Maka tersebutlah kisah pada zaman selepas Proklamasi Kemerdekaan, tatkala kota Makassar, yang disebut orang tua-tua sebagai Mangkasara, tiada lagi jinak seperti dahulu kala. Jika sebelumnya ia hanyalah pelabuhan tempat jong dan kapal berlabuh, tempat saudagar menimbang rempah dan beras, maka selepas merdeka itu nadi kota berdegup keras, seolah-olah tiap lorong menyimpan rahasia dan tiap sudut menaruh curiga.
Pada siang hari tampaklah seperti biasa: kapal-kapal merapat di dermaga, buruh memanggul karung kopra dan beras, pedagang berseru menawarkan dagangan. Akan tetapi di celah segala kesibukan itu, berdirilah bayang-bayang panjang serdadu Belanda dengan senapan terkokang, mata tajam memerhati tiap gerak-gerik anak negeri.
Adapun di pinggiran kota, di Kassi-Kassi, di Jongaya, hingga jalan tanah menuju Polongbangkeng, bangkitlah anak-anak muda merajut perlawanan. Mereka bukan tentara terlatih. Mereka guru yang biasa memegang kapur, perawat yang biasa menjahit luka, mahasiswa yang biasa membaca kitab, anak petani dan anak pelaut yang biasa memikul jala. Tetapi keadaan menjadikan mereka pejuang.
Pada sebuah rumah panggung yang disamarkan sebagai gudang kopra, berdirilah seorang pemuda bernama Robert Wolter Mongisidi. Ia anak Malalayang, di utara Celebes. Usianya belum genap dua puluh tiga tahun. Wajahnya masih menyimpan sisa kelembutan remaja, tetapi sorot matanya telah ditempa oleh keputusan yang keras lagi getir.
Dialah Sekretaris Jenderal LAPRIS, Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi. Tugasnya bukan sekadar mengangkat senjata, melainkan menyusun jaringan, mengatur bekal dan obat, menjaga rahasia, serta memastikan semangat tiada runtuh oleh takut dan lapar.
Ia maklum bahwa pusat kota terlampau berbahaya untuk bergerak leluasa. Pantai Losari yang terbentang luas, yang pada petang hari biasa dipenuhi angin asin dan tawa kanak-kanak, kini menjadi tempat ronda dan patroli. Maka markas pun berpindah-pindah; kadang di rumah simpatisan, kadang di kebun pisang yang rimbun, kadang di desa terpencil yang hanya dapat dicapai melalui lorong setapak.
Namun dalam kalbunya, Losari tetap hidup sebagai kenangan yang tiada dapat disentuh oleh senapan dan sepatu lars.
Pada suatu senja, sebelum keadaan menjadi terlalu genting, Robert pernah berdiri di tepi laut itu bersama seorang dara bernama Emmy Saelan. Emmy, dara kelahiran Makassar, kota besar di selatan Celebes. Langit kala itu disapu warna jingga lembut, ombak kecil memukul tiang dermaga kayu, dan angin asin mengibaskan anak-anak rambut Emmy yang panjang, namun lebih acap dikepang.
Emmy masih bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi sikapnya teguh, suaranya tenang, dan pandangannya jernih seperti air sumur di kampung halaman.
“Apakah kau sungguh percaya perjuangan ini akan panjang?” tanya Emmy perlahan, matanya memandang jauh ke ufuk.
Robert menjawab tanpa ragu, “Kemerdekaan tiada akan selesai oleh satu pidato. Ia mesti ditebus dengan sabar dan darah.”
Emmy terdiam seketika, lalu katanya, “Jika kelak semuanya selesai, aku ingin melanjutkan pelajaran. Aku hendak menjadi dokter kanak-kanak. Supaya tiada lagi ibu menangis karena anaknya tiada tertolong.”
Robert tersenyum tipis. “Dan aku ingin mendirikan sekolah-sekolah. Supaya tiada lagi anak negeri yang buta huruf akan arti merdeka.”
Demikianlah percakapan mereka, tiada janji berlebihan, tiada kata cinta yang dihamburkan. Namun di antara kata yang sederhana itu, tersembunyilah hasrat untuk berbagi masa depan. Itulah cinta pada masa revolusi: sunyi, tertahan, tetapi dalam.
Sejak keadaan kian genting, mereka tiada lagi sering kembali ke Losari. Tetapi senja itu menjadi sauh dalam jiwa, tempat mereka menyimpan gambaran kehidupan yang lebih damai.
