Kabut turun ke atas Danau Lindu seperti napas panjang yang dilepaskan oleh bumi. Ia tidak jatuh, tidak pula melayang; ia sekadar hadir, mengaburkan batas antara air dan langit, antara pohon dan bayangannya sendiri. Dalam kabut itu dunia tampak lebih tua, bukan oleh umur, melainkan oleh ingatan yang menebal.

Danau itu terbentang luas di pelukan pegunungan biru. Pada pagi hari, airnya pucat seperti logam yang belum disentuh api. Permukaannya tenang, tetapi ketenangannya bukan kosong. Ada sesuatu yang tertahan di dalamnya, sesuatu yang tidak ingin naik, tetapi juga tidak pernah tenggelam.

Orang-orang Lindu tidak pernah menyebutnya sekadar danau.

“Ini tubuh,” kata mereka.
“Ini ingatan.”
“Ini napas yang tidak kita miliki, tetapi kita tumpangi.”

Aru berdiri lama di tepi air, sepatu kotanya menginjak tanah lembap yang dingin. Ia pulang dengan kepala penuh angka: kadar oksigen, kandungan sedimen, grafik kemiringan lereng. Namun di hadapan danau ini, segala rumus terasa seperti daun kering yang rapuh.

Tua Danga berdiri di sampingnya.

“Air ini mengenalmu,” katanya pelan.

Aru tersenyum tipis. “Air tidak mengenal siapa pun, Tua.”

“Engkau yakin?” Danga memandang permukaan danau yang berkilat samar. “Mengapa engkau merasa diperhatikan?”

Aru tidak menjawab.

***

Di lereng barat, tanah digali tanpa doa. Mesin-mesin meraung seperti binatang besi. Excavator mengeruk perut bukit, pompa-pompa air berdengung siang dan malam, mengisap lumpur dan membuangnya ke aliran kecil yang menuju danau.

Rauf berdiri mengawasi.

Di sampingnya, Harlan, lelaki kota dengan jas ringan dan senyum tipis, berkata, “Lihatlah, sebentar lagi desa ini berubah. Emas akan memberi mereka masa depan.”

Rauf menatap danau yang tampak dari kejauhan. “Masa depan seperti apa?”

“Yang tidak lagi bergantung pada ikan dan cuaca.”

Rauf diam. Di dalam dirinya ada suara lain: suara masa kecil, suara dayung kayu, suara ibunya yang pernah berbisik, Danau itu mengingat.

Ketika air mulai keruh, Maya yang pertama menyadarinya.

“Kekeruhan ini bukan dari hujan,” katanya kepada Aru. “Ini dari atas.”

Aru mengangguk. “Lumpur bercampur logam. Jika ini terus, danau akan kehilangan napasnya.”

***

Malam itu ombo diumumkan.

Gong dipukul satu kali, panjang. Orang-orang berkumpul di rumah adat. Perempuan membawa sesaji; laki-laki menunduk.

Tua Danga berdiri di tengah lingkaran.

“Ombo adalah jeda,” katanya. “Bukan bagi tangan, tetapi bagi keserakahan.”

Seorang pemuda, Lere, bertanya, “Apakah jeda cukup menghentikan mesin?”

Danga menjawab, “Tidak semua yang bergerak dapat dihentikan dengan tangan. Ada yang berhenti karena ia sendiri mencapai batas.”

Ritual dilakukan sebelum fajar.

Kabut tebal menggantung rendah di atas danau. Perahu kecil dihanyutkan membawa sesaji: beras, bunga, dan seekor ayam putih yang dilepas perlahan ke air.

Danga berlutut, menyentuh permukaan danau.

“Air, kami mengaku telah lupa,” ucapnya. “Jika kami melampaui batas, ingatkanlah.”

Gong dipukul tiga kali.

Suara itu merambat melalui tanah. Aru merasakan getaran di telapak kakinya. Permukaan air bergetar tipis, tanpa angin.

Rauf menyaksikan dari kejauhan. Harlan mendekat dan berbisik, “sugesti.”

Namun Rauf melihat sesuatu yang tak dapat ia namai: lingkaran-lingkaran kecil muncul di permukaan danau, seolah ada yang bergerak di bawahnya.

Beberapa hari kemudian, hujan turun deras.

Tanah di lereng yang telah dilukai menjadi lunak. Lumpur mengalir deras ke arah danau. Mesin-mesin tetap bekerja. Pompa air meraung lebih keras, seakan hendak melawan suara hujan.

Malam itu, kabut tidak lagi tipis. Ia turun berat, hampir padat.

Seorang penjaga tambang berlari ke rumah Rauf.

