Ketegangan global antara Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara terus meningkat. Mulai dari konflik AS–Iran di Timur Tengah hingga isu geopolitik di Greenland, situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia III.

Kecemasan tersebut diperkuat oleh peringatan pakar perang nuklir sekaligus jurnalis investigatif, Annie Jacobsen. Ia menilai, jika perang nuklir benar-benar terjadi, dampaknya akan berlangsung sangat cepat dan mematikan.

Jacobsen memperkirakan sekitar 5 miliar orang bisa tewas dalam waktu kurang dari satu jam setelah serangan nuklir pertama diluncurkan.

Peringatan itu ia sampaikan dalam wawancara di podcast The Diary of a CEO.

Menurut Jacobsen, rudal balistik antarbenua (ICBM) hanya membutuhkan waktu sekitar 26 menit 40 detik untuk mencapai Pantai Timur AS jika ditembakkan dari Rusia.

Lebih lanjut, Jacobsen mengatakan umat manusia sesungguhnya hanya memiliki waktu kurang dari 90 menit sebelum dunia berubah total jika perang nuklir meletus.

Sejak peluncuran nuklir terdeteksi, seluruh keputusan krusial harus diambil dalam hitungan menit.

Presiden Amerika Serikat, misalnya, hanya memiliki waktu sekitar enam menit untuk memutuskan serangan balasan melalui dokumen rahasia yang dikenal sebagai Black Book atau “Buku Hitam”.

Namun, kehancuran tidak berhenti pada ledakan nuklir.

Jacobsen mengutip penelitian Brian Toon, profesor ilmu atmosfer, yang menyebut dampak lanjutan justru bisa jauh lebih mematikan.

Debu dan asap dari ledakan nuklir akan menutup sinar matahari dan memicu penurunan suhu ekstrem, atau yang dikenal sebagai nuclear winter.

Akibatnya, sebagian besar wilayah dunia akan tertutup salju selama bertahun-tahun dan sektor pertanian terancam gagal total.

“Sebagian besar dunia, terutama wilayah lintang tengah, akan tertutup lapisan es. Daerah seperti Iowa dan Ukraina bisa bersalju hingga 10 tahun,” kata Jacobsen, dikutip dari The Economic Times (22/4/2025).

“Ketika pertanian gagal, manusia akan mati kelaparan,” sambungnya.

Tak hanya itu, rusaknya lapisan ozon juga membuat paparan sinar matahari menjadi sangat berbahaya.

Dalam kondisi ekstrem tersebut, manusia diperkirakan harus hidup di bawah tanah dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Jacobsen menyebut hanya dua negara yang memiliki peluang realistis untuk bertahan hidup dalam skenario terburuk, yakni Selandia Baru dan Australia, karena dinilai masih mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Negara Paling Aman Jika Perang Dunia III Pecah

Sementara itu, sejumlah negara kerap dianggap relatif aman jika Perang Dunia III benar-benar terjadi.

Penilaian tersebut didasarkan pada faktor netralitas politik, isolasi geografis, serta minimnya keterlibatan dalam konflik global, dikutip dari The Economic Times (24/11/2024).

Berikut 10 negara yang sering disebut paling aman:

1. Swiss
Swiss dikenal netral selama berabad-abad dan tak terlibat perang sejak 1815. Perlindungan Pegunungan Alpen, status negara terkurung daratan, serta ribuan bunker nuklir membuatnya dinilai sangat siap menghadapi krisis.

2. Selandia Baru
Lokasinya yang terpencil di Pasifik Selatan menjauhkan negara ini dari pusat konflik global. Selandia Baru juga berada di peringkat atas Indeks Perdamaian Global.

3. Islandia
Pulau terpencil di Atlantik Utara ini minim kepentingan strategis global dan dikenal sebagai salah satu negara paling damai di dunia.

4. Indonesia
Indonesia konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif sejak era Presiden Soekarno. Sebagai negara kepulauan yang independen, Indonesia cenderung menjaga jarak dari konflik global, seperti dilaporkan harian Inggris Metro (3/12/2025).

Baca juga: Laporan Rahasia: AS Diprediksi Kalah Jika Perang Terbuka dengan China

5. Bhutan
Negara di kawasan Himalaya ini mengedepankan filosofi Gross National Happiness dan menyatakan netralitas sejak bergabung dengan PBB pada 1971.

6. Irlandia
Irlandia memilih tetap netral dan tidak bergabung dengan NATO, sehingga kecil kemungkinan menjadi target konflik global.

7. Fiji
Terletak jauh di Samudra Pasifik, Fiji berada di luar jalur utama konflik geopolitik dunia dan memiliki sumber daya alam yang melimpah.

8. Australia
Isolasi geografis, populasi yang relatif kecil, dan kekayaan sumber daya alam membuat Australia dinilai mampu bertahan pascakonflik besar.

9. Norwegia
Meski anggota NATO, Norwegia memiliki medan terjal, populasi kecil, dan lokasi di kawasan Arktik yang dapat mengurangi dampak konflik.

10. Chili
Dilindungi Pegunungan Andes dan Samudra Pasifik, Chili dinilai memiliki ketahanan berkat sumber daya alam dan infrastruktur yang relatif maju.