KEBIJAKAN Presiden Joe Biden kepada CIA untuk melakukan penyelidikan ulang terhadap asal usul virus Covid-19 yang arahnya ke dugaan bocornya Laboratorium di Wuhan, membuat Beijing berang.

Kemarahan Beijing ini seperti terulang kembali ketika setahun yang lalu, Presiden Donald Trump menuding Covid-19 adalah virus yang telah melarikan diri dari laboratorium di Wuhan, kota di China tempat virus itu pertama kali terdeteksi.

Saat itu Beijing yang marah atas klaim tersebut, menuduh Trump mencoba mengkambinghitamkan China karena kegagalannya sendiri untuk menahan wabah di dalam negeri karena bersamaan dengan meningkatnya jumlah korban covid di Amerika.

Minggu ini, laporan intelijen yang sebelumnya dirahasiakan muncul, mengklaim bahwa beberapa peneliti di Institut Virologi Wuhan jatuh sakit pada November 2019 dan harus dirawat di rumah sakit, seperti dilansir CNN, Jumat (28/5/2021).

Di bawah tekanan publik yang meningkat, Biden memerintahkan intelijen untuk mengintensifkan upayanya memeriksa kembali bagaimana virus itu berasal, termasuk kemungkinan muncul dari kecelakaan laboratorium.

Sekali lagi hal itu memicu kemarahan Beijing dan balik menyerang AS dan membuat kontra-konspirasi bahwa virus sebenarnya bermula di AS.

“AS sama sekali tidak peduli fakta atau kebenaran, juga tidak tertarik pada studi ilmiah yang serius tentang asal-usulnya. Satu-satunya tujuan AS adalah menggunakan pandemi untuk stigmatisasi dan manipulasi politik untuk mengalihkan kesalahan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian seperti ditulis Nectar Gan dan Jessie Yeung untuk CNN.

Zhao kemudian merujuk pada Fort Detrick, yaitu laboratorium penelitian biomedis Angkatan Darat AS di Maryland yang telah dituding tanpa bukti dengan munculnya virus oleh pejabat China dan outlet media pemerintah.

“Rahasia apa yang tersembunyi di Fort Detrick yang diselimuti kecurigaan dan di lebih dari 200 bio-lab AS di seluruh dunia?” ujar Zhao. Menurutnya AS berhutang penjelasan kepada dunia.

Teori Fort Detrick mulai muncul dalam laporan media pemerintah China akhir Maret lalu, bersamaan waktu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi Wuhan untuk memeriksa asal-usul virus. Teori itu kembali memperoleh daya tarik yang signifikan di China awal tahun ini.

Ketika penyelidikan itu selesai pada Februari, kementerian luar negeri China meminta AS untuk mengikuti teladannya untuk “bertindak dengan cara yang positif, berbasis sains, dan kooperatif” dan mengundang para pakar WHO untuk “melakukan studi penelusuran asal-usul.”

Pada bulan Maret, WHO merilis laporan penyelidikannya di China, menyimpulkan bahwa “sangat tidak mungkin” virus corona bocor dari laboratorium. Laporan tersebut menuai kritik dari pemerintah di seluruh dunia atas pertanyaan tentang transparansi.

Tetapi dari sudut pandang Beijing, ada sedikit alasan untuk menerima penyelidikan lain, tidak peduli seberapa keras Washington mendorongnya. ***