“Bos! Air naik!”

Rauf keluar. Dari lereng terdengar suara aneh, bukan gemuruh biasa, melainkan seperti dengusan panjang yang datang dari dalam bumi.

Tanah bergetar.

Excavator yang berdiri di tepi lubang tambang tiba-tiba miring. Roda besarnya tenggelam perlahan, seperti disedot sesuatu dari bawah. Pompa-pompa air yang masih menyala mendadak mati satu per satu, bukan karena listrik padam, melainkan seperti ditelan keheningan.

“Tarik mundur!” teriak Harlan.

Namun suara itu tenggelam dalam bunyi lain, bunyi yang menyerupai tarikan napas raksasa.

Lubang tambang yang menganga berubah menjadi pusaran lumpur. Air dari anak sungai meluap, tetapi arah alirannya ganjil: bukan menjauh dari danau, melainkan seolah ditarik kembali ke pusat cekungan.

Excavator itu perlahan-lahan terseret. Besinya berderit, lampunya berkedip, lalu padam. Separuh badan mesin itu hilang di dalam lumpur yang berputar. Beberapa pekerja berteriak ketakutan.

Pompa air yang besar, yang selama ini mengisap lumpur dari perut bumi, terangkat sebentar seperti mainan, lalu jatuh dan tenggelam ke dalam pusaran.

“Apa ini?” Harlan berteriak.

Tak seorang pun menjawab.

Dari arah danau terdengar bunyi yang dalam, seperti gong raksasa yang dipukul dari bawah air.

Rauf berdiri membeku. Di matanya terpantul cahaya aneh: bukan kilat, bukan api, melainkan kilau yang datang dari permukaan danau yang kini bergelombang tanpa angin.

Air danau naik setapak demi setapak. Tidak deras, tetapi pasti. Seperti seseorang yang berjalan menuju sesuatu yang telah lama ditunggu.

Dalam kabut yang menebal, orang-orang melihat bayangan gelap bergerak di permukaan air, seperti punggung makhluk besar yang perlahan berputar.

“Danau marah,” bisik seorang perempuan.

“Danau mengingat,” kata Tua Danga yang tiba entah dari mana.

Tanah di bawah tambang runtuh seluruhnya. Lubang itu terisi air bercampur lumpur dalam waktu yang tak masuk akal. Excavator terakhir yang masih berdiri perlahan-lahan terperosok, tenggelam hingga hanya ujung lengannya yang tampak, seperti tangan yang meminta tolong, lalu hilang.

Keheningan jatuh.

Hujan berhenti.

Kabut perlahan menipis.

Di tempat tambang itu berdiri, kini hanya ada cekungan air yang tenang, menyatu dengan aliran kecil menuju danau, seakan-akan luka itu tak pernah ada.

Keesokan paginya, warga berdiri di tepi danau.

Air masih keruh, tetapi permukaannya tenang. Tak ada lagi suara mesin.

Harlan telah pergi sebelum matahari terbit.

Rauf berdiri memandang danau dengan wajah pucat.

“Ini kebetulan geologi,” katanya, tetapi suaranya tak lagi yakin.

Aru berdiri di sampingnya. “Mungkin.”

“Mungkin?” ulang Rauf.

Aru menatap air. “Ilmu menjelaskan bagaimana tanah runtuh. Tetapi ia tidak selalu menjelaskan mengapa pada saat tertentu.”

Rauf terdiam.

Tua Danga mendekat.

“Engkau bertanya kemarin, mengapa tanah diam ketika digali,” katanya kepada Rauf. “Ia tidak diam. Ia menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu engkau selesai melampaui batas.”

Rauf memejamkan mata. “Aku ingin diingat.”

“Engkau sudah diingat,” jawab Danga. “Pertanyaannya: sebagai apa?”

***

Ombo diperpanjang.

Selama berbulan-bulan tak seorang pun menyentuh lereng barat. Warga menanam kembali pohon-pohon muda. Aru memeriksa air danau setiap minggu. Maya mencatat perubahan yang perlahan membaik.

Suatu senja, ketika matahari turun seperti kain emas tipis di atas permukaan air, Rauf duduk sendirian di tepi danau.

“Aku takut dilupakan,” katanya pelan.

Angin bergerak lembut.

“Yang patut ditakuti bukan dilupakan,” suara Aru terdengar dari belakangnya, “melainkan tidak pernah benar-benar hidup selaras.”

Rauf menunduk. “Apakah danau memaafkan?”

Aru memandang air yang kini mulai jernih kembali. “Danau tidak menghitung seperti kita.”

“Lalu?”

