Setiap hari, miliaran pulpen bergerak di tangan manusia. Menandatangani kontrak, mencatat nama anak di rapor, menulis surat cinta, hingga menorehkan keputusan yang mengubah sejarah. Namun jarang ada yang bertanya: sejak kapan manusia mulai menulis dengan pulpen ballpoint, pena dengan bola kecil di ujungnya itu?
Jawabannya membawa kita ke Eropa, pada akhir 1930-an, di tengah dunia yang sedang gelisah oleh perang dan perubahan teknologi.
Pulpen ballpoint modern ternyata lahir dari kegelisahan seorang wartawan Hungaria bernama László Bíró (29 September 1899 – 24 Oktober 1985). Sebagai wartawan, Bíró akrab dengan pena tinta yang mudah bocor, lambat kering, dan sering meninggalkan noda di kertas, masalah kecil yang menjengkelkan, tetapi konsisten. Ia lalu memperhatikan sesuatu yang sederhana: tinta cetak koran kering hampir seketika. Masalahnya, tinta itu terlalu kental untuk pena biasa.
Bíró menemukan jawabannya lewat mekanisme yang tak lazim: bola logam kecil yang berputar di ujung pena, mengambil tinta kental dari dalam tabung dan mengalirkannya ke kertas secara merata. Pada 1938, ia mematenkan temuannya, pulpen ballpoint.
Namun, teknologi ini belum langsung mengubah dunia. Justru peranglah yang memberinya panggung.
Pada awal 1940-an, Angkatan Udara Inggris – Royal Air Force (RAF) mulai menggunakan pulpen ballpoint. Di ketinggian, pena tinta konvensional sering bocor akibat perbedaan tekanan udara. Ballpoint, dengan tinta kental dan sistem tertutupnya, tetap stabil. Praktis, andal, dan tahan kondisi ekstrem, kualitas yang sangat dibutuhkan di masa perang.
Dari kokpit pesawat tempur, pulpen lalu turun ke kehidupan sipil. Pada 1945, ballpoint mulai diproduksi dan dijual secara komersial, meski harganya masih mahal. Baru pada 1950-an, dengan produksi massal dan penyempurnaan desain, pulpen menjadi barang murah dan umum, masuk ke sekolah, kantor, dan bahkan rumah tangga di seluruh dunia.
Pulpen mengubah cara manusia menulis. Tidak perlu lagi botol tinta. Tidak perlu menunggu kering. Tulisan bisa bergerak cepat, spontan, dan efisien. Ia mempercepat birokrasi, pendidikan, dan komunikasi sehari-hari. Sebuah inovasi kecil yang dampaknya sangat besar.
Hari ini, di era layar sentuh dan papan ketik digital, pulpen masih bertahan. Ia sederhana, tak perlu daya listrik, dan bekerja di mana saja. Dari tangan anak sekolah hingga arsip sejarah, bola kecil di ujung pulpen terus berputar, menjaga ingatan manusia tetap tercatat.
Sebuah pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari barang paling sepele.