Tatkala operasi militer Belanda makin ganas, desa-desa digerebek, pemuda-pemuda ditangkap, dan beberapa hilang tiada berkhabar, Emmy pun mengambil keputusan. Ia meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit dan bergabung sepenuhnya dengan perjuangan. Ia merawat yang luka di markas gerilya, belajar membongkar dan memasang senjata, serta menghafal jalan-jalan rahasia untuk evakuasi.
Tangan Emmy tiada pernah gemetar tatkala menjahit luka yang menganga. Air matanya tiada jatuh walau melihat seorang pemuda kehilangan kaki. Akan tetapi pada malam hari, ketika segala insan terlelap, ia duduk seorang diri di beranda, memandang gelap yang seolah tiada bertepi.
Pada suatu malam Robert mendekatinya. “Apakah engkau menyesal?” tanyanya perlahan.
Emmy menggeleng. “Tiada. Hanya kadang aku takut.”
“Takut akan apa?”
“Takut tiada sempat melihat Indonesia berdiri tegak dengan sesungguhnya.”
Robert terdiam. Ia ingin berkata bahwa kemenangan pasti tiba. Tetapi ia maklum kemenangan bukan perkara segera. Maka ujarnya, “Kita melakukan bagian kita. Selebihnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa.”
Emmy tersenyum tipis. “Setidaknya jika maut datang, kita tahu untuk apa.”
Kata maut menggantung di udara. Mereka tiada menepisnya, sebab keduanya tahu itu bukan bayang kosong.
Maka pada tanggal dua puluh dua Januari tahun seribu sembilan ratus empat puluh tujuh, terjadilah pertempuran di pinggiran kota, dekat jalan menuju Jongaya. LAPRIS menyerang cepat dan hendak mundur menurut siasat gerilya. Namun pasukan KNIL bergerak lebih pantas dari sangkaan.
Dentuman senapan bersahut-sahutan. Teriakan bercampur bau mesiu. Robert memberi perintah, “Undur ke selatan!”
Emmy membantu mengangkat dua pejuang yang luka parah. Mereka menyusuri gang sempit, berharap sampai ke batas kampung. Akan tetapi di sanalah mereka terkepung.
Serdadu Belanda berteriak menyuruh menyerah.
Emmy memandang dua pemuda di belakangnya, seorang hampir tiada sadar. Jika ia menyerah, niscaya interogasi akan datang, nama-nama akan disebut, markas terbongkar, dan banyak nyawa melayang.
Dalam detik itu waktu terasa panjang tiada terperi.
Ia teringat ayahnya. Ia teringat senja di Losari. Ia teringat impian menjadi tabib kanak-kanak. Ia masih hendak hidup. Ia hendak melihat kanak-kanak tertawa dalam ruang periksa, hendak berjalan di kota tanpa bunyi tembakan.
Tangannya menggenggam granat. Logamnya dingin laksana takdir.
Serdadu makin mendekat.
Emmy memejamkan mata sekejap, bukan menyerah, melainkan menguatkan hati. Lalu dengan tekad yang bulat, dilepaskannya pin granat itu.
Ledakan pun memecah udara. Debu dan asap menyelubungi lorong.
Demikianlah Emmy Saelan gugur pada usia dua puluh dua tahun, dalam pilihan yang disadarinya.
Kabar itu sampai ke markas menjelang malam. Robert mendengarnya tanpa suara. Seakan telinganya enggan menerima.
“Granat,” kata seorang laskar singkat.
Hanya itu.
Robert duduk lama selepas yang lain pergi. Lampu minyak kecil bergoyang tertiup angin. Bayang-bayang di dinding seolah jelmaan kenangan.
Rasa bersalah merayap dalam dadanya. Apakah perintah undur itu keliru? Apakah jalan evakuasi terlalu terbuka? Apakah ia telah menyeret perempuan yang dikasihinya ke garis maut?
Namun jauh di lubuk hati, ia tahu: Emmy memilih jalannya sendiri. Itu bukan kematian karena panik, melainkan keputusan sadar.
Sejak malam itu, Robert tiada lagi berbicara tentang masa depan pribadi. Tiada lagi tentang sekolah atau keluarga. Ia hanya berbicara tentang merdeka.
Pada tanggal dua puluh delapan Februari tahun yang sama, ia ditangkap dan dimasukkan ke Penjara Kiskampement Makassar. Dindingnya lembap, udara berbau keringat dan darah. Interogasi datang bertubi-tubi.
“Siapakah jaringanmu?”
“Di manakah markas?”
“Siapa menyuplai senjata?”
Robert diam.
