Nama itu tertulis rapi di manifes penerbangan. Florencia Lolita Wibisono. Sebaris huruf yang tak pernah disangka akan dibaca dengan dada sesak, dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Ia adalah satu dari mereka yang berangkat dengan harapan biasa—pulang, bekerja, melanjutkan hidup—namun tak pernah tiba.

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, rute Yogyakarta–Makassar, jatuh di pegunungan antara Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu, 17 Januari 2026. Sejak saat itu, nama Florencia tak lagi sekadar identitas. Namanya terus disisipkan dalam doa dan harapan. Berulang-ulang.

Florencia—dipanggil Olen di rumah—berdarah Manado. Ibunya dari Kendis, Minahasa. Di lingkar keluarga, ia adalah tawa yang mudah mekar. Ceria, ringan, seperti pagi yang tak pernah risau pada mendung. Tak seorang pun membayangkan, perjalanan itu akan menjadi jarak terjauh yang pernah ia tempuh dari orang-orang yang mencintainya.

Minggu pagi, keluarga Olen mulai berkemas. Bukan koper liburan. Bukan pakaian pesta.

Mereka menyiapkan diri menuju Makassar, membawa harapan yang tersisa, sekecil apa pun itu.

“Hari ini keluarga persiapan ke Makassar, dan tiba siang atau sore di Bandara Sultan Hasanuddin,” kata Juwita, kerabatnya, dengan suara yang berusaha tetap berdiri, meski goyah.

Di rumah, waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa panjang. Setiap kabar ditunggu dengan jantung yang berdegup lebih kencang.

“Kami masih menunggu kabar Olen. Ini begitu menyakitkan bagi kami. Semoga mukjizat nyata dan Olen segera ditemukan,” ujar Anastasya, yang tetap menaruh harap, Olen Ditemukan hidup. Suaranya lirih, seperti doa yang diucapkan sambil menahan tangis.

Ada satu kalimat yang terus berputar di ingatan keluarga. Kalimat sederhana, diucapkan dengan senyum, jauh sebelum kabut duka turun.

“Olen so mo kaweng.” – Olen mau menikah.

Olen sedang menyiapkan masa depan. Tentang hari bahagia, tentang hidup yang ingin ia bangun. Tanggalnya belum disebut, tapi rencana itu sudah tinggal menunggu waktu. Kini, masa depan itu menggantung—di antara langit yang mendung dan doa-doa yang tak henti dipanjatkan.

Sementara itu, di Gunung Bulusaraung, manusia berhadapan dengan alam. Tim SAR gabungan merayap di punggung gunung, menantang hujan, kabut, dan jurang. Badan pesawat ATR ditemukan di puncak, terpecah dalam sunyi yang tak pernah mereka minta.

Minggu, 18 Januari 2026, pukul 14.20 WITA, satu jenazah penumpang pria ditemukan di lereng Bukit Bulusaraung. Di dasar jurang sedalam dua ratus meter. Tak jauh dari serpihan pesawat yang berserak seperti luka.

Koordinator Misi SAR, Muhammad Arif Anwar, menyebut jenazah itu diduga kuat penumpang pesawat PK-THT.

“Korban ditemukan di dasar jurang. Saat ini upaya evakuasi sedang berlangsung,” katanya.

Hujan tak memberi jeda. Kabut menutup pandangan hingga hanya lima meter. Rencana penurunan personel sempat dibatalkan. Keselamatan menjadi batas yang tak bisa ditawar.

Di gunung, para penyelamat terus bekerja. Di rumah, keluarga terus berdoa. Dan di antara kabut Bulusaraung, satu nama terus dipanggil—pelan, berulang, dengan harap yang tak ingin pupus: Olen.