Kalau Thomas Sankara hidup di Indonesia hari ini, kemungkinan besar ia sudah jadi bahan meme, dituduh pencitraan, atau minimal disuruh “realistis sedikit dong”. Sebab di dunia politik modern—yang penuh jas mahal, pidato kosong, dan janji yang lebih cepat basi dari gorengan sore—Sankara itu anomali. Terlalu lurus. Terlalu bersih. Terlalu tidak masuk akal.
Dan seperti semua hal yang terlalu tidak masuk akal dalam politik, berakhir tragis. Ia akhirnya dibunuh sahabatnya sendiri dalam sebuah kudeta.
Thomas Sankara adalah mantan Presiden Burkina Faso yang hidupnya singkat, kekuasaannya hanya sebentar, tapi kisahnya panjang. Ia naik jadi presiden pada 1983, umur 33 tahun. Umur segitu, di banyak negara berkembang, orang masih disuruh sabar dulu, “nanti kalau sudah matang.” Tapi Sankara keburu memimpin negara, mengubah nama bangsa, dan menantang sistem global—semuanya sebelum uban pertama muncul.
Sankara memimpin Burkina Faso dengan satu kesalahan fatal: ia tidak ingin kaya dari jabatan. Kesalahan ini, dalam sejarah politik dunia ketiga, sering berujung petaka.
Ia menolak hidup mewah. Mobil dinasnya bukan Mercedes, bukan BMW, bahkan bukan Alphard. Ia memilih Renault 5, mobil kecil yang kalau lewat polisi tidur pun masih mikir dua kali. Gajinya dipotong. Fasilitas pejabat dikurangi. Jam tangan mahal dilarang.
Bayangkan seorang presiden yang berkata kepada pejabatnya, “Kalian nggak perlu hidup lebih enak dari rakyat.” Kalimat ini saja sudah cukup bikin banyak elite alergi.
Bagi Sankara, negara miskin tidak boleh dipimpin oleh pejabat kaya. Sebab bagaimana mungkin empati lahir dari sofa empuk dan AC sentral?
Salah satu langkah paling simbolik—dan paling keren—adalah saat ia mengganti nama negaranya. Upper Volta terdengar seperti nama merek air mineral gagal. Sankara menggantinya menjadi Burkina Faso, yang artinya Tanah Orang-orang Jujur.
Nama itu bukan slogan. Itu tuntutan.
Ia ingin rakyatnya berhenti merasa kecil. Berhenti merasa inferior. Berhenti merasa harus menunggu belas kasihan Barat. Burkina Faso, kata Sankara, harus berdiri di atas kakinya sendiri—meski kakinya masih lecet.
Dan di sinilah masalahnya dimulai.
Sankara tidak suka utang. Lebih tepatnya, ia benci utang internasional. Di forum-forum dunia, ia bicara terang-terangan: utang Afrika adalah kolonialisme gaya baru. Bentuk penjajahan yang datang bukan dengan senjata, tapi dengan kontrak dan bunga.
Ia bahkan mengajak negara-negara Afrika untuk secara kolektif menolak membayar utang. Ini semacam ajakan mogok nasional, tapi skalanya benua.
“Kalau Burkina Faso sendiri yang menolak, aku akan mati. Tapi kalau kita semua menolak, mereka tidak bisa membunuh kita semua.”
Spoiler: mereka tidak membunuh semua orang. Mereka cukup membunuh Sankara.
Sankara juga curiga dengan bantuan luar negeri. Bukan karena ia anti-sosial, tapi karena ia sadar: bantuan sering kali membuat negara malas dan tergantung.
Ia mendorong rakyat Burkina Faso untuk makan hasil bumi sendiri. Gandum impor diganti jagung lokal. Program pertanian digencarkan. Vaksinasi massal dilakukan tanpa basa-basi. Dalam waktu singkat, produksi pangan naik, angka kesehatan membaik.
Masalahnya, keberhasilan seperti ini tidak seksi bagi donor internasional. Negara yang mandiri adalah negara yang sulit dikendalikan.
Dan sistem global tidak suka yang sulit dikendalikan.
Di tengah Afrika yang patriarkal, Sankara bicara soal pembebasan perempuan dengan cara yang bikin banyak lelaki tersinggung. Ia melarang sunat perempuan, perkawinan paksa, dan poligami. Ia mengangkat perempuan ke jabatan strategis.
Bahkan pernah ada satu hari khusus di mana laki-laki diwajibkan mengurus rumah tangga. Tujuannya sederhana: biar mereka tahu kerja domestik itu bukan cuti bersama.
Sankara percaya, revolusi tanpa pembebasan perempuan hanyalah pergantian penjaga penjara.
Kalimat ini terdengar seperti teori feminisme modern. Padahal ia diucapkan oleh seorang kapten militer Afrika pada 1980-an. Dunia memang sering terlambat mengenali orang jenius.
Masalah utama Thomas Sankara bukan pada kebijakannya, melainkan pada siapa yang ia ganggu. Elite lokal terganggu karena fasilitasnya dipotong. Negara Barat terganggu karena kepentingannya diusik. Bahkan kawan-kawannya sendiri mulai merasa tidak nyaman.
Sankara tidak pandai bermain aman. Ia tidak tahu seni berkompromi dengan kebusukan. Ia berpikir, jika sesuatu salah, ya harus dihentikan. Titik.
Dalam politik, sikap seperti ini sering dianggap bunuh diri. Dan benar saja.
Pada 15 Oktober 1987, Thomas Sankara dibunuh dalam kudeta yang dipimpin sahabatnya sendiri, Blaise Compaoré. Ironisnya, Compaoré lalu memerintah selama 27 tahun. Dunia memang sering memilih yang awet, bukan yang benar.
Sankara mati di usia 37 tahun. Ia tidak meninggalkan vila. Tidak ada rekening rahasia. Tidak ada anak dinasti politik. Yang ia tinggalkan hanyalah contoh—dan itu jauh lebih berbahaya.
Hari ini, wajahnya ada di kaos aktivis. Kutipannya dipakai di poster demonstrasi. Namanya disebut-sebut setiap kali orang lelah dengan politik yang kotor.
Thomas Sankara adalah pengingat yang tidak nyaman: bahwa politik seharusnya bisa bersih, tapi sengaja dibuat kotor. Bahwa pemimpin jujur itu mungkin, hanya saja sering disingkirkan.
Ia bukan presiden sempurna. Tapi ia membuktikan satu hal penting: bahwa kekuasaan bisa dijalankan tanpa menjual nurani.
Dan mungkin itu sebabnya ia harus mati muda.
Sebab dunia tidak pernah ramah pada orang yang terlalu jujur. Terlebih jika orang itu kebetulan memegang kekuasaan.