“Ia mengingat. Dan dalam ingatan itu ada kesempatan.”

Rauf menatap bayangannya sendiri di air. Kini bayangan itu tidak lagi terpecah oleh gelombang.

“Aku tidak akan menggali lagi,” katanya pelan.

Dari kejauhan, gong dipukul sekali.

Bukan sebagai peringatan.

Melainkan sebagai penanda bahwa batas telah dilalui, dan dihormati kembali.

Danau Lindu terbaring tenang dalam cahaya senja. Ia tidak berbicara. Ia tidak menghakimi.

Ia hanya bernapas.

Menyimpan nama-nama.
Menyimpan kesalahan.
Menyimpan pengampunan.

Seperti selalu.

Sejak sebelum manusia tahu cara menyebut dirinya.

Dan mungkin akan tetap demikian, lama setelah manusia kembali belajar mendengar air.

***

Beberapa orang desa baru benar-benar memahami apa yang dikerjakan di lereng itu ketika mereka melihat sendiri bagaimana batu diperlakukan.

Batu yang diangkat dari perut gunung tidak langsung berkilau. Ia dihancurkan terlebih dahulu, dipukul, digiling, diremukkan hingga menjadi bubuk halus berwarna kelabu. Bubuk itu kemudian dimasukkan ke dalam drum-drum besi besar yang terus berputar siang dan malam.

“Di dalamnya dicampur apa?” tanya Lere suatu hari kepada seorang pekerja yang diam-diam ia kenal sejak kecil.

“Air… dan bahan kimia,” jawab lelaki itu ragu.

Bau tajam menyengat sering tercium ketika angin berbalik arah. Bau yang tidak seperti lumpur atau tanah basah, melainkan getir dan menusuk, seperti besi yang dilarutkan dalam sesuatu yang tak terlihat.

Maya suatu kali mendekati salah satu sisa drum yang tertinggal setelah tambang tenggelam. Ia berjongkok dan memeriksa cairan yang mengering di dinding logam.

“Air raksa,” katanya pelan kepada Aru. “Dan mungkin sianida.”

Aru mengangguk muram.

Air raksa, logam cair yang licin seperti bayangan. Ia mengikat butir-butir emas yang terlalu halus untuk ditangkap tangan. Setelah itu campuran dipanaskan, dan uap tak kasatmata naik ke udara. Emas tertinggal. Uapnya, tak seorang pun benar-benar tahu ke mana ia pergi.

Sianida, cairan bening yang mampu memisahkan emas dari batu, tetapi juga memisahkan kehidupan dari napas. Jika bocor ke tanah, ia meresap tanpa suara. Jika sampai ke air, ia bekerja seperti bisikan pelan yang mematikan.

“Berapa banyak yang sudah masuk ke danau?” tanya Lere.

Aru memandang air yang kini perlahan menjernih kembali. “Lebih dari yang bisa kita lihat.”

“Dan lebih dari yang bisa kita hitung,” tambah Maya.

Mereka terdiam.

Tiba-tiba Lere berkata lirih, “Jadi emas itu… tidak pernah benar-benar murni?”

Aru menoleh.

“Maksudmu?”

“Ia lahir dari racun.”

Maya menjawab pelan, “Tidak. Racunlah yang kita gunakan untuk mengambilnya.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Rauf mendengar percakapan itu dari kejauhan. Ia teringat drum-drum yang dulu berdiri berjajar, cairan kelabu yang berkilat samar di dalamnya. Ia teringat bagaimana ia pernah memegang butiran emas hasil pembakaran amalgam, kecil, padat, berat di telapak tangan.

Berat bukan hanya oleh massa.

Tetapi oleh sesuatu yang lain.

“Aku kira emas itu bersih,” katanya suatu malam kepada Aru ketika mereka duduk di tepi danau.

“Emas bersih,” jawab Aru. “Cara kita mengambilnya yang kotor.”

Rauf memandang permukaan air yang memantulkan bulan separuh.

“Apakah danau akan menyimpan racun itu selamanya?”

Aru tidak langsung menjawab.

“Air memiliki cara untuk memulihkan dirinya,” katanya kemudian. “Tetapi bukan tanpa bekas.”

“Seperti manusia?” tanya Rauf.

“Seperti manusia.”

***

Waktu berjalan pelan setelah tambang lenyap.

Air danau berangsur jernih. Tanaman muda tumbuh di lereng bekas luka. Namun pada hari-hari tertentu, ketika matahari tepat di atas kepala, warna air di satu sudut tampak sedikit berbeda, lebih gelap, lebih dalam, seolah menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya terurai.

Orang-orang desa tidak lagi membicarakan emas.

