Pulau itu bernama Leroang, sepotong tanah yang terapung di perairan Laut Sulawesi seperti ingatan lama yang enggan karam. Ia tidak tercatat sebagai pulau terluar yang strategis, tidak pula dikenal sebagai pusat dagang atau jalur pelayaran penting. Namun bagi mereka yang lahir dan tumbuh di atas pasirnya, Leroang adalah dunia yang utuh, lengkap dengan langit, laut, adat, dan doa-doa yang diwariskan tanpa pernah ditulis.
Tanahnya hitam dan gembur, seolah menyimpan kesabaran berlapis-lapis dari generasi yang terus menanam tanpa banyak berharap. Kelapa tumbuh tanpa diminta. Akar-akarnya merambat jauh ke dalam tanah, seakan tahu bahwa hidup di pulau berarti harus siap menghadapi angin, musim, dan perpisahan. Di halaman rumah-rumah panggung, rumput laut dijemur di atas para-para bambu, menghampar seperti lembaran-lembaran doa yang dipinjamkan matahari untuk dikeringkan. Laut memberi makan dengan cara yang nyaris religius: sedikit, tetapi cukup. Tidak pernah berlebihan, tidak pernah benar-benar kurang.
Leroang bukan satu pulau tunggal. Ia adalah rangkaian lima pulau kecil yang membentuk lengkung tak sempurna, seperti jari-jari tangan yang terbuka ke langit. Orang-orang kampung percaya, kelima pulau itu diciptakan sebagai pengingat bahwa manusia hidup bukan untuk mengambil apa yang bukan haknya, melainkan menerima apa yang telah digariskan Tuhan. Di antara pulau-pulau itu, arus laut saling berkelindan, seperti hubungan manusia yang tak selalu lurus, tetapi saling memengaruhi.
Penduduknya sekitar lima ribu jiwa. Jumlah yang cukup untuk saling mengenal silsilah dan luka, namun terlalu sedikit untuk menyembunyikan cinta, dendam, atau janji lama. Di Leroang, nama keluarga adalah cerita, dan cerita adalah identitas. Apa yang dilakukan seorang anak bisa mengguncang ingatan tentang kakeknya; apa yang dipilih seorang perempuan bisa memantul hingga ke perjanjian yang dibuat sebelum ia lahir.
Di pulau terbesar berdiri sebuah dermaga kayu, lapuk oleh asin dan waktu, namun tetap kokoh melawan ombak. Tiang-tiangnya berlumut, papan-papannya berderit setiap kali diinjak, tetapi dermaga itu tak pernah menolak siapa pun yang datang. Di sanalah, pada suatu pagi yang disiram angin laut dan cahaya matahari yang masih ragu-ragu, sebuah perahu kayu kecil bermotor merapat perlahan. Mesin dimatikan. Laut kembali hening.
Dari perahu itu turun dengan tenang seorang pemuda belia. Ia melangkah pelan, seolah tak ingin mengganggu pulau yang belum dikenalnya. Matanya menyapu garis pantai, rumah-rumah panggung, pohon kelapa, dan wajah-wajah yang memandangnya dengan rasa ingin tahu yang tidak agresif. Melihat kuali besar antena parabola yang nyaris ada semua rumah. Pandangan itu seperti sedang membaca nasibnya sendiri, halaman demi halaman.
Namanya Fikri Setyawan.
Ia mahasiswa agronomi dari sebuah universitas negeri di Jakarta. Keputusannya memilih Kuliah Kerja Nyata mandiri, bukan kelompok, bukan desa binaan yang populer, membuat dosen pembimbingnya terdiam lama, menimbang antara idealisme dan kerepotan administratif.
“Kenapa pulau?” tanya sang dosen akhirnya.
“Karena pulau menguji manusia secara utuh,” jawab Fikri, tanpa nada heroik, tanpa keinginan mengesankan.
Ia datang tanpa pidato, tanpa spanduk, tanpa janji besar. Selain ransel besar di punggungnya, ia membawa sebuah kotak plastik besar yang tampak berat. Di dalamnya tersimpan benih-benih unggul yang telah ia pilih melalui riset panjang: cabai, tomat, dan semangka dengan masa panen lebih singkat; selada, sawi, pakcoy, dan sayuran daun lain yang bisa dipetik muda, memberi hasil cepat sebelum kepercayaan orang banyak sempat runtuh.
