Di jantung Pulau Sulawesi, di mana pegunungan menjulang seperti tembok raksasa dan kabut turun perlahan di atas lembah hijau, hidup sebuah komunitas yang identitasnya tidak pernah sepenuhnya bisa dipetakan: To Rampi.
Secara administratif, mereka tinggal di Kecamatan Rampi, bagian dari Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Namun jejak budaya mereka membentang jauh melampaui batas provinsi, menyeberangi pegunungan menuju wilayah adat Lore di Kabupaten Poso, terutama di kawasan Lembah Bada.
Di sinilah sebuah paradoks identitas hidup setiap hari.
Mereka sering disebut orang Toraja.
Namun oleh masyarakat Lore, mereka juga dianggap kerabat.
To Rampi hidup di antara dua dunia, dan mungkin justru karena itu, mereka bertahan.
Rampi bukan sekadar wilayah terpencil. Ia adalah dataran tinggi luas yang dikelilingi Pegunungan Quarles, salah satu lanskap paling dramatis di Sulawesi.
Dari udara, lembah ini tampak seperti pulau hijau yang terperangkap dalam lautan batu.
Perjalanan menuju Rampi sendiri adalah pengalaman geografis yang ekstrem.
Dari Masamba, ibu kota Luwu Utara, jaraknya sekitar 100 kilometer. Tetapi jarak itu dapat memakan waktu 10 hingga 15 jam perjalanan darat, tergantung kondisi jalur pegunungan.
Ke arah utara, sekitar 60–80 kilometer, terbentang Lembah Bada, salah satu pusat budaya megalitik Sulawesi.
Lebih jauh lagi, sekitar 150 kilometer, terletak Tentena, kota penting di kawasan Danau Poso.
Di peta, wilayah ini tampak terpisah.
Dalam sejarah, mereka selalu terhubung.
Jalur pegunungan yang menghubungkan Rampi dan Lore telah digunakan selama berabad-abad, oleh pemburu damar, pedagang, peziarah adat, dan keluarga yang menikah lintas lembah.
Bagi masyarakat pegunungan, gunung bukan batas. Ia adalah jalan.
Secara linguistik, bahasa Rampi lebih dekat dengan bahasa-bahasa Lore dan Pamona di Sulawesi Tengah daripada dengan bahasa Toraja di selatan.
Penelitian linguistik modern menempatkan bahasa Rampi dalam kelompok Kaili–Pamona, cabang dari rumpun Austronesia yang berkembang di wilayah Lore dan sekitar Danau Poso.
Namun budaya tidak pernah sesederhana bahasa.
Dalam sistem kekerabatan, struktur adat, dan pola permukiman, To Rampi memperlihatkan kemiripan kuat dengan masyarakat Toraja di wilayah Luwu dan dataran tinggi selatan.
Bahasa mereka menunjuk ke utara. Adat mereka mengingat selatan. Identitas mereka hidup di antara keduanya.
Rampi bukan dunia yang terisolasi, melainkan simpul dalam jaringan masyarakat pegunungan Sulawesi.
Di sekelilingnya hidup komunitas lain yang telah berinteraksi selama berabad-abad:
- Masyarakat Lore dan To Bada di lembah utara
- Pamona di kawasan Danau Poso
- Komunitas pegunungan Luwu seperti Rongkong dan Padoe
- Kelompok Napu dan Behoa di dataran tinggi Sulawesi Tengah
Hubungan ini terbentuk melalui perdagangan, perkawinan, migrasi, dan ritual adat.
Di wilayah ini, identitas tidak dibatasi garis peta. Ia mengalir mengikuti jalur gunung. Menapak kontur topografi.
Di utara Rampi, Lembah Bada menyimpan salah satu misteri arkeologi terbesar Indonesia: patung-patung batu raksasa berusia ribuan tahun.
Wajah-wajah datar, tubuh silindris, dan posisi berdiri sunyi di tengah padang rumput membuat para peneliti bertanya: siapa yang membuatnya, dan mengapa?
Banyak ahli meyakini bahwa kawasan pegunungan di sekitar Rampi termasuk dalam lanskap budaya yang sama dengan wilayah megalitik ini.
Bukti ilmiah tentang kesinambungan langsung masih belum lengkap. Namun dalam tradisi lisan masyarakat pegunungan, kisah tentang leluhur yang turun dari gunung atau menyeberangi lembah terus diceritakan.
Di sini, sejarah tidak hanya digali dari tanah.
Ia juga diwariskan melalui cerita.
Selama puluhan tahun, Rampi dikenal sebagai salah satu wilayah paling sulit dijangkau di Sulawesi Selatan.
Keterpencilan ini bukan hanya tantangan, tetapi juga pelindung.
Struktur keluarga besar, hukum adat, dan praktik pertanian tradisional bertahan relatif utuh. Kehidupan berjalan mengikuti ritme musim, bukan kalender modern.
Namun perubahan datang. Penerbangan perintis membuka akses. Jalan mulai dibangun. Internet perlahan masuk ke lembah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Rampi akan berubah. Tetapi bagaimana perubahan itu akan hidup berdampingan dengan tradisi.
Dalam dunia modern yang terbiasa mengelompokkan manusia ke dalam kategori tetap, To Rampi menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Mereka tidak sepenuhnya Toraja. Tidak sepenuhnya Lore. Tidak sepenuhnya selatan. Tidak sepenuhnya tengah.
Mereka adalah jembatan hidup antara dua wilayah budaya besar Sulawesi.
Di tengah kabut pegunungan, identitas bukan label, melainkan proses yang terus bergerak, diwariskan dari leluhur, dan dinegosiasikan setiap generasi.
Gunung-gunung di sekitar Rampi mungkin sunyi. Namun di sanalah percakapan panjang antara Toraja dan Lore terus berlangsung, dalam bahasa, dalam adat, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
Arsip dan Kajian Kolonial
- Kruyt, A.C. (1909–1938). De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden-Celebes.
- Adriani, N. & Kruyt, A.C. (1912–1914). Kajian bahasa dan etnografi masyarakat Lore.
Kajian Linguistik Modern
- Grimes & Grimes — klasifikasi bahasa Kaili–Pamona (SIL International).
- Ethnologue — data bahasa Rampi.
Sumber Regional dan Kontemporer
- Profil wilayah adat Rampi — BRWA.
- Profil Kecamatan Rampi — Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.
- Laporan arkeologi situs megalitik Lore–Bada.
- Dokumentasi kawasan Taman Nasional Lore Lindu.