Kelompok sipil bersenjata yang menamai diri Mujahiddin Indonesia Timur saat ini telah terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Ali Kalora dan kelompok kedua dipimpin Qatar alias Farel alias Anas.

Seperti diketahui dari 9 orang anggota MIT, ada 4 orang Poso yakni Ali Kalora, Rukli, Suhardin alias Hasan Pranata dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang.

Sementara itu 4 orang lainnya yakni Qatar alias Farel alias Anas, Abu Alim alias Ambo, Nae alias Galuh dan Askar alias Jaid alias Pak Guru berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Adapun Jaka Ramadan alias Ikrima alias Rama berasal dari Banten.

Sumber intelijen membenarkan informasi bahwa empat anggota MIT asal Poso akan menyerah.

“Ali Kalora sudah tertembak. Ahmad Gazali dan Rukli dilaporkan dalam keadaan sakit. Mereka itu sudah mau turun kampung, mau menyerah. Jadi yang mau menyerah itu Ali Kalora, Rukli, Suhardin alias Hasan Pranata dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang, tapi mereka takut pada Qatar,” sebut sumber itu.

Kabarnya Qatar mengancam mereka. “Kalau kalian mau turun kampung menyerah, saya akan bunuh keluarga kalian,” demikian kata sumber itu menirukan Qatar.

Lelaki asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini memang dikenal garang. Ia mulai bergabung dengan MIT sejak masih dipimpin Santoso alias Abu Wardah yang tewas ditembak Satuan Tugas Operasi Tinombala pada 18 Juli 2016. Ia aktif dalam tadrib asykari atau pelatihan milisi yang digelar Santoso. Ia licin bak belut. Berkali-kali diburu, ia terus lolos. Ia adalah eksekutor utama dari sejumlah penyerangan.

Dua bulan lalu, ketika Ali Kalora menyatakan akan menyerah, Qatar yang justru menghalangi keinginannya. Ali kemudian tertembak pada kontal 22 Maret 2021 lalu.

Pengamat terorisme sekaligus Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones bahkan menyebut Qatar yang lebih berpengaruh dibanding Ali Kalora dalam tubuh MIT.

“Jangan lihat Ali Kalora sebagai pemimpin satu-satunya di kelompok itu sepeninggal Santoso. Ada pemimpin kedua yakni Qatar dari Bima yang sudah lama bergabung sejak Santoso masih hidup. Ia lebih kharismatik dari Ali Kalora,” sebut Sidney yang pernah lama menetap di Indonesia itu. ***