Saya selalu punya cara sendiri untuk mengenang almarhumah ibu saya, Hj. Fauziah Ismail (1948–2014), seorang ibu rumah tangga cum guru madrasah. Galibnya, kita mengingat seseorang lewat foto-foto lama atau pusara yang sesekali diziarahi, namun saya, mengingatnya lewat aroma dapur, rasa sayur kampung, dan jajan pasar yang dahulu begitu akrab dengan masa kecil saya.

Setiap kali menyantap penganan-penganan itu, seolah waktu berputar kembali. Wajah rupawannya hadir begitu dekat, lengkap dengan senyum yang selalu mengiringi setiap masakan yang disajikannya, bahkan kerap dibuatkan khusus pada saya yang pulang kampung setahun sekali, karena bersekolah di kota.

Dialah yang pertama kali memperkenalkan saya pada tumis tanggojo, jamur kerak yang berasa persis daging ayam itu, sayur nangka berkuah kental dari kelapa goreng yang ditumbuk halus, bayam santan, hingga sayur rebung bambu. Mungkin bagi orang lain, itu hanyalah hidangan kampung yang sederhana. Namun bagi saya, setiap suapnya adalah kenangan. Ada kasih sayang yang tak pernah benar-benar hilang, hanya bersembunyi di balik rasa. Maka setiap kali makanan-makanan itu tersaji di hadapan saya, rindu kepada beliau selalu datang tanpa permisi.

Dan dari sekian banyak penganan penuh kenangan itu, saya kembal bersua dengan teraju pekan ini. Teraju selalu memiliki tempat istimewa di hati saya.

Kue tradisional berbahan dasar singkong, dipadukan dengan gula merah atau gula aren, lalu dibalut adonan tepung beras sebelum digoreng hingga keemasan itu bukan sekadar jajanan bagi saya. Di dalamnya tersimpan kenangan tentang kebersamaan seorang ibu dan anak.

Setelah singkong yang dipanen dari halaman rumah selesai direbus, ibu menyerahkan pekerjaan berikutnya kepada saya. Saya menumbuk singkong itu di lesung kayu hingga benar-benar halus, lalu mencampurkannya dengan gula aren secukupnya. Setelah adonannya rata, ibu mengambil alih. Dengan tangan yang cekatan, ia membentuk dan menggorengnya hingga harum semerbak memenuhi rumah.

Dan saya, tentu saja, selalu menjadi pencicip pertama.

Bukankah itu sebuah keistimewaan yang tak bisa dibeli oleh apa pun?

Selebihnya, teraju-teraju itu akan memenuhi nampan di warung kecil milik ibu.

Warung itu berdiri sederhana di halaman rumah kami. Tak besar, tetapi selalu ramai setiap jam sekolah. Di sana tersedia nasi kuning, teraju, kue janda, nagasari, roko-roko, serta berbagai jajanan kampung lainnya. Pelanggan setianya adalah anak-anak sekolah dasar yang gedungnya hanya dipisahkan oleh pagar dari rumah kami.

Kini ibu telah lama tiada. Warung kecil itu pun tinggal cerita. Lesung kayu yang dulu bergema oleh tumbukan singkong sudah lapuk dimakan usia. Namun rasa-rasa yang pernah ia hadirkan tidak pernah benar-benar pergi.

Saya percaya, ada orang-orang yang dikenang melalui karya besarnya. Ada pula yang dikenang melalui kata-katanya. Tetapi seorang ibu, sering kali dikenang melalui hal-hal yang paling sederhana: aroma masakannya, hangat tangannya saat menyuapi anak-anaknya, dan sepotong kue kampung yang mampu membawa kita pulang, meski hanya untuk sesaat, ke masa ketika kasih sayang masih lengkap di meja makan.