Empat warga Lembah Napu, Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah tewas dibantai kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) di perkebunan rakyat desa itu, Selasa (11/5/2021). Satuan Tugas Operasi Madago Raya memastikan bahwa kelompok ini dipimpin Qatar alias Farel alias Anas. Sejak 2014, lelaki asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini adalah pengikut mendiang Santoso alias Abu Wardah.

Setelah Ali Kalora tertembak tertembak pada Senin, 1 Maret 2021 di Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Qatar pun unjuk diri. Ia memimpin kelompok baru MIT.

Dari 9 orang anggota MIT, ada 4 orang Poso yakni Ali Kalora, Rukli, Suhardin alias Hasan Pranata dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang.

Sementara itu 4 orang lainnya yakni Qatar alias Farel alias Anas, Abu Alim alias Ambo, Nae alias Galuh dan Askar alias Jaid alias Pak Guru berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Adapun Jaka Ramadan alias Ikrima alias Rama berasal dari Banten.

Sepeninggal Santoso, lalu tertangkapnya Basri alias Bagong, praktis amir MIT diserahkan kepada Ali Kalora. Sayangnya, Qatar dianggap lebih mampu. Olehnya besar dugaan, eksekusi pada Jumat Berdarah di Lembantongoa, Sigi, Jumat, 27 November 2020 yang menewaskan empat warga adalah keputusan Qatar.

Menarik bila menelusuri pola pergerakan mereka sejak Jumat Berdarah Lembantongoa itu. Usai aksi brutal itu, mereka diduga langsung bersembunyi di antara wilayah Lembantongoa, Sigi dan Salubanga, Parigi Moutong sebelum bergerak kembali ke Tamanjeka, Poso.

Jarak antara Lembantongoa ke Salubanga hanya sekitar 21,31 kilometer atau sekitar 13,24 mil. Rata-rata mereka bergerak mengikuti aliran sungai dan memintas punggung gunung. Ada aliran Salo Rampo dan Salo Puna yang terhubung di wilayah itu.

Sementara jarak dari Salubanga ke Tamanjeka hanya sekitar 31,98 kilometer atau setara 19,87 mil. Wilayah-wilayah ini terhubung oleh jalur survei sejumlah perusahaan hak penguasaan hutan seperti Kebun Sari dari Lonsum.

Dari Tamanjeka kelompok ini kemudian berpindah ke Tamadue, Lore Timur yang jaraknya hanya sekitar 24,29 kilometer atau 15,10 mil.

Bisa pula mereka memintas dari Lembantongoa ke Tamadue yang hanya berjarak 71,4 kilometer. Ini bila ditempuh dengan jalan kaki nonstop hanya sekitar 16 jam.

Hitungan kasarnya dengan asumsi garis lurus, perjalanan mereka di wilayah-wilayah itu bila harus singgah beristirahat atau memantau situasi akan makan waktu 2 – 5 hari.

Saat ini, basis paling aman buat mereka masih tetaplah Tamanjeka. Di luasan areal 302 kilometer persegi mereka bisa melakukan survival dan bergerilya.

Lalu bagaimana ceritanya kemudian mereka tiba di Kalemago? Tentu saja mudah, areal perkebunan warga ini tempat aman buat mereka. Jarak Tamadue ke Kalemago 1,1 kilometer melalui perkebunan warga. Di sana mereka bisa singgah pula di Maholo.

Jadi sepanjang November 2020 hingga Mei 2021, kelompok ini hanya bergerak di wilayah-wilayah itu saja.

Yang belum diketahui pasti, mengapa mereka menargetkan para pekebun di Kalemago. Apakah mereka adalah informan aparat keamanan atau mereka menolak memberikan bantuan kepada kelompok MIT yang dipimpin Qatar ini? ***