Ia dipukul, ditendang, dibiarkan tiada tidur. Tetapi di sela rasa sakit, pikirannya justru kembali kepada Emmy. Ia membayangkan detik terakhir dara itu. Apakah ia sempat ragu? Apakah air mata sempat menitik?
Pertanyaan itu lebih pedih daripada pukulan.
Ia pernah melarikan diri dan kembali bergerilya. Akan tetapi penangkapan berikutnya lebih ketat. Kali ini vonis mati dijatuhkan atasnya.
Menjelang eksekusi, ia diberi kesempatan menulis surat. Tangannya agak gemetar, bukan karena takut mati, tetapi karena sedar banyak hal tiada sempat diselesaikan.
Ia menulis tentang keyakinan, tentang tanah air, tentang kesetiaan kepada cita-cita. Di dalam sel, ia membaca Alkitab, merenungi pengorbanan dan harapan.
Ia tiada merasa dirinya pahlawan. Ia hanya seorang pemuda yang hidup pada zaman yang menuntut keberanian.
Malam sebelum eksekusi, ia hampir tiada tidur. Di antara bunyi rantai dan langkah penjaga, ia membayangkan kembali senja di Losari: ombak kecil, angin asin, wajah Emmy diterangi cahaya keemasan.
Ia tiada menangis. Hatinya justru damai.
Pada tanggal lima September seribu sembilan ratus empat puluh sembilan, pagi di Makassar tampak pucat. Robert dibawa ke tempat hukuman. Tangannya terikat, tetapi langkahnya tegap.
Seorang perwira Belanda menawarkan penutup mata.
Ia menolak dengan sopan. “Aku hendak melihat.”
Ia berdiri menghadap regu tembak. Nafasnya teratur. Dalam detik terakhir, ia tiada memikirkan maut. Ia memikirkan arti setia.
Setia bukan bererti tiada pernah takut.
Setia berarti tetap berdiri walau takut menggigil dalam dada.
“Merdeka,” ucapnya.
Tiga kali.
Tembakan dilepaskan. Tubuhnya rebah ke bumi yang dicintainya.
Maka sunyilah sesaat tempat itu, sebelum suara perintah dan langkah kembali terdengar.
Sohorlah kalimat dalam kertas yang ia selipkan dalam Al Kitab; “Setia hingga akhir dalam keyakinan.”
***
Tahun-tahun pun berlalu. Kedaulatan diakui. Nama Robert Wolter Mongisidi dan Emmy Saelan tercatat dalam sejarah sebagai pahlawan.
Namun sejarah sering menulis keberanian tanpa menulis kegamangan. Mereka bukan patung batu. Mereka pernah ragu, pernah takut, pernah bermimpi hidup biasa sebagai suami istri, sebagai guru dan dokter.
Akan tetapi pada akhirnya, mereka memilih keyakinan melebihi diri sendiri.
Jika pada hari ini orang berjalan di Pantai Losari, memandang senja yang sama, mungkin ia tiada mengetahui bahawa pernah dua anak muda berdiri di sana, berbicara tentang sekolah dan klinik, tentang masa depan yang sederhana.
Namun angin laut tetap berhembus dari ufuk, membawa gema yang tiada terdengar oleh telinga, tetapi terasa dalam dada.
Tentang cinta yang tiada selesai oleh kematian.
Tentang keyakinan yang tiada luruh oleh peluru.
Tentang dua nama yang memilih setia hingga akhir hayat.
Nah, jika engkau melihat ada jalan kini dinamai Robert Wolter Mongisidi dan Emmy Saelan, demikianlah hikayat cintanya pada masa revolusi di Tanah Mangkasara.
Jakarta, 12 Februari 2026, pada kenangan tentang Robert Wolter Mongisidi (14 Februari 1925 – 5 September 1949) dan kekasih hatinya Emmy Saelan (15 Oktober 1924 – 24 Januari 1947). Keduanya gugur mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di Makassar, Sulawesi Selatan. Keduanya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, meskti bukanlah itu yang mereka harapkan. Ini juga pengingat bagi para prajurit Kodam XIV/Hasanuddin, bahwa sesanti, “Setia Hingga Akhir” yang tertulis di gerbangnya adalah potongan kata dari Robert Wolter Monginsidi yang dieksekusi oleh tentara Belanda.
Catatan: Kisah ini saya tulis dengan gaya bahasa Melayu tua dengan beberapa koreksi untuk kata-kata yang benar-benar lama dan tidak dapat dimengerti lagi kini. Ini akan menjadi ciri khas, kisah-kisah yang akan saya tulis selanjutnya.