Tahu buah tome-tome?
Buah kecil bulat yang sekerabat dengan lobi-lobi, tetapi bagi kami di Parigi, Sulawesi Tengah, ia terasa punya “rasa sendiri”, lebih manis, lebih akrab, dan lebih dekat dengan kenangan masa kanak-kanak.
Bagi anak-anak yang tumbuh di Parigi hingga era 2000-an, tome-tome bukan sekadar buah. Ia menjadi helaian kenangan dari masa yang sudah lama terlewati itu. Kami biasa memanjatnya, menggalahnya, memetik, dan memakannya langsung di tempatnya tumbuh.
Saya lahir dan besar di Kampung Masigi, sekarang Kelurahan Masigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. Di sana, hingga saya menyelesaikan sekolah menengah pertama, buah bulat kecil ini adalah salah satu favorit kami.
Bila yang kurang durinya, kami memanjat pohonnya tanpa banyak pikir panjang. Kadang duduk di dahan yang aman lagi kukuh, bersandar pada batangnya yang hangat oleh matahari siang, sambil memetik satu per satu buah yang sudah matang. Kalau tidak cukup berani memanjat, ada galah panjang yang jadi perpanjangan tangan.
Pohon tome-tome di rumah nenek dan kakek saya ada tiga, besar-besar di sudut belakang halaman. Nenek dan kakek memang suka menanam pohon buah. Di halaman itu tumbuh berbagai jenis buah; di kebun seberang sungai kecil bernama Toraranga pun demikian, semacam dunia kecil yang penuh warna hijau.
Tapi dari semua itu, tome-tome selalu jadi favorit. Mungkin karena ia paling mudah dipanjat. Atau mungkin karena ia tidak menunggu untuk dimiliki, ia hanya perlu didekati.
Ada yang batangnya mulus, ada pula yang berduri. Buahnya pun tidak seragam: ada yang merah tua pekat, ada yang berwarna lebih cerah, bahkan kadang seperti kelereng marmer yang dipulas alam secara acak.
Kecil, bulat, sederhana. Ia berubah pelan-pelan: dari hijau, ke merah, lalu ke ungu tua, hampir hitam saat matang sempurna.
Waktu itu kami tidak tahu bahwa tanaman ini punya nama ilmiah: Flacourtia indica. Tanaman buah ini menyebar di Asia hingga Afrika. Kami juga tidak terlalu peduli bahwa ia masih satu kerabat dengan Flacourtia inermis (lobi-lobi yang masam itu) atau Flacourtia rukam yang batangnya sering penuh duri.
Bagi kami, ia hanya satu hal: tome-tome, buah yang ada di halaman, yang bisa dipanjat, dan dimakan sebelum pulang bermain.
Tome-tome tumbuh sebagai bagian dari lanskap kampung. Ia tidak dirawat secara khusus, tapi juga tidak dibiarkan begitu saja mati. Ia tumbuh di halaman samping, di belakang rumah, atau menjadi pembatas alami kebun, semacam pagar hidup yang sekaligus memberi hadiah kecil dari alam bagi siapa saja yang cukup sabar menunggu musimnya.
Yang menarik, tome-tome tidak pernah masuk pasar, apalagi swalayan.
Ia bukan mangga, bukan manggis, bukan pula langsat atau rambutan yang dipajang rapi di lapak-lapak penambang. Tidak ada yang menjualnya, tidak ada yang mengijonkannya.
Justru di situlah letak keistimewaannya.
Ia hanya bisa dimiliki dengan cara sederhana: dipetik langsung dari dahan, kadang sambil tergesa-gesa karena suara nenek dari bawah pohon memanggil pulang, atau melarang kami terlalu tinggi memanjat.
Kini, pohon-pohon itu sudah semakin jarang terlihat, bahkan di Kampung Masigi sendiri.
Mungkin karena ia bukan tanaman komoditas. Mungkin karena ia tidak cukup “menguntungkan” untuk ditanam massal. Atau mungkin karena dunia memang pelan-pelan mengganti halaman-halaman kampung dengan hal lain yang lebih cepat dan lebih rapi.
Tapi bagi kami yang pernah mengenalnya, tome-tome tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari halaman belakang rumah di kampung, ke ingatan, ke kenangan masa kecil.
Ia menjadi kenangan yang tidak perlu dipanggil keras-keras untuk kembali. Cukup sesekali muncul, dan tiba-tiba kita bisa tersenyum sendiri, mengingat tangan yang lengket oleh getah buah, kaki yang kotor oleh tanah halaman, dan tawa yang tidak pernah dihitung waktunya.
Terima kasih kepada Ustadz Muhammad Nur ZA. Damar, yang mengingatkan kembali tentang tome-tome di linimasa Facebook-nya.
Kadang memang begitulah kenangan akan masa kanak-kanak kita bekerja: ia tidak pergi, hanya menunggu satu nama disebut lagi, lalu mengalirlah kisahnya. ***