Pertanyaan “mana yang duluan, telur atau ayam?” mungkin adalah teka-teki tertua yang masih hidup sehat sampai hari ini. Ia lebih awet daripada hubungan LDR dan lebih sering diperdebatkan daripada aturan parkir. Dari meja makan sampai ruang kuliah, dari warung kopi hingga podcast filsafat, pertanyaan ini selalu berhasil memecah konsentrasi manusia.

Mari kita bedah, dengan serius tapi santai.

Versi Warung Kopi: Ayam Dulu, Jelas! Argumen klasiknya sederhana: kalau tidak ada ayam, siapa yang bertelur? Logikanya lurus, seperti jalan tol. Ayam bertelur, titik. Telur tanpa ayam itu absurd, seperti mie instan tanpa air.

Biasanya argumen ini ditutup dengan seruput kopi dan senyum kemenangan.

Versi Ilmuwan: Telur Dulu, Tapi Bukan Telur Ayam. Nah, di sinilah suasana mulai berubah. Ilmuwan datang membawa kata-kata sakti Opa Darwin: Evolusi.

Menurut sains, makhluk mirip ayam—sebut saja “proto-ayam”—bertelur. Suatu hari, karena mutasi genetik kecil (yang mungkin terjadi tanpa izin siapa pun), lahirlah seekor anak yang resmi bisa disebut ayam modern. Artinya, telur yang menetas menjadi ayam pertama sudah ada sebelum ayam itu sendiri.

Jadi, telur duluan. Tapi telur versi “upgrade”.

Versi Kimia: Putih Telur Lebih Tua dari Ayam. Penelitian juga menemukan bahwa protein bernama ovocleidin-17—zat penting pembentuk cangkang telur—memang diproduksi oleh ayam. Namun, struktur telur sebagai wadah embrio sudah ada jauh sebelum ayam berevolusi.

Dengan kata lain, ayam itu pendatang baru. Telur sudah lama ngontrak di planet ini.

Versi Filsafat: Jangan Tanya, Nikmati Saja. Filsuf sejak zaman Aristoteles sudah pusing memikirkan ini. Bagi failsafat, pertanyaan telur dan ayam bukan soal kronologi, tapi soal sebab dan akibat. Keduanya saling membutuhkan, saling menciptakan, dan saling menyalahkan.

Mirip hubungan manusia dan deadline.

Versi Agama: Semua Sudah Diatur. Dalam perspektif keimanan, pertanyaan ini sering dianggap sederhana: Tuhan menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Ayam ada karena diciptakan, telur ada karena ayam diciptakan. Urutan bukan masalah utama—iman yang utama.

Diskusi pun biasanya berakhir damai… sampai ada yang iseng bertanya lagi. 

Jadi, mana yang duluan ada, telur atau ayam? Jawaban paling jujur adalah: pertanyaannya lebih tua daripada jawabannya.

Yang jelas, tanpa ayam dan telur, kita tidak akan punya nasi goreng, martabak, atau telur balado. Dan itu jauh lebih menyedihkan daripada perdebatan ini. ***