Mereka membicarakan batas.

Tua Danga suatu sore memanggil Aru, Maya, Rauf, dan Lere ke tepi danau.

“Kalian melihat bagaimana tanah menelan mesin,” katanya pelan.

“Itu longsor,” sahut Lere, masih mencoba rasional.

“Ya,” kata Danga, “longsor.”

Ia tersenyum tipis.

“Dan apa itu longsor?”

“Tanah yang kehilangan pegangan,” jawab Maya.

“Atau tanah yang mengembalikan apa yang bukan miliknya,” tambah Danga.

Rauf memejamkan mata.

“Apakah danau marah?” tanyanya.

Danga menggeleng.

“Air tidak marah. Ia hanya setia pada keseimbangan.”

“Keseimbangan yang kita ganggu,” bisik Rauf.

“Yang engkau ganggu,” koreksi Danga lembut.

Tak ada kemarahan dalam suaranya.

Hanya penegasan.

Pada malam terakhir ombo, seluruh desa kembali berkumpul.

Tidak ada ayam yang dilepas. Tidak ada sesaji besar. Hanya gong yang dipukul satu kali.

Aru berdiri di tepi air, merasakan angin menyentuh wajahnya.

“Ilmuku menjelaskan bagaimana emas diikat oleh air raksa,” katanya kepada Maya. “Bagaimana sianida melarutkan logam. Bagaimana tanah runtuh karena kehilangan struktur.”

“Dan?” tanya Maya.

“Tidak satu pun menjelaskan mengapa aku merasa diawasi.”

Maya tersenyum tipis.

“Mungkin karena engkau akhirnya mendengar.”

“Mendengar apa?”

“Bahwa dunia tidak selalu perlu ditaklukkan untuk dipahami.”

Di sisi lain, Rauf berdiri sendirian.

Ia menatap danau dengan perasaan yang tak lagi bercampur ambisi. Hanya rasa kecil—kecil dan sadar.

“Aku pernah ingin menjadi lebih besar dari tempat ini,” gumamnya.

Angin menggerakkan permukaan air.

“Kini aku tahu,” lanjutnya, “aku hanyalah bagian darinya.”

Tak ada jawaban.

Namun dalam keheningan itu, ia merasa diterima.

***

Pada suatu pagi yang sangat hening, ketika kabut turun tipis dan matahari belum sepenuhnya lahir, Danau Lindu tampak seperti cermin yang memantulkan langit tanpa cacat.

Tidak ada bekas excavator.
Tidak ada drum besi.
Tidak ada pompa yang meraung.

Yang tersisa hanya air.

Air yang menyimpan sisa-sisa logam tak kasatmata.

Air yang menyimpan kenangan tentang racun dan doa.

Air yang menyimpan nama-nama.

Di dalam kedalamannya yang tak terjangkau cahaya, mungkin masih ada jejak air raksa yang pernah menyentuh lumpur. Mungkin masih ada molekul sianida yang telah terurai menjadi bentuk lain. Ilmu akan menyebutnya proses kimia, reaksi, degradasi.

Namun bagi danau, itu hanyalah ingatan.

Danau tidak mencatat seperti buku.

Ia tidak menghitung seperti manusia.

Ia menyerap.

Ia mengendapkan.

Ia mengembalikan dalam bentuk yang berbeda.

Pada hari-hari tertentu, jika seseorang berdiri sangat diam di tepi air, ia mungkin akan merasakan sesuatu, bukan suara, bukan bayangan, melainkan kesadaran tipis bahwa dirinya sedang dilihat oleh sesuatu yang lebih tua dari segala nama.

Bukan untuk diadili.

Bukan untuk dihukum.

Melainkan untuk diingatkan.

Bahwa emas tidak pernah lebih berharga dari keseimbangan.

Bahwa racun tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah rupa.

Bahwa keserakahan adalah gema yang selalu kembali kepada pemiliknya.

Dan bahwa air, yang tampak lembut dan tak berdaya, menyimpan kekuatan untuk menelan besi, menenggelamkan mesin, dan meredam ambisi.

Manusia datang dan pergi.
Tambang dibuka dan ditutup.
Nama-nama diucapkan lalu dilupakan.

Tetapi danau tetap.

Ia bernapas dalam diam.
Ia menunggu tanpa tergesa.
Ia mengingat tanpa dendam.

Dan pada akhirnya, mungkin bukan manusialah yang menjaga danau.

Melainkan danau yang, dengan kesunyian yang tak terukur, menjaga manusia, dari dirinya sendiri.

Tenabang, Jakarta Pusat, Senin, 15 Februari 2026