Sinanggaroke/pelit

Tinai dei tueiku hi yaku nakavamo/mama dei adindaku inilah saya sudah datang
Dako ri pokarajaku hi yaku na’aramo/ dari tempat kerjaku, ini saya sudah lapar
Toama ‘i yojo tuakaku ledo yaku moriapu/papa yojo kakakandaku, saya tidak memasak
Nadea gaga davamu le nesua ri akalaku/banyak sekali kebohonganmu, tidak masuk di akalku
Tinai dei nemo siri neparuru mobilisi/mama dei jangan cemburu jangan dulu marah-marah
Epe ruru kujaritai yaku dako ri resepsi /dengarkan dulu saya bicara saya dari resepsi
Tomai yojo sinanggaroke tumoyaku mupodava / papa yojo yang pelit tidak usah kau bohongi saya
Ane yaku mupotove nakuya nanjili bobayana/ kalo saya kau sayangi kenapa pulang subuh
Kasusana bereiku dopa nanoto/susahnya istriku belum pandai
Nompekiri eva ngana, eva ngana da nadoyo/ berpikir seperti anak-anak, seperti anak-anak yang masih bodoh

Di balik irama yang ringan dan lirik yang terdengar sederhana, lagu daerah berjudul “Sinanggaroke” (yang berarti “pelit”) menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Lagu ini bukan sekadar percakapan suami-istri yang saling sindir, melainkan potret kecil dinamika rumah tangga, kritik sosial, sekaligus ekspresi psikologis yang dibungkus dalam musik rakyat.

Bagaimana jika lagu ini dibedah dengan pendekatan ilmu bentuk musik, teori harmoni, semiotika, musikologi, psikologi musik, hingga analisis tekstual-kontekstual? Kita akan meminta bantuan AI (akal imitasi) melakukan analisis. Lalu, kita selaraskan bahasanya. Berikut ini pendalamannya.

Secara bentuk, Sinanggaroke cenderung memakai pola strofik—melodi yang berulang dengan lirik berbeda di tiap bait. Struktur seperti ini lazim dalam lagu-lagu rakyat karena mudah diingat dan dinyanyikan bersama.

Namun yang menarik, lagu ini memiliki pola naratif-dialogis. Liriknya bergerak seperti percakapan:

  • Suami pulang kerja dan mengaku lapar.
  • Istri menolak memasak karena kecewa.
  • Tuduhan kebohongan dan kecemburuan mencuat.
  • Konflik memuncak pada soal “pelit” dan pulang subuh.
  • Penutup berisi sindiran bahwa pasangan bersikap seperti anak-anak.

Secara dramatik, lagu ini memiliki eksposisi, konflik, klimaks, dan resolusi semu—struktur yang lebih mirip cerita pendek ketimbang sekadar lagu hiburan.

Sebagai lagu rakyat yang kerap diaransemen dalam gaya pop daerah, Sinanggaroke kemungkinan menggunakan progresi harmoni sederhana seperti I–IV–V–I, pola umum dalam musik tradisional maupun pop.

Namun kesederhanaan ini justru menjadi kekuatannya. Harmoni dasar memberi ruang bagi teks untuk menonjol. Pada bagian konflik—misalnya saat tuduhan “sinanggaroke” (pelit) muncul—biasanya terjadi pergeseran ke akor minor atau dominan yang lebih tegang. Pergeseran ini menciptakan rasa tidak stabil, sejalan dengan isi lirik yang memanas.

Di akhir bait, harmoni kembali ke tonik. Secara musikal, masalah “selesai”. Namun secara emosional, konflik masih terasa menggantung. Inilah yang membuat lagu ini hidup.

Dalam kajian semiotika musik, kata-kata dalam lagu ini adalah tanda yang mewakili makna lebih luas.

“Lapar” bukan sekadar lapar fisik. Ia bisa dibaca sebagai simbol lapar perhatian atau tanggung jawab.
“Pelit” bukan cuma soal uang, tetapi metafora bagi ketertutupan dan ketidakjujuran.
“Pulang subuh” menjadi simbol kecurigaan dan retaknya kepercayaan.

Menariknya, lagu ini kerap dibawakan dalam tempo riang. Di sinilah muncul ironi: musik terdengar ceria, tetapi maknanya getir. Humor menjadi kendaraan kritik sosial.

Dalam banyak tradisi musik daerah, lagu bukan sekadar hiburan. Ia berfungsi sebagai:

  • Media penyampai nasihat.
  • Sarana menyindir tanpa menyinggung langsung.
  • Ruang aman untuk mengkritik perilaku sosial.

Sinanggaroke mencerminkan budaya komunal yang masih memandang rumah tangga sebagai institusi sosial yang bisa “dibicarakan” lewat lagu. Konflik domestik diangkat ke ruang publik, tetapi dengan cara yang santai dan komunikatif.

Dari sudut psikologi musik, perpaduan lirik konflik dengan melodi ringan menciptakan efek emosional unik. Otak manusia merespons ritme ceria dengan pelepasan dopamin—zat kimia yang memicu rasa senang. Namun pada saat yang sama, liriknya mengaktifkan empati dan memori pengalaman pribadi.

Hasilnya adalah pengalaman emosional ganda: kita tersenyum, tetapi sekaligus merenung.

Sindiran dalam bentuk musik juga lebih mudah diterima dibandingkan teguran langsung. Secara neurologis, pesan yang dibungkus irama lebih mudah tersimpan dalam memori jangka panjang.

Secara tekstual, lagu ini memuat beberapa lapis relasi:

  • Suami sebagai pencari nafkah.
  • Istri sebagai pengelola domestik.
  • Konflik muncul ketika tanggung jawab emosional tak terpenuhi.

Kalimat seperti “kalau saya kau sayangi kenapa pulang subuh-l” menunjukkan inti persoalan: kepercayaan dan perhatian. Sementara penutup yang menyebut “berpikir seperti anak-anak” mengisyaratkan bahwa konflik rumah tangga sering kali berakar pada ego, bukan sekadar peristiwa.

Dalam konteks sosial, lagu ini merefleksikan realitas keseharian masyarakat: kerja keras, pesta resepsi, kecemburuan, dan ketegangan ekonomi.

Pada akhirnya, Sinanggaroke membuktikan bahwa lagu rakyat bukan produk sederhana. Ia adalah arsip sosial, ruang ekspresi psikologis, dan cermin budaya.

Di balik tudingan “pelit” dan cerita pulang subuh, tersimpan pesan yang relevan sepanjang zaman: dalam rumah tangga, yang paling mahal bukanlah uang—melainkan kejujuran dan perhatian.

Dan mungkin, itulah sebabnya lagu ini terus dinyanyikan. Terima kasih Hasan Bahasyuan (1930-1987). Al Fatihah.