Orang pertama yang menyambutnya adalah Daeng Mappasessu, kepala kampung Pulau Leroang. Lelaki Bugis sejati itu memiliki genggaman tangan yang keras dan suara yang jarang meninggi. Ia menatap Fikri sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum orang yang terbiasa menimbang sebelum menerima.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan postur tegak dan sorot mata yang tak mudah ditembus. Namanya Wa Ode Sairah, istri kepala kampung. Ia keturunan Kesultanan Buton, membawa kebangsawanan bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai garis hidup. Setiap geraknya mengandung kesadaran akan martabat, setiap diamnya penuh perhitungan.
Dari rahimnya lahir seorang anak lelaki yang ia beri nama La Ode Irwansyah. Nama itu bukan sekadar identitas, melainkan pernyataan. Meski ayahnya Bugis, Wa Ode Sairah ingin dunia tahu bahwa darah Buton tetap mengalir.
“Nama adalah jangkar,” katanya suatu malam pada anaknya. “Agar kita tidak hanyut.”
La Ode tumbuh dengan keyakinan bahwa ia ditakdirkan memimpin. Bahunya lebar, rahangnya keras, dan pandangannya selalu sedikit menantang, seolah hidup adalah arena yang harus ia taklukkan sebelum ia ditaklukkan. Ia belajar adat seperti belajar senjata: bukan untuk dipahami, melainkan untuk digunakan.
Ketika Fikri datang, La Ode tidak langsung membenci. Ia hanya merasakan sesuatu yang asing: kegelisahan yang tak bisa diberi nama. Seperti suara kecil di dada yang mengatakan bahwa pulau ini akan berubah, dan perubahan jarang meminta izin pada mereka yang merasa berhak.
Di kejauhan, di antara batang-batang kelapa yang berdiri seperti barisan salat, berdiri seorang gadis. Di tangan kanannya ada ember plastik biru. Langkahnya ringan, seolah tanah enggan mengganggunya.
Namanya Sitti Nurhaliza. Seperti penyanyi negeri jiran yang sohor itu.
Ia anak Daeng Lalla dan Indo Ramlah, keluarga Bugis yang terpandang bukan karena kuasa, melainkan karena kejujuran. Kulit Sitti cokelat keemasan, matanya jernih seperti laut sebelum nelayan berangkat. Tidak ada keindahan yang meledak-ledak pada dirinya, hanya keteduhan yang perlahan mengendap.
Saat pandangan Fikri dan Sitti bertemu, tidak ada dentuman. Tidak ada keajaiban. Hanya getar kecil, seperti akar yang baru menemukan air.
Sitti pernah bermimpi sekolah ke Makassar. Ia membayangkan ruang kelas luas, buku-buku tebal, dan hidup yang lebih panjang dari garis pantai. Namun adat datang lebih dulu.
“Perempuan tak perlu jauh sekolah,” kata ayahnya suatu sore. “Ilmunya cukup di dapur dan rumah.”
Sitti diam. Diam adalah bentuk kepatuhan paling halus, sekaligus bentuk perlawanan paling sunyi.
Fikri tinggal di rumah panggung Daeng Lalla. Indo Ramlah menyambutnya seperti anak sendiri. Ia memperhatikan cara Fikri menunduk saat berbicara, cara ia menjaga waktu salat, cara ia bekerja tanpa banyak bicara.
“Anak baik,” katanya pada suaminya suatu malam. “Kalau bukan orang luar…”
Kalimat itu menggantung, tak pernah selesai, seperti banyak harapan di Leroang.
Hari-hari Fikri diisi kerja. Ia membuat kebun hidpronik percontohan bersama Ahmad, pemuda kampung yang cekatan dan penuh rasa ingin tahu. Ia sepupu Sitti. Ia memilih hidroponik agar bisa dibangun di halaman rumah penduduk. Tanpa perlu masuk hutan, ke kebun.
Fikri tak memakai PVC yang mahal dan sulit didapatkan. Pun tak akrab dengan penduduk setempat. Sebagai gantinya, ia memilih bambu batu, besar, kuat, tumbuh liar di kampung.
“Ilmu harus membumi,” katanya pada Ahmad. “Kalau ia tak mau menyesuaikan diri, ia akan ditolak tanah.”
Ia menjelaskan dengan bahasa sederhana. Cabai dan tomat unggul akan dipanen kurang dari sebulan. Semangka menyusul tak lama, dengan daging manis yang tebal. Meski merambat di para-para bambu. Selada, sawi, dan pakcoy bisa dipetik lebih muda, memberi hasil cepat, memberi keyakinan lebih awal.
Tanaman tumbuh. Penduduk datang. Belajar. Meniru. Pulau yang telah subur menjadi lebih percaya diri. Penduduk langsung buktikan faedahnya.
Sitti sering datang membawa air. Kadang hanya duduk di tepi kebun, mendengarkan penjelasan Fikri yang tak pernah diarahkan khusus kepadanya, namun selalu ia simpan.
“Kenapa kakak mau jauh-jauh ke sini?” tanyanya suatu sore.
“Karena di sini,” jawab Fikri, “alam masih mau diajak bicara.”
Cinta tumbuh tanpa deklarasi. Seperti tanaman hidroponik yang diperkenalkan Fikri ke penduduk setempat. Akar tak menyentuh tanah, tetapi hidup sepenuhnya bergantung pada keseimbangan.
Namun keseimbangan adalah hal paling rapuh di hadapan adat.
Sitti telah dijodohkan sejak kecil dengan La Ode Irwansyah. Itu janji antar keluarga, disepakati sebelum Sitti mengenal arti memilih. Daeng Lalla memikul janji itu seperti beban yang tak bisa ia turunkan.
“Janji adat,” katanya pada Indo Ramlah suatu malam, “lebih tua dari perasaan.”
Indo Ramlah menitikan air mata tanpa suara.
Adapun Wa Ode Sairah mengamati semua dari kejauhan. Ia melihat bagaimana warga mencintai Fikri, bagaimana kebun percontohan menjadi pusat harapan baru, bagaimana Sitti menatap pemuda itu dengan cahaya yang tak bisa disembunyikan.
“Anak itu berbahaya,” katanya pada suaminya.
“Karena dicintai?”
“Karena bukan dari sini.”
Sementara La Ode merasakan ancaman itu lebih cepat. Ia mulai menyabotase. Bambu penuh bibit tanaman yang tumbuh subur dipotong-potong. Pembibitan dirusak. Bisik-bisik disebar.
“Orang luar hanya mau membawa pergi apa yang kita punya.”
Suatu sore, ia mendatangi Fikri.
“Jangan dekat-dekat Sitti,” katanya.
“Cinta bukan wilayah adat,” jawab Fikri.
“Di sini, adat adalah hukum.”
Pada malam purnama, di bale-bale depan rumah, Fikri menyampaikan niatnya pada Daeng Lalla.
“Saya ingin meminang Sitti.”
Daeng Lalla menunduk lama.
“Andai ia tidak dijodohkan,” katanya akhirnya, “akan kuberikan padamu. Kau pemuda baik. Dicintai orang kampung.”
“Tapi janji adat,” lanjutnya, “tak bisa dibunuh tanpa darah.”
“Adat adalah tulang. Tanpanya, kita runtuh.”
Akhirnya, hari kepulangan Fikri tiba. Enam bulan telah ia menghirup udara Laut Sulawesi yang asin namun menyegarkan. Hampir seluruh sisi Pulau Leroang telah dijejakinya. Seluruh kampung mengantarnya pulang. Meninggalkan kebun percontohan yang dirawat Ahmad dengan tekun dan setia.
Di dermaga, Sitti menyerahkan tasbih dari kerang.
“Aku merangkainya sendiri,” katanya. “Setiap butir kerangnya adalah doa untukmu.”
Fikri menggenggamnya erat.
“Doa adalah bentuk paling jujur dari cinta.”
Kapal bergerak. Pulau mengecil. Sitti berdiri hingga laut menelan pandangannya.
Kabar datang kemudian. Sitti menikah dengan La Ode Irwansyah, seperti janji adat yang telah lama diucapkan. Ia hidup, tetapi mimpinya tidak.
Fikri lulus. Menjadi peneliti pertanian pesisir. Di tasnya, selalu ada tasbih kerang yang ia namai tasbih cinta. Tasbih cinta dari Pulau Leroang.
Dan yang pasti, tanaman hidroponik yang dikenalkan Fikri di Pulau Leroang kian subur menghijau, karena cinta yang tak tumbuh di atasnya telah menjadi pupuk bagi kesadaran banyak orang menirunya.
Jakarta Pusat, dinihari senyap, Jumat, 9 Januari 2026
Catatan: Ini adalah kisah fiksi belaka. Bila ada kesamaan nama maupun tempat kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka.