanya pelan. “Mulut bisa disuap. Tapi keterlambatan… itu pilihan.”

Malikara tersenyum, tapi keringat muncul di pelipisnya. “Aku sudah sepuluh tahun jaga jalur ini.”

“Dan sepuluh tahun cukup untuk lupa siapa yang memberi napas.”

Ia memberi isyarat kecil. Seorang anak buah mendekat, meletakkan koper hitam di lantai. Ranuma membukanya sedikit, cukup untuk memperlihatkan isinya: uang tunai, rapi, bau kertas baru.

“Ini kepercayaan,” kata Ranuma. “Dan kepercayaan tidak suka menunggu.”

Malikara menelan ludah. “Aku akan bereskan.”

Ranuma menutup koper itu lagi. “Kau harus.”

“Saya yang akan berangkat sendiri ke Makassar malam ini.”

“Sepertinya orang-orang Ranuma di Paotere mau bermain api.” Rabuma membatin.

Malikara hanya mengganguk.

Malam. Keesokan hari. Di Bugis, api kecil mulai menjalar.

Surajati berdiri di ruang makan rumah keluarga, memandangi peta laut tua yang digantung ayahnya sejak lama. Safira duduk di seberang, mencatat sesuatu di buku kecil.

“Ranuma menarik terlalu banyak,” kata Safira tanpa menoleh. “Orang-orang mulai bicara.”

“Dia selalu begitu,” jawab Surajati.

“Dulu ayahmu menahannya.”

Surajati terdiam. Itulah masalahnya sekarang. Ayahnya masih hidup, tapi kendalinya mulai longgar. Dan Ranuma mencium celah itu seperti anjing mencium darah.

Suara gaduh terdengar dari luar. Seorang anak buah masuk tergesa.

“Puang Surajati,” katanya. “Ada masalah di pelabuhan. Ada orang-orang dari Sumater ribut dengan orang kita.”

Surajati memejamkan mata sesaat. “Ranuma?”

Anak buah itu mengangguk.

Surajati mengambil jaketnya. “Siapkan mobil.”

Safira berdiri. “Aku ikut.”

Pelabuhan Paotere malam itu tidak seperti biasanya. Lampu-lampu kapal menyala terang, tapi suasananya tegang. Sekelompok lelaki berteriak dalam bahasa yang berbeda, saling dorong, tangan-tangan meraba pinggang.

Ranuma, yang datang ke Makassar tanpa singgah itu, berdiri di tengah, seperti api unggun. Suaranya keras, penuh tawa yang tidak membawa kegembiraan.

“Kalau kalian tak sanggup kerja cepat, aku bisa cari orang lain!” teriaknya.

Seorang lelaki maju selangkah. “Kau tidak bisa seenaknya…”

Tampak logatnya adalah orang Sumatera.

Ranuma menghantam wajahnya tanpa peringatan. Lelaki itu jatuh. Darah langsung mengalir.

Surajati tiba tepat saat teriakan berubah menjadi kepanikan.

“Cukup!” serunya.

Ranuma menoleh, matanya menyala. “Kau ikut campur?”

“Aku mencegah kebodohan,” jawab Surajati dingin.

“Kebodohan?” Ranuma tertawa. “Ini cara kerja dunia kita!”

Surajati melangkah mendekat, menatap mata saudaranya. “Bukan dengan membakar rumah sendiri.”

Beberapa orang mulai mundur. Ketegangan menggantung seperti tali yang ditarik terlalu kencang.

“Pergi,” kata Surajati pada orang-orang Sumatera. “Sekarang.”

Mereka ragu, lalu pergi satu per satu. Ranuma masih berdiri, napasnya berat.

“Kau pikir ayah akan senang kau menghalangiku?” katanya.

“Ayah akan marah kalau kau memicu perang yang tidak perlu.”

Ranuma mendekat, wajah mereka hampir bersentuhan. “Perang selalu perlu. Hanya waktunya yang dipilih.”

Di Sumatera, Malikara memilih waktunya sendiri.

Malam setelah insiden di pelabuhan, sebuah truk logistik milik Majestra terbakar di jalan lintas Sumatera. Api menjilat langit. Tidak ada korban jiwa, pesan itu jelas: peringatan.

Berita itu sampai ke Makassar sebelum subuh.

Daeng Ranrang mendengarnya dari ranjang, wajahnya pucat, napasnya berat. Surajati berdiri di samping, sementara Safira menunggu di dekat pintu.

“Malikara,” kata Daeng Ranrang pelan. “Aku sudah lama mencium bau busuk kawanmu itu.”

Ranuma masuk, wajahnya keras. “Izinkan aku menyelesaikannya.”

Daeng Ranrang menatapnya lama. “Dengan apa? Api?”

Ranuma tidak menjawab.

Daeng Ranrang menoleh pada Surajati. “Apa pendapatmu?”

Surajati menarik napas. “Api tidak boleh dibalas api. Kita akan habis.”

Ranuma mendengus. “Kau bicara seperti orang Jawa.”

Surajati menatapnya tajam. “Dan kau bertindak seperti anak kecil yang diberi korek api. Membakar selembar kertas, lalu terbakarlah satu rumah.”

Sunyi jatuh. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan.

Malam itu, Surajati menerima pesan dari Talita.

“Ada aliran uang aneh dari Sumatera ke beberapa orang terkait pemerintah. Aku belum punya bukti, tapi arahnya jelas.”

Surajati menatap layar lama. Dunia yang ia coba jauhi kini bertemu di satu titik: uang, kekuasaan, dan kebohongan.

Di kamar lain, Ranuma menelpon Malikara.

“Kau bermain api,” kata Ranuma.

Suara Malikara tenang. Terlalu tenang. “Api membuat orang cepat bergerak.”

“Jangan lupa siapa yang memberimu bensin.”

Malikara tertawa kecil. “Bensin bisa dicari di mana saja, Puang.”

Telepon ditutup.

Ranuma memukul dinding. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang asing: kehilangan kendali.

Di beranda rumah, Surajati berdiri sendirian, memandangi laut. Safira mendekat.

“Ini tidak akan berhenti,” kata Safira.

Surajati mengangguk. “Aku tahu.”

“Ranuma akan membuat kesalahan besar.”

Surajati menatap ombak yang datang dan pergi. “Dan aku akan dipaksa membersihkannya.”

Safira menatapnya, matanya penuh arti. “Atau mengambil alih.”

Surajati tidak menjawab. Tapi laut seolah mengerti. Gelombangnya menghantam tiang rumah lebih keras malam itu, seolah menandai satu hal yang tak bisa dihindari lagi:

Api sudah menyala.

Dan di keluarga Majestra, api selalu meminta darah.

Bersambung ke Darah di Tanah Warisan #5: Daeng Ranrang Jatuh