Nilai tukar rupiah kembali menjadi bahan percakapan. Setiap kali dolar Amerika Serikat menguat, kekhawatiran lama seakan muncul kembali. Pelaku usaha menghitung ulang biaya produksi. Masyarakat mencermati harga kebutuhan pokok. Di media sosial, perdebatan tentang ekonomi dan kebijakan pemerintah kembali menghangat.

Di tengah situasi seperti itu, ingatan melayang hampir tiga dekade ke belakang, ke masa ketika Indonesia menghadapi krisis yang jauh lebih dahsyat daripada hari ini.

Tahun 1998.

Saat itu, krisis moneter mengguncang fondasi ekonomi nasional. Rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.300 per dollar AS terjun bebas hingga berkali-kali lipat. Perusahaan bangkrut. Bank-bank runtuh. Harga kebutuhan melonjak. Jutaan orang kehilangan pekerjaan. Kepercayaan terhadap masa depan nyaris lenyap.

Pada masa itulah, dari sebuah kota kecil di ujung timur Sulawesi Tengah, muncul sebuah tindakan yang hingga kini layak dikenang sebagai pelajaran tentang nasionalisme yang diwujudkan dalam perbuatan.

Pelakunya bukan pejabat negara. Bukan pula tokoh yang setiap hari muncul di layar televisi nasional.

Namanya Murad Husain. Ia adalah mertua dari Zainul Arifin, Pangdam XXII/Tambun Bungai, juga mertua dari Ivan Sijaya, Bendahara DPD Partai Gerindra Sulteng. Ia juga adalah ayah dari Ketua DPC Partai Gerindra Banggai Sulianti Murad.

Dalam kesaksian Longki Djanggola, anggota DPR RI dan Gubernur Sulteng Periode 2011-2021, Murad Husain adalah pengusaha yang berpikir visioner. Seorang filantropis sejati. Seorang dermawan paripurna. Longki memang sangat dekat dengan Murad. Itulah juga mengapa kantor pertama DPD Gerindra Sulteng bisa memakai salah satu rumah gedung di Jalan Ir. H. Djuanda Nomor 77, Palu milik keluarga besar mendiang pengusaha ini.

Saya pribadi pun beruntung pernah bertemu dengannya semasa hidup.

Murad adalah seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit asal Luwuk.

Saat itu, di tengah kepanikan yang melanda hampir seluruh lapisan masyarakat, banyak orang memilih menyimpan dollar AS. Pilihan itu dapat dimengerti. Ketika rupiah terus merosot, dollar dianggap sebagai tempat berlindung yang aman.

Namun Murad Husain mengambil jalan berbeda.

Pada pertengahan Januari 1998, ia memutuskan merupiahkan simpanan devisanya sebesar US$ 3 juta melalui Bank Dagang Negara (BDN) Cabang Luwuk.

Keputusan itu membuat banyak orang terkejut.

Pada masa ketika setiap dollar terasa begitu berharga, Murad Husain justru melepas seluruh simpanan valasnya ke pasar. Langkah tersebut bukan sekadar transaksi bisnis. Di tengah suasana psikologis yang diliputi ketidakpastian, tindakan itu mengirimkan pesan bahwa masih ada pelaku usaha yang percaya pada masa depan rupiah dan masa depan Indonesia.

Yang menarik, tindakan tersebut dilakukan jauh dari Jakarta.

Bukan dari kawasan Sudirman.

Bukan dari Bursa Efek.

Bukan dari kantor-kantor konglomerasi nasional.

Melainkan dari Luwuk, kota yang saat itu bahkan jarang masuk dalam percakapan ekonomi nasional.

Di situlah letak maknanya.

Kadang-kadang, nasionalisme justru tumbuh paling kuat di tempat-tempat yang jauh dari pusat perhatian.

Dalam berbagai cerita yang beredar pada masa itu, langkah Murad Husain bahkan disebut melampaui tindakan sejumlah pengusaha besar nasional yang turut membantu menstabilkan pasar valuta asing.

Namun yang membuat kisah ini tetap hidup bukan semata karena besarnya angka tiga juta dollar AS.

Nilai sesungguhnya terletak pada konteks waktu ketika keputusan itu diambil.

Saat semua orang sedang takut.

Saat ketidakpastian menguasai pasar.

Saat menyimpan dollar adalah pilihan yang dianggap paling aman.

Murad Husain memilih melakukan hal yang sebaliknya.

Ia tidak menggelar konferensi pers. Ia tidak membangun narasi tentang dirinya sebagai penyelamat ekonomi. Ia tidak meminta penghargaan.

Ia hanya bertindak.

Di situlah barangkali letak perbedaan antara nasionalisme yang diucapkan dan nasionalisme yang dijalankan.

Dalam kehidupan publik hari ini, kata nasionalisme sering diucapkan dengan mudah. Ia hadir dalam pidato, seminar, media sosial, hingga spanduk-spanduk peringatan hari besar nasional.

Namun sejarah menunjukkan bahwa nasionalisme sering kali hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Membayar pajak dengan jujur.

Menjalankan usaha dengan baik.

Membuka lapangan pekerjaan.

Menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional ketika keadaan sedang sulit.

Murad Husain menunjukkan bentuk nasionalisme yang terakhir itu.

Ia tidak sedang berpolitik. Ia tidak sedang mencari popularitas. Ia sedang mengambil keputusan sebagai seorang warga negara yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap bangsanya.

Murad Husain dikenal sebagai pendiri dan pemilik PT Kurnia Luwuk Sejati, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tumbuh di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, ia membangun usaha dan menggerakkan roda ekonomi lokal. Banyak orang mengenalnya sebagai pengusaha. Sebagian mengenalnya sebagai tokoh masyarakat.

Namun, jauh sebelum berbagai identitas itu melekat, Murad Husain telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus dari memori masyarakat Banggai dan Sulawesi Tengah.

Jejak seorang pengusaha daerah yang, ketika Indonesia sedang berada di titik paling rapuh, memilih berdiri bersama negaranya.

Murad Husain wafat pada 17 Agustus 2021, tepat pada Hari Ulang Tahun Ke-76 Republik Indonesia.

Ada simbolisme yang menarik di sana.

Seolah perjalanan hidupnya ditutup pada hari yang selama puluhan tahun menjadi penanda perjuangan bangsa ini.

Tetapi warisan yang ia tinggalkan tidak ikut dimakamkan.

Warisan itu adalah teladan.

Bahwa kecintaan kepada Indonesia tidak selalu harus dinyatakan dengan pidato panjang.

Tidak selalu harus disertai slogan-slogan besar.

Kadang-kadang, ia hadir dalam sebuah keputusan yang sunyi. Keputusan yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Keputusan yang mengandung risiko. Keputusan yang lahir dari keyakinan bahwa bangsa ini layak dipercaya.

Di tengah perbincangan tentang melemahnya rupiah hari ini, kisah Murad Husain terasa relevan untuk dikenang kembali.

Bukan karena Indonesia sedang menghadapi krisis seperti 1998. Situasinya berbeda. Fondasi ekonomi Indonesia hari ini jauh lebih kuat. Cadangan devisa lebih besar. Sistem perbankan lebih sehat. Instrumen kebijakan lebih lengkap.

Namun satu hal tetap sama: setiap bangsa membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mengomentari keadaan, tetapi juga bersedia mengambil bagian dalam memperbaikinya.

Murad Husain pernah menunjukkan itu.

Dari Luwuk.

Dari pinggiran peta ekonomi Indonesia.

Dengan cara yang sederhana, tetapi bergaung jauh melampaui zamannya.

Tiga juta dollar mungkin hanya angka dalam catatan transaksi. Namun pada Januari 1998, angka itu menjelma menjadi sebuah pernyataan: bahwa ketika Indonesia sedang diuji, masih ada anak bangsa yang memilih berdiri di sisi rupiah. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata. ***