Sekilas, duku dan langsat tampak nyaris tak ada bedanya. Sama-sama bulat kecil, berkulit cokelat kekuningan, dan tumbuh bergerombol di dahan pohon. Tak heran, dua buah tropis ini kerap dianggap sama, bahkan sering tertukar di pasar tradisional. Namun, di balik kemiripan itu, duku dan langsat menyimpan perbedaan yang cukup jelas—mulai dari rasa, tekstur, hingga karakter buahnya.

Duku (Lansium domesticum var. duku) dan langsat (Lansium domesticum var. pubescens) sebenarnya masih satu “keluarga”. Namun, duku merupakan hasil budidaya yang lebih selektif, sementara langsat tumbuh lebih alami di hutan atau pekarangan.

Pohon duku umumnya lebih pendek dan rapi, sedangkan pohon langsat bisa tumbuh tinggi dengan buah yang lebih jarang namun bergerombol panjang.

Perbedaan paling mudah dikenali ada pada kulitnya.

  • Langsat memiliki kulit lebih tipis, agak lengket karena getah, dan mudah pecah saat ditekan.
  • Duku berkulit lebih tebal, kering, dan mudah dikupas tanpa mengotori tangan.

Soal rasa, di sinilah “perdebatan selera” dimulai.

  • Langsat cenderung asam-manis, kadang getir jika belum terlalu matang.
  • Duku lebih konsisten manis, dengan daging buah lebih tebal dan lembut.

Biji langsat biasanya lebih besar dan pahit, sedangkan duku sering memiliki biji kecil atau bahkan tidak berbiji sama sekali.

Karena rasanya lebih manis dan tampilannya lebih “bersih”, duku umumnya memiliki harga jual lebih tinggi di pasaran. Langsat, meski lebih murah, tetap digemari karena kesegarannya dan sensasi asam yang khas.

Meski sering disamakan, duku dan langsat bukanlah buah yang identik. Duku unggul dalam rasa manis dan tekstur, sementara langsat menawarkan kesegaran asam yang khas. Keduanya sama-sama buah tropis kebanggaan Nusantara—tinggal soal selera, mana yang lebih menggoda lidah.

Yang pasti, baik duku maupun langsat, keduanya selalu menjadi penanda musim panen dan pengingat manisnya buah lokal